
Kendra meraung-raung setelah mendengar penjelasan papi Tama. Dimana Tania memang sudah meninggal dunia sejak kecelakaan terjadi. Tania sempat hilang dan juga koma selama tiga hari.
Setelahnya ia meninggal karena benturan kepalanya yang begitu kuat. Serta janin yang dikandung Tania keguguran saat ia kecelakan.
Penjelasan papi Tama itu begitu membuat Kendra terpukul dan shock setengah mati akan kabar itu.
Ia menangis, meraung dan mengamuk dirumah besar papi Tama itu. Ia melempari semua foto Tania saking tidak percaya nya dirinya akan kepergian Tania karena kesalahannya.
"Tidaaakk.. Hahaha.. Tidakkk.. Tania ku.. Istriku.. Hiks.. Tidak mungkin Taniaku pergi.. Tania.. hiks.. Tania.." isak Kendra begitu pilu. Ziana tidak sanggup melihat Kendra begitu terpukul dengan berita baru saja yang mereka dapatkan.
Masih berita saja yang Kendra dapatkan, ia saja sudah terpukul berat seperti itu. Apalagi kalau mereka semua menuju ke kuburan Tania.
Dimana semua keluarga sedang berkumpul menunggu kedatangan ke empat orang itu. Uwak Lana bergegas menyiapkan mobil untuk membawa Kendra ke pemakaman demi bisa melihat Tania untuk terakhir kalinya.
Kendra masih tersedu dan terus menangis dengan pilu. Ia tidak peduli dengan rasa sakit di kepalanya yang membuatnya seperti akan mati saat ia berteriak tadi dan mengamuk baru saja.
Jika Malik dan Uwak Lana tidak memegangi Kendra, pastilah suami Tania dan Ziana itu sudah menuyusul Tania juga saat ini.
__ADS_1
Ziana tidak sanggup melihat cintanya yang begitu tepukul seperti itu. Ia pun merasakan sakit saat melihat Kendra yang kini begitu terpukul akibat berita meninggalnya sang kakak sepupu yang merupakan kakak madunya itu.
"Ayo, Nak. Kita harus ke pemakaman. Tania harus dikuburkan segera. Ayo!" ajaknya pada Kendra yang kini tidak berdaya dan begitu lemas seluruh tubuhnya.
Seluruh sendinya terasa lemas bagai tak bertulang. Uwak Lana menekan rasa sesak di dadanya saat melihat Kendra yang terus meraung dan memanggil nama Tania dengan wajah basah air mata.
Malik yang tidak tahan melihatnya pun ikut menangis. Ia memeluk Kendra dengan erat. Guna untuk memberi ketenangan pada pemuda dewasa itu.
Kendra terus menangis sepanjang perjalanan. Uwak Lana tidak sanggup melihat Kendra yang begitu terpukul. Begitupun dengan Ziana. Ia hanya bisa menangis melihat cintanya itu yang begitu rapuh karena kepergian kakak nya itu.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di komplek pemakaman yang menurut mereka lain dari yang lain. Tidak terlihat banyak para pelayat disana.
Melihat kedatangan empat orang itu, mami Annisa dan mami Kinara terus saja menangis dengan saling berpelukan.
Sementara papi Ali mencoba mendekati Kendra yang kini sudah tidak sanggup lagi berjalan saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, dimana jenazah sang istri kini terbujur kaku dan sudah berbungkus kain kafan.
Kendra tak kuasa menahan sesak di dadanya saat papi Ali memapahnya menuju jenazah Tania. Kendra meraung lagi sambil memeluk jasad yang sudah terbujur kaku itu.
__ADS_1
Kendra mengguncang jasad itu berharap Tania akan bangkit dan berbicara padanya.
"Haaaa... Hhaaaa.. Nggaaakkk!! Ini bukan Taniaku! Bangun Nia!! Bangun Hunny!! Kamu tega ninggalin Abang seorang diri di muka bumi ini? Huh? Bangun Hunny! Bangun!!!" teriak Kendra sembari mengguncang jasad yang sudah terbungkus rapat itu.
Kendra menangisi dan memeluk erat jasad itu dengan mulut terus berbicara yang sesekali menjerit untuk meluapkan rasa sesak dihatinya.
Danis yang tidak sanggup melihat itu, segera memeluk Kendra. Begitu pun dengan Papi Tama. Dua pemuda yang selalu setia melindungi Tania itu semakin sakit dan sesak saat melihat suami Tania itu begitu terpukul dengan kepergian putri sulung mereka yang secara tiba-tiba itu.
"Hiks.. Sabar bang. Kakak ku sudah tenang di sisinya. Ayo kita kuburkan segera. Tidak baik berlama-lama membuatnya menunggu. Kamu sudah datang. Dan saat nya kita untuk mengubur Tania. Ya?" bujuk Danis yang dijawab dengan gelengan serta pelukan tubuh Kendra pada jasad itu semakin erat saja.
Mami Annisa sampai memeluk mami Kinara karena tidak sanggup melihat betapa rapuhnya Kendra karena kepergian Tania, putri sulungnya itu.
Tanpa menunggu jawaban Kendra, jasad Tania segera mereka kuburkan. Kendra berteriak histeris karena tidak mengizinkan Tania untuk di kubur.
Tetapi papi Tama dan papi Ali tidak peduli. Mereka berdua tetap menguburkan Tania dengan layak yang membuat Kendra semakin kehilangan akalnya.
Ia kembali mengamuk dan membongkar makam itu. Danis yang tidak sanggup menahannya bersama Malik, terlepas. Yang membuat Kendra segera membongkar gundukan tanah yang sudah separuhnya tertutup itu.
__ADS_1
Kendra mengamuk sejadi-jadinya saat melihat sang kekasih hatinya sudah di pendam ke dalam tanah. Yang artinya, ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk membangun rumah tangganya bersama sang istri tercintanya.
Papi Ali segera menangkap tubuh Kendra yang kembali ingin membongkar makam itu. Papi Ali pun ikut menangis melihat keterpurukan Kendra. Ia tidak sampai hati melihat suami keponakannya itu. Yang kini seperti orang yang tidak waras karena kehilangan Tania.