
Malam harinya di kediaman Papi Tama dan mami Annisa sednag melkaukan sholat berjamah bersama dengan Kendra sebagai Iamm.
Tania yang baru tahu kendra bisa menjadi imam lagi dan lagi terkejut. Untuk kedua kalinya ia dikejutkan oleh keadaan suaminya yang memang normal seperti lelaki pada umumnya.
Lagi dan lagi Tania di kejutkan dengan keadaan sang suami yang lebih dari perkiraan nya. Saat ini mereka sedang makan malam bersama setelah melaksanakan sholat magherib serta disambung dengan sholat isya.
Kendra makan dengan lahap saat Mmai Annisa mengatakn jika itu semua Tania yang memasaknya.
"Enak! Sangat enak! Ini makanan enak yang baru Abang nikmati! Pernah sih sekali. Kalau nggak salah Direktur Zee pernah membawa bekal untukku. Katanya dari Oma. Apa itu benar?"
Mami Annisa tertegun. Begitu pun dengan ppai tama. Ia menyentuh tangan Mami Annisa dan mengangguk.
"iya nak. Itu makanan terakhir kali yang di buat mak mai sebelum akhirnya beliau kembali ke pangkuan Allah bersama Papi Gilang."
__ADS_1
Deg!
Kendra terkejut, "Meninggal mