
Tania menepuk gemas dada Kendra. Tak lama setelahnya ia sadar saat Kendra meringis. Tania jadi panik sendiri.
"Maaf bang! Maaf, maaf. Aku nggak sengaja! Tidak terpikir olehku, jika tubuhmu butuh banyak nutrisi! Biar nggak kurus!" ketus Tania mendadak sewot dan dengan cepat turun dari pangkuan Kendra.
Kendra yang sedang meringis kembali tertawa. "Kalau Abang kurus, masih bisa dibuat berisi Hunny. Yang gawat itu, kalau Abang gemuk, gimana cara nuruninnya? Jangankan tubuh abang, bahkan celana abang pun nggak akan muat nantinya!" seloroh Kendra yang ditertawakan oleh ke empat paruh baya yang kini sedang memantau keadaan mereka melaui cctv diruangan kontrol rumah sakit.
Tania berdecak kesal padanya. "Iya! Saking kurusnya, celana kamu pun harus dikaitkan dengan peniti! Kurus apaan begitu!" ketus Tania lagi dengan tangan sibuk mengeluarkan gunting, alat pencukur, plastik hitam dan juga segala macam perlengkapan wajah.
Kendra tertawa lagi mendengar ucapan ketus Tania padanya. "Tak apa sekarang kurus. Sebentar lagi, abang akan pulih kembali. Bukankah obatnya saat ini sudah kembali? Hem?" godanya pada Tania dan memeluknya dari belakang.
Tania menghela napas kasar.
"Tapi Abang itu terlalu kurus! Gimana ceritanya gendong si kembar kalau begini? Lihat tubuh Abang tidak seimbang dengan anak kita! Keduanya itu gemuk loh.. Sanggup Abang menggendongnya saat keduanya meminta gendong pada Abi nya?" ketusnya lagi.
Kendra terkekeh di belakang tubuh Tania. Ia menggerakkan tangannya menuju buah sintal yang tadi terasa lain di dadanya.
Mata Tania melotot saat menyadari tangan Kendra sudah berada dibuah melon miliknya. "Abang! Ish! Mesyum!" ketus Tania sembari menggeplak tangan nakal Kendra yang kini tertawa lagi dan semakin gencar melakukan aksinya.
"Habisnya, ini berasa asing gitu loh.. Kalau dulu pas digenggaman, kalau sekarang kenapa meluber?"
Tania mendengkus. "Awas ih!" katanya sambil menepuk tangan Kendra yang kini tertawa. "Ya meluber lah! Kan aku baru saja selesai menyusui? Belum lagi keduanya baru aja selesai? Tubuhku yang gemuk membuat perubahan juga pada nya!" jawab Tania masih ketus.
Dan itu sangat menggelitik hati Kendra. Ia duduk berhadapan dengan Tania yang kini sedang membersihkan jambangnya menggunakan pencukur rambut.
__ADS_1
Mata Kendra melotot saat pencukur itu menjelajahi pipinya yang hanya tinggal tulang dan kulit saja.
Tania menatapnya dengan malas. "Apa! Sakit?" tanyanya yang diangguki oleh Kendra.
Tania mendengkus lagi, Kendra tersenyum. "Makanya! Kalau kehilangan istri, jangan sampai kesehatan pun ikut pergi! Seharusnya itu, kamu sehat agar bisa mencariku! Bukannya terkurung di dalam rumah sakit dan dianggap gila!" ketus Tania lagi.
Kendra menatapnya dengan raut wajah sendu. "Kamu lupa Hunny?"
Deg!
Tania menatap Kendra.
"Kamu lupa dengan perkataan abang dulu. Jika sampai kamu pergi dan menghilang, maka inilah yang terjadi. Hidupku hancur! Suram! Tubuhku tak berdaya saat Paman Kevan menujukkan bukti kecelakaanmu yang entah darimana ia dapatkan. Bukti rekaman yang pernah Abang saksikan melalui layar ponsel saat kita berbicara sebelum kamu kecelakaan setelah itu Abang tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Kamu lupa dengan itu Hunny. Kamu lupa! Jika seandainya kamu mengingatnya, pastilah kamu tidak akan mengatakan hal seperti ini.." lirih Kendra dengan wajah sendunya.
Deg!
Kendra menghela npasnya. "Aku bukan tidak memiliki Tuhan. Aku sadar, jika kehilanganmu itu sikapku yang terlalu berlebihan. Tetapi bukan hal itu yang membuat hati dan pikiranku tertekan Hunny!"
Tania menatap Kendra lagi. "Lantas apa?"
"Kehilanganmu dan Ziana yang membuat hati ini merasa bersalah. Kalian berdua hilang setelah mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan. Kamu dan Ziana, kalian berdua itu masihlah istriku! Hingga saat ini. Aku tertekan karena rasa bersalahku pada diriku sendiri yang tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang dari kalian berdua. Asal kamu tahu, Hunny. Ziana sudah ternoda. Ternoda karena ulah paman ku sendiri.."
__ADS_1
Deg!
"Aku gagal bisa menyelamatkannya. Hingga saat ini aku tidak tahu keberadaannya dimana. Kamu pikir, aku bisa hidup dengan tenang? Setelah semua kejadian beruntun ini menimpaku? Bukan aku tidak memiliki Tuhan. Aku memilikinya! Karena Dia lah aku kembali sehat dan sadar kembali saat Om Kenan dan Tante Bella mengatakan jika kamu masih hidup hingga saat ini. Walau aku sulit mempercayainya, aku tetap yakin. Jika kamu dan Ziana masihlah hidup!
Aku tertekan karena merasa bersalah. Bagi kalian yang tidak merasakannya, mudah untuk bebicara. Sekarang abang tanya. Ketika kamu sadar dari koma, siapa yang kamu cari lebih dulu? Apa yang kamu rasakan saat itu? Apa yang kamu rasakan ketika orang yang kamu butuhkan ternyata tidak ada di sisimu?"
Tania tertegun mendengar ucapan Kendra. "Jika ia mati dihadapan kita, tidak masalah. Itu takdirullah namanya. Tapi ini? Kalian dipaksa pergi dariku karena harta! Harta yang sama sekali tidak aku inginkan!"
Deg!
"Harta yang tidak aku butuhkan karena yang aku butuhkan itu kalian berdua sehat dan selamat. Tetapi apa? Kamu dinyatakan tewas dalam kecelakaan. Sedang Ziana sudah dinodai, malah ia dibuang ke laut? Kamu sanggup jika mengalami hal seperti abang, Hunny?"
Deg!
Mata Tania menggenang. "Abang nggak sanggup Hunny! Abang tidak bisa menerima kepergian kalian yang begitu mendadak. Oke, jika tentang kamu. Lalu, bagaimana dengan Ziana? Abang sudah berjanji padanya. Saat kamu ditemukan hidup atau mati, Abang akan melepaskannya dalam keadaan suci. Tetapi apa yang abang dapatkan?"
Tania terisak. "Ziana ternoda karena menikah denganku! Ziana rusak karena ulahku yang tidak bisa melindunginya! Kamu pikir Abang bisa menghadapinya seorang diri Hunny?!"
Tania tersedu.
"Abang butuh kamu disaat seperti itu. Tetapi kamu? Malah menghilang bagai ditelan bumi! Kepada siapa hati ini harus membagi rasa sakit ini? Hem? Kamu pikir abang, Nabi? Yang mampu menahan rasa sakit saat kesakitan itu menghantam seluruh tubuh termasuk jiwa dan pikiranku??"
Tania segera memeluk Kendra yang dibalas peluk olehnya.
__ADS_1
"Nggak Hunny! Abang nggak sanggup! Abang mampu bertahan karena cintamu! Karena Abang yakin, bahwa kamu suatu saat nanti kamu pasti akan kembali seperti dulu lagi saat abang juga berada dirumah sakit!"
Tania semakin tersedu dipelukan Kendra. Kendra membalas pelukan Tania tak kalah eratnya.