
"Abang sih yang nggak ngomong! Makanya aku jadi menerka dan menuduhnya yang tidak-tidak? Belum lagi Kendra yang berani menikahi Ziana, adik sepupu istrinya!" Ketus mami Annisa kembali kesal mengingat jika sang menantu sudah menduakan putri sulungnya.
Istri sah Kendra baik agama maupun hukum.
Papi Tama menghela napas nya. "Itu bukan salah Kendra, Sayang. Semua itu terpaksa ia lakukan demi bisa melindungi Tania dan juga keluarga kita dari serangan paman nya itu," ujar papi Tama yang di pelototi oleh mami Annisa.
"Mulai.. Bela terus menantu kamu yang suka poligami itu!" ketusnya lagi.
"Bukan hanya Kendra, Sayang. Tapi Kevin juga."
Deg!
Mami Annisa menoleh lagi pada papi Tama, "Hoo.. Jadi menantu kamu itu menurun dari sifat abi nya begitu?? Kenapa? Apa kasus nya sama seperti Kendra? Demi melindungi Mutia, makanya berbagi burung begitu?!" ketusnya yang lagi dan lagi membuat papi Tama terkekeh hingga berulang kali.
"Bukan Sayang! Kevin dan Kendra beda kasus nya! Kendra terpaksa. Sedang Kevin di jebak oleh saudara nya sendiri. Tapi wanita itu sudah tiada kini. Ia sudah meninggal saat Kendra terlahir ke dunia. Putranya pun ikut meninggal juga. Padahal jika putra sulung Kevin dengan istri keduanya itu hidup, pastilah Kendra memiliki adik saat ini. Mutia istri pertama sedangkan Rosita, istri kedua yang dijebak oleh Kevan dengan obat haram hingga tanpa sengaja kedunya melakukan perbuatan terlarang yang dilarang oleh agama kita.
Hal itu sempat di ketahui oleh kakek Kendaraksa. Makanya Kevin dinikahkan secara siri olehnya. Berbeda dengan Mutia yang saat itu sedang mengandung Kendra yang merupakan istri sah hukum dan agama Kevin.
Kevin sempat stress menghadapi Mutia yang tidak ingin bertemu dan melihatnya. Lantaran Mutia mengira jika dirinya selingkuh. Padahal tidak.
__ADS_1
Hal yang sampai saat ini belum Mutia tahu sama sekali. Yang Mutia tahu, jika Kevin menikah karena selingkuh." Jelas papi Tama yang membuat mami Annisa tertegun.
"Jika memang seperti itu, kenapa Mutia kembali bersama Kevin? Bukankah ia sangat marah kepada suaminya itu? Terus, kenapa saat ini ia berbaik hati menerima Kevin lagi?"
Papi Tama menatap nanar pada kaca pesawat yang terbuka itu. "Pasti ada satu rahasia kenapa dirinya bisa menerima Kevin. Dan pertukaran posisi ini pun Mutia pastilah tahu. Mustahil Mutia tidak tahu. Bahkan ketika suaminya di jebak pun ia tahu?"
"Heh? Kok bisa?" tanya mami Annisa semakin kebingungan sambil menatap lekat wajah tampan sang suami yang kini sudah paruh baya itu.
"Hemm.. Abang nggak tahu, Sayang. Kevin hanya ngasi tahu nya sampai disitu aja. Setelahnya kami putus kontak hingga saat ini. Dan baru tadi Abang tahu, jika itu Kevan. Bukan Kevin!" Jawabnya pada mami Annisa yang kini semakin bingung dengan penjelasan papi Tama.
Jika ummi Mutia tahu suaminya dijebak, lantas kenapa dia marah? Apakah ini bagian dari skenario dirinya dan Kevin?
Sementara Kevan tidak tahu jika Mutia sudah tahu? Kenapa semakin rumit dan membingungkan? Pikir mami Annisa yang masih menatap lekat pada papi Tama.
Papi Tama menggeleng, "Nggak tahu, Yang. Kevin nggak ngomong sampai ke situ sama Abang. Tapi Abang yakin, jika keduanya pasti sudah memiliki rencana dibalik semua itu. Jika kita ingin tahu, lebih baik kita temui Mutia dan bertanya padanya. Hanya dia kunci dari permasalahan yang timbul saat ini." Ujar papi Tama yang diangguki oleh mami Annisa.
Keduanya kembali terdiam sampai pesawat mengatakan jika mereka akan segera mendarat di bandara kuala Namu Medan.
Ketiganya segera keluar dan pulang menuju ke kediamannya. Mami Annisa berencana ingin membuat makanan untuk menantu nya itu dan mengantarnya ke tempat persembunyian mereka melalui Aldo, asisten Kendra.
__ADS_1
Cukup dua jam saja mereka istirahat. Sore harinya setelah sholat ashar, ketiganya langsung menuju lokasi yang sudah Ziana kirimkan.
Atas izin dari Aldo tentunya. Walau sedikit kesal, Aldo menuruti juga permintaan mertua Kendra itu.
Tiba disana, Kendra yang dipapah Aldo segera menemui mami Annisa dan papi Tama. Kendra menatap berbinar rantang makanan yang dibawa oleh mami Annisa.
Ia sampai menangis saking rindunya dengan masakan Tania yang membuat mami Annisa jadi iba melihatnya.
Bagaimana pun ia tahu rasanya ngidam itu seperti apa. Sambil sesekali sesegukan yang terlihat lucu dimata kedua mertuanya itu, Kendra melahap habis makanan dari mami Annisa itu.
Mami Annisa tersenyum melihat Kendra yang makan makanan nya dengan lahap. Ziana meminta sedikit saja tidak di izinkan olehnya, sampai istri keduanya itu merengut kesal padanya.
Kendra tidak peduli. Baginya makanan mami Annisa. Makanan itu sama dengan masakan Tania. Sangat nikmat di lidahnya yang memang selama dua bulan ini tidak ingin makan makanan apapun selain makanan buatan Tania.
Ia hanya makan sedikit setiap harinya saking tidak inginnya makan makanan yang diberikan Aldo.
Melihat Kendra seperti itu, mami Annisa jadi yakin. Jika Kendra sedang mengidam saat ini. Hal yang belum di ketahui oleh siapa pun termasuk Tania sendiri. Mungkin.
Entahlah sudah tahu atau belum, mami Annisa pun tidak tahu hal itu. Yang jelas, dari Kendra saja ia sudah tahu dan jelas melihat jika Kendra pasti sedang mengalami Couvade Syndrom atau kehamilan simpatik.
__ADS_1
Dimana suami yang memiliki ikatan batin begitu kuat dengan istrinya hingga ia pun ikut merasakan hal yang saat ini istrinya rasakan.
Dua lagi nyusul ye?