Princess Pratama

Princess Pratama
S2 Dua Pangeran Buruk Rupa


__ADS_3

Mami Tania melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tiba di sana, tangan halus yang selalu menimang si kembar itu segera mengambil poselnya. Ia menghubungi orang kepercayannya dan bertanya tentang kejadian saat di kampus si sulung. Ia meminta orang itu untuk menyelidikinya. Dan juga tentang gadis itu.


Mami Tania menyudahi bicaranya dengan suruhannya itu. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Jika sampai kamu sengaja menjatuhkan martabat kedua putraku, maka jangan salah aku! Aku akan menghancurkan keluargamu hingga ke akar-akarnya!" gumamnya sambil menggenggam ponselnya begitu erat.


Abi Kendra yang baru saja masuk itu tertegun dengan ucapan ratunya itu. Ia melangkah masuk dan memeluk tubuh yang selalu ia rindui jika dirinya sednag bertugas.


"Apa yang kamu rencakan? Tidak bisakah kamu membaginya dengan suami gilamu ini?"


Deg


Mami Tania yang sedang memejamkan matanya meresapi rasa nyaman dan hangat dari pelukan suaminya itu segera membuka matanya kembali. Ia segera berbalik dan melihat pada cintanya itu.


"Sudah berapa kali aku katakan! Abang itu tidak gila! Abang itu sakit! Masih kurang jelas juga?!" gerutunya kesal pada Abi Kendra yang kini terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.


Mami Tania mencebik melihat suaminya yang semakin tampan di umurnya yang sudah memasuki usia matangnya.


"Kok, marah? Kan yang abang katakan itu benar adanya??" tanya Abi Kendra pada mami Tania yang kini semakin kesal melihat padanya.


"Nggak! Kamu nggak gila! Kamu itu sakit! Sakit, ya! Bukan gila! Paham?" balasnya begitu menekankan setiap kata-katanya itu.

__ADS_1


Abi Kendra mengikutinya duduk di tepi ranjang king size mereka berdua. "Tetapi, kenyataan yang sebenarnya memang seperti itu, Hunny. Suami kamu ini pernah gila dan masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Abang sembuh karena kamu, lupa?" ucapnya mengingatkan mami Tania yang kini kembali mencebikkan bibirnya karena kesal pada ucapan yang memang benar adanya itu.


Abi Kendra selalu sadar diri dengan keadaannya. Bahkan ia sudah menceritakan penyakitnya itu kepada kelima buah hatinya. Tetapi, apa yang ia dapatkan?


Tanggapan si kembar untuknya sungguh luar biasa. Kelima buah hatinya itu memeluk sang abi sambil menangis haru. Ternyata perjuangan cinta sang Abi dan maminya begitu sulit. Mami Tania pergi, Abi Kendra menjadi gila lantaran rasa bersalahnya yang tiada berkesudahan.


Abi Kendra juga berpesan kepada mereka berlima agar jangan menuruti kelakuannya dulu saat memilih keputusan yang salah. Abi kendra tidak malu menceritakan hal di masa lalunya. Ia bahkan memberi pelajaran kepada buah hatinya agar kelak tidak memilih jalan yang sama sepertinya.


Bukan maksud hati ingin merendahkan orangtua dengan kita berbicara jujur kepada anak kita. Tetapi, ini harus di lakukan agar si anak tidak sakit hati saat mendengar kenyataan pahit yang pernah orangtuanya alami.


Mungkin, sebagian anak akan menghujat, bahkan membenci kelakuan orangtuanya. Namun, percayalah. Bahwa di dalam hati sang anak, terbesit rasa untuk meminta dan memohon ampun kepada Allah untuk kesalahan yang orantuanya perbuat.


Malu? Jelaslah malu Karena itu merupakan aib kita sebagai orangtua. Akan tetapi, sekali lagi kita mengingatkan mereka itu hukumnya wajib! Wajib memberikan arahan yang baik untuk masa depan mereka kelak. Agar apapun yang mereka perbuat ke depannya, mereka sudah memiliki komitmen dan keputusannya sendiri karena masa lalu sang ayah yang ayahnya ceritakan.


