
Pagi harinya.
Setelah bertempur dengan kejadian yang tidak mengenakkan tadi malam, Dzaki keluar dari kamranya langsung menuju ke dapur untuk mengambil makan buatnya dan istrinya. Ia tahu, rumah itu sudah ramai sedari subuh. Hanya dirinya saja yang tidak ikut bergabung mengingat Riana dalam keadaan yang masih memprihatinkan.
Setelah penyatuan itu tadi malam, Riana sempat histeris lagi. Dzaki segera menennagkannya dnegan cara memeluk istrinya itu. Sungguh berat ujian Dzaki saat ini. Ia harus membuat istrinya nyaman di dekatnya dna tidak merasakan sakit.
Inilah yang ia khawatirkan jika Riana menikah dnegan pemuda lain. Tetapi, tidak. Seolah takdir tahu, jika hanya Dzaki yang bisa melindungi dna menyembuhnkan Riana. Ia menikah dnegan Riana dan sah menjadi istrinya.
Dzaki melnagkah turun melalui lift langsung turun ke dapur. Tiba di sana, semuanya sudah berkumpul dan sednag emnunggu dirinya. Dzaki tidak peduli dengan tatapan seua orang. Baginya, mengambil makan satu piring alam porsi jumbo untuk diriny dan Riana.
Kiana yang melihat itu merasa khawatir.
"Bang!" panggilnya yang membuat Dzaki menoleh sekilas padanya.
"Kakakmu ada. Ia tidak ingin turun, sebab magnya kambuh. Jadi, abang sengaja turun untuk mengambilnya. Kalau kalian ingin menjenguknya, boleh saja. Tetapi, setelah kami makan!" jawabnya dengan segera berlalu dan mulai menaiki lift lagi untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Mami Tania menatap Kiana yang semakin merasa gelisah. "Ada apa? Kenapa kamu begitu khawatir? Apakah ada hal yang tidak beres dengan kakakmu, Nak?' tanya mmai Tania yang membuat smeua orang melihat padanya saat ini.
Dzaka memegang tang istrinya yang semakin gelisah ia yang paham, mengambil sepiring nasi dalam porsi jumbo untuk keduanya makan di kamar Dzaki.Dzaka tahu kecemasan istrinya itu. Sangat terlihat jelas.
"Ayo, kita ke atas untuk melihat Riana. Untuk yang lainnya, bisa menyusul setelah sarapan!" ucap Dzaka yang segera menuntun istrinya untuk menaiki lift. Sebelumnya, ia memberikan botol minuman pada Kiana untuk ia pegang.
__ADS_1
Sementara dirinya, memegang botol susu hangat untuk di bawa ke lantai atas. Keluarga mengangguk setuju mendnegar ucapan Dzaka.
Kedua pengantin baru itu pun segera mengetuk pintu kamar Riana.
"Kak, ini aku, Kiana! Boleh kami, masuk?" tanya Kiana dengan perasaan yang sudah tidak menentu.
Ia tahu ada dengan kakaknya itu. Pintu terbuka dari dalam yang menunjukkan wajah Dzaki tersenyum pada keduanya.
"Masuklah, kami sednag makan saat ini." Jawab Dzaki yang segera di terobos masuk oleh Kiana.
Kiana segera memeluk kakaknya yang kini berwajah pucat dna menagis ketika melihatnya itu. Kiana mengurai pelukannya.
"Kakak sudah minum obat?" tanya Kiana yang diangguki oleh riana
Dzaki keheranan tetapi, ia tetap menyuapi Riana sarapan pagi. Kiana berlari cepat turun menuju ke kamarnya. Tiba di sana, ia mengambil sesutu yang ia bawa setiap kali bepergian jauh. Dzaka menatap lekat istrinya itu. Ingin beratnya, belum waktunya. Kiana masih dalam keadaan panik.
Rasa sakit di pusat tubuhnya akibat penyatuan tadi malam tidka Kiana hiraukan. Yang terpenting, kakaknya saat ini. Drinya snagat tahu jika Riana mengalami apa saat ini.
Kiana berlari lagi menuju ke lantao atas menggunakan lift. Setibanya di sana, Kiana segera memeriksakan Riana dan bertanya.
"apakah kakak masih mengingat kejadian delapan tahun sialm saat aklian berdua melkauakn penyatuan?"
__ADS_1
Deg.
Deg.
Dzaka dan Dzaki terkesiap mendengar ucapan Kiana.
"sayang!" tegur Dzaka
"Diam dulu, Abang! Aku sednag bekerja!" tegas Kiana yang membuat Dzaka terdiam seketika.
Dzaki mendekati riana dan naik ke ranjangnya. Ia mengusap kepala Riana yang tertunduk dna tubuh bergetr.
"Ya, kakak takut. Kakak takut m-melihat p-pemuda i-itu, padahal i-itu b-bang Dzaki!" sahut Riana sekuat tenaga bisa berbicara dnegan adiknya.
Kiana menghela napsnya. "Lihat aku, Kakak!" titahnya pada Riana yang spontan saja melihat adiknya itu dengan aira mata berderai.
Kiana tersenyum. "Apakah kakak mersakan perbedaannya? Apa yang Kakak rasakan psa saat kalian bersatu untuk pertama kalinya? Rasa takut? Atu rasa menyennagkan?"
Dzaka melotot lagi mendnengar ucapan Kiana. Dzaki menatap lekta wajah istrinya. Ia ingin tahu, apa jawaban Riana tentang hal itu. Dzaki mersa heran, kenapa Kiana bisa tau tentang hal itu. Apakah dokter yang menangani Riana selama ini adalah Kiana? Adiknya sendiri?
Tetapi, darimana Kiana tahu? Apakah Riana menceritakan traumanya itu padanya? Banyak pertanyaan yang ingin Dzaki ajukan. Akan tetapi, melihat Kian ayang sednga fokus menangani istrinya, membuat Dzaki mengurungkan niatnya untuk bertanya.
__ADS_1
Ia akan bertanya setelah Kiana selesai melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.
Maaf, typo bertaburan! Nanti, othor revisi!