
Lain Zayn lain pula degan Zayden. Ia sedang gencar-gencarnya menggoda Riya saat ini. Zayden sangat suka melihat pipi merona milik Riya yang terlihat seperti tomat masak itu.
Jika Zayn hanya mengecup saja dahi istrinya, berbeda dengan Zayden yang terus menerus menghujani istrinya dengan cum buannya yang membuat tubuh Riya lemas bagai tak bertulang.
Wajahnya kian merona kala bisikan halus di telinganya terus saja bergaung. Zayden terus mengungkapkan kata cinta pada istrinya sembari mencuri kecupan-kecupan di seluruh wajah Riya termasuk putik ranumnya yang kini sedikit membengkak akibat dari ******* yang Zayden berikan padanya.
Zayden lelaki normal. Ia juga ingin menyentuh istrinya saat ini. Tetapi itu tidak mungkin. Ia terikat janji yang membuatnya tidak bisa menyentuh dengan leluasa istrinya itu.
Zayden hanya bisa bermanja-manja saja di tubuh istrinya. Tidak lebih. Walau sulit, tak apa. Asal jangan keblablasan, pikirnya.
Zayden terus memandangi wajah Riya yang kini sudah terlelap. Jangan lupakan tubuh keduanya yang hanya satu selimut saja tanpa sehelai benang pun. Zayden ingin mengekspresikan rasa itu pada yang halal. Yaitu Riya.
Ia tersenyum saat pertama kali membuat Riya melayang. sedang dirinya harus di tuntaskan dengan cara lain. Masih teringat olehnya, saat riya tadi hampir menjerit karena terkejut melihat pusakanya yang mengacung dna sedikit bengkok itu.
Zayden terkikik geli saat melihat wajah Riya kebingungan sekaligus takut melihat benda miliknya itu.
"Kamu sudah halal untuk melihat dan menyentuhnya! Kenapa pula kamu takut kayak begitu? Abang tidak akan menggigitmu, Sayang!" katanya tadi pada Riya.
Riya yang ketakutan sampai pucat bibirnya. Ia yang baru tahu akan senjata tempur lelaki dewasa seperti apa, membuatnya shock setengah mati. Zayden terus berusaha membuat Riya tenang dengan setiap ucapan dan perbuatannya. Hingga terjadilah seperti apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Keduanya sama-sama mendapatkan pelepasan pertama dengan cara yang lain. Tidak menyatu. Karena itu di larang oleh kedua orang tua mereka.
Zayden jadi ketagihan untuk merasakannya lagi. Tetapi, untuk saat ini, ia hanya bisa pasrah. Sebab Riya, tumbang karena ulahnya. Riya mengalami hingga beberapa kali pelepasan pertamanya yang membuat Zayden puas melihat istrinya itu. Riya yang sudah lelah segera terlelap. Tinggallah ia yang kini terus menatap pada sang istri yang kini sudah terlelap itu.
Puas dengan memandangi Riya, ia pun mengikuti istrinya yang sudah lebih dulu terlelap.
Ke esokan paginya.
Riya dan Jia sudah bangun dan berkutat di dapur setelah selesai sholat subuh. Jia yang masih mengantuk membuat pekerjaannya jadi tidak konsen.
"Kamu kenapa, Dek? Yang kayak kurang tidur, sih? Udah sahur 'kan?" tanya Riya pada Jia yang kini menelungkupkan wajahnya meja makan panjang itu.
Keduanya pun mulai berkutat dengan panci dan wajan di dapur itu. Sedangkan Zayn dan Zayden saat ini keduanya sengaja melipir jauh dari para orangtua. Keduanya jalan belakangan. Karena Zayden, ada yang harus ia tanyakan pada saudara kembarnya itu.
"Bang!"
"Hem," jawab Zayn sambil terus berjalan perlahan.
"Berhasil tidak?" tanya Zayden pada Zayn yang kini menoleh padanya. Zayden tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Zayn menghela napas berat. Tak lama, pipinya panas dan merona. Zayden yang melihat itu tertawa terbahak. Para orangtua melihati keduanya tetapi, tidak berhenti. Mereka semua tetap melanjutkan jalannya sambil terkekeh melihat tingkah pengantin baru itu.
"Jangan bilang, Abang udah jebol tanggul Jia?" terkanya yang membuat Zayn menepuk kuat lengan adiknya itu. Zayden tertawa lagi.
"Nggak gitu, Zayden! Abang nggak buka tanggul. Hanya saja," pipinya kembali merona mengingat tengah malam tadi ia sempat mengganggu waktu tidur Jia yang membuat istri kecilnya itu shock bukan main.
Bagaimana tidak, Zayn terpaksa harus membangunkan Jia saat ular pyton miliknya tiba-tiba menggelembung dan ingin meminta di elus kepalanya. Jia yang baru pertama kali melihat benda pusaka lelaki dewasa hampir saja berteriak.
Tetapi, Zayn membungkamnya dengan ciuman pertama mereka yang membuat Jia malu bukan main. Keduanya tidak melakukan hubungan yang seharusnya. Tetapi Zayn mengajarkan cara lain agar keduanya bisa terpuaskan. Zayn yang candu, kembali ingin merasakannya hingga Jia hampir kesiangan sahurnya. Jia sangat mengantuk pastinya.
Zayden yang mendengar cerita abangnya itu kembali tertawa terbahak. Zayn sangat malu pada adiknya itu. Tetapi, ia tidak sendirian. Zayden pun demikian.
"Kita senaseb, bang! Aku pun begitu! Jebol tanggul tidak bisa. Jadi, ya.. Terpaksa dengan cara lain? Yang penting kita kan udah tahu seperti apa rasanya?" Zayden tertawa lagi saat abangnya itu kembali meninju lengannya.
"Dasar Omes!" umpat Zayn yang juga tertawa menertawakan saudaranya itu.
"Abang pun sama! Bukankah kita bersama sudah pernah melihat yang begituan? Live lagi! Astaghfirullah!" ucap Zayden keceplosan.
Zayn tertawa melihat wajah memerah adiknya itu. Keduanya tertawa bersama sambil terus berjalan hingga menuju ke rumah mereka. Para orangtua terkekeh melihat kekompakan kedua saudara kembar itu.
__ADS_1
Done, ye? Lima bab euuy!