Dirinya bahkan lebih buruk dari kelakuan anaknya itu. Dan ingatlah. Seorang anak akan kecewa saat mengetahui keburukan orangtuanya itu dari orang lain. Bukan dari mulut orangtuanya sendiri. Ini pengalaman othor ye?


Kita kembali pada Tania.


"Tetapi, bukan berarti kamu merendahkan harga dirimu di hadapan anak kita, Bang! Tidakkah kamu tahu, bahwa apa yang kamu katakan itu akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri?" balas mami Tania semakin kesal pada Abi Kendra.


Abi Kendra malah tersenyum mendengar ucapan mami Tania yang begitu kesal padanya kini.

__ADS_1


"Nggak akan, Hunny. Kalau pun terjadi, semua itu sudah menjadi suratan takdir! Ingat, hidup kita ini milik Allah. Segala sesuatunya termasuk ujian hidup tidak akan lepas dari kita. Termasuk juga yang saat ini Abang katakan. Kenapa harus malu jika itu memang benar adanya. Masa lalu itu ada untuk menjadi pelajaran Hunny. Itu yang Abang katakan pada anak-anak kita," ujarnya menjelaskan pada mami Tania yang kini melengos marah dan melihat ke arah lain.


"Terserah Abang! Jika suatu saat itu terjadi pada anak kita, aku harap Abang tidak menyesal! Karena sudah berani membuka aib diri sendiri yang penyakitan!" ketusnya semakin kesal saja.


Wajah masam dan juteknya itu begitu jelas terlihat. Membuat Abi Kendra tertawa di buatnya.


"Nggak akan Hunny. Abang yakinkan itu padamu. Sudah, lupakan masalah itu dulu. Ada yang lebih penting lai. Masalah ini tentang kedua putra sulung kita," ucapnya begitu serius.


Mami Tania yang tadinya malas menatap padanya kini beralih menoleh pada cintanya itu.


"Kenapa dengan si sulung? Tentang masalah tadi? Abang tenang saja. Semua itu sudah aku bereskan!" balas mami Annisa yang membuat Abi Kendra menggeleng. "Terus?" tanya mami Tania lagi semakin penasaran dengan apa yang akan suaminya itu katakan selanjutnya.


"Abang ingin membuat si sulung menjadi buruk rupa!"


Deg


"Apa? Buruk rupa? Untuk apa? Putra kita itu sangat tampan, loh. Mirip sama kamu Bang Kendra!" seru mami Tania begitu terkejut dengan ucapan suaminya itu yang ingin mengubah si sulung menjadi buruk rupa.


"Ini harus Hunny! Ini demi kebaikan mereka berdua!" ucap Abi Kendra lagi masih keukeuh dengan keinginannya.


"Untuk apa, Bang? Kamu ini! Punya ide, kok, ingin merusak wajah tampan putra kita, sih?" gerutunya tak terima dengan ucapan Abi Kendra tentang si sulung.

__ADS_1


"Bukan merusak, Hunny. Tetapi, menyembunyikan! Abang mau mengubah wajah mereka menjadi buruk dan buluk. Agar tidak ada gadis bi nal lagi yang sengaja ingin menjebak kedua putra kita! Tidak sadarkah kamu, paras tampan yang di miliki putra kita merupakan bumerang bagi dirinya sendiri?" tanya Abi Kendra pada mami Tania yang kini tertegun karena ucapan suaminya itu.


"Kamu masih ingat kejadian dua tahun yang lalu? Bukankah Zayn dan Zayden juga mengalami hal yang sama? Putra kita itu penurut dan sangat ramah kepada siapa saja, Hunny. Keduanya itu surga kita kelak. Dari sekarang saja, abang bisa melihat kelakuan keduanya yang begitu baik dan tulus pada semua orang. Tanpa ia beda-bedakan sedikit pun. Putra kita istimewa, Hunny. Makanya abang ingin keduanya harus kita ubah menjadi Pangeran buruk rupa!" ujar Abi Kendra lagi yang semakin membuat mami Tania tercenung dengan ucapan suaminya yang memang benar adanya itu.


__ADS_2