
Mereka berenam mengejar kapal itu dengan kecepatan kapal yang begitu kencang. Tania dibuat muntah dengan kapal yang semakin kencang melaju dilautan lepas itu.
Jangan ragukan keahlian Dave dalam mengemudikan kapal itu. Ia sudah terbiasa mengemudikan kapal begitu kencang. Mereka terus mengejar kapal yang sudah jauh dari mereka saat ini.
Butuh waktu dua jam juga untuk keluar dari pulau itu. Hingga waktu yang ditentukan sudah tiba yaitu dua jam, barulah mereka langsung turun dari kapal dengan Aldo dan Uwak Lana yang mengejar orang yang saat ini ingin menaiki mobil ditepi pelabuhan menunggu tiga orang pemuda yang tadi pergi dari pulau itu.
Jangan tanyakan keraguan Uwak Lana dalam mengejar targetnya. Ia seorang tentara. Pastilah sudah terlatih dalam mengejar musuh.
Uwak Lana bisa menangkap salah satu orang dari kapal itu. Sang supir ingin melajukan mobilnya, tetapi tertahan oleh anggota Dave yang sudah berdiri dengan senjata terarah kepada mereka bertiga.
Ketiga orang itu terpaksa turun dari mobil itu. Uwak Lana segera meninterogasi salah satu yang dikira orang yang telah membawa Ziana pergi.
Dave menatap tajam dan dingin pada ketiga orang Belanda asli itu. Ketiganya menciut melihat wajah Dave yang begitu dingin saat ini.
"Katakan!" Ucap Dave dengan tatapan tajam dan dinginnya yang membuat lawannya itu mendadak ciut.
Siapa yang tidak mengenal Dave? Pemuda tampan sebaya Uwak Lana merupakan seorang mantan polisi di kotanya. Polisi yang begitu ditakuti oleh semua kalangan perampok dan penjahat disana.
__ADS_1
Wataknya yang keras dan sifatnya yang begitu dingin terhadap lawannya membuat mereka tidak berani berkutik sedikitpun saat berada dihadapannya.
"Katakan dengan jujur!" Sentak Dave lagi yang membuat ketiga pemuda tanggung itu terjingkat kaget.
Ketiga saling lirik dan menunduk. Dave dibuat kesal dengan ketiga pecundang suruhan itu.
"Baik, jika kalian tidak mau mengatakannya, jangan salahkan saya jika nyawa salah satu dari keluarga kalian akan saya lenyapkan sebagai ganti kepala kalian yang tidak jadi saya penggal!"
Ddduuaarr!
Ketiga pemuda muda itu terlonjak mendengar ancaman Dave. Ketiganya serempak mendongak dan melihat Dave.
"Ba-baik. Ka-kami hanya orang suruhan yang ditugaskan untuk mencari seorang wanita hamil dan.. dan.. I-itu orangnya!" tunjuk salah satu orang itu pada Kendra yang kini terkejut karena ucapan salah satu pemuda itu.
Dave mengernyitkan dahinya. "Maksud kamu, pemuda yang berdiri dengan istrinya itu?"
Pemuda itu mengangguk. "Ya, itu orangnya! Kami ditugaskan untuk membawa pemuda itu beserta wanita hamil bersamanya. Tetapi bukan wanita itu!" katanya lagi pada Dave sembari menunjuk Tania yang kini berdiri dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Tania berjalan mendekat dan mengeluarkan ponselnya. "Apakah ini wanita hamil itu?" Tanya Tania sambil menunjukkan foto Ziana di galeri ponselnya.
Pemuda itu mengangguk. "Ya, wanita inilah yang kami cari. Kami disuruh untuk membawanya pada seorang pemuda paruh baya yang saat ini menunggu kami di ujung jalan sana. Dia berasal dari Indonesia. Dia menyuruh kami untuk membawa wanita itu dalam keadaan selamat beserta lelaki itu!" tunjuknya lagi pada Kendra yang kini menatapnya dengan raut wajah datar dan tak terbaca.
Tania mengangguk setuju. "Oke. Uncle Dave. Lepaskan mereka! Aku tahu siapa yang menyuruh mereka. Jika benar Ziana sudah tidak disini, lantas kemana adikku itu? Kenapa mereka menunjuk bang Kendra? Apa maksudnya ini?" Ucap Tania pada Dave yang kini menghela napas panjang.
"Seperti yang kita duga selama ini. Bahwa Ziana tidaklah sendiri dipulau itu. Ada seorang pemuda yang mirip suami kamu, atau mungkin adik suami kamu yang sengaja melindungi Ziana dari orang yang ingin menculiknya. Untuk masalah kebakaran pulau itu pastilah ulah mereka ini. Apa itu benar? Kalian yang membakar pondok itu? Tanya Dave dengan bahasa Inggris pada ketiga pemuda itu.
Pemuda itu menunduk. "Maafkan kami, Tuan. Kami hanya disuruh. Kami butuh uang untuk keluarga kami," jawabnya sambil menunduk.
Tania menghela napasnya dan mendekati Uwak Lana yang kini menatap ketiga pemuda itu dengan tatapan kosongnya.
"Sabar Wak. Kemanapun Ziana pergi, pastilah meninggalkan jejak untuk kita. Kakak yakin, Ziana bersama orang yang aman saat ini." Ucap Tania sembari melirik Kendra yang kini juga meliriknya dengan wajah datar plus dinginnya.
Uwak Lana hanya mengangguk saja. Dave segera menghubungi pihak bandara. Ia ingin tahu tentang keberangkatan hari ini dan dua hari kebelakang.
Salah satu teman Dave yang bekerja dibagian bandara mengatakan jika ada dua orang Indonesia seperti ciri-ciri yang Dave berikan padanya berangkat kemarin siang. Pesawat itu menuju Indonseia pukul 6.30 pagi kemarin.
__ADS_1
Tania menghela napas panjang mengingat Ziana sudah tidak ada lagi di Belanda. Malah sudah kembali ke indonseia. Tetapi dimana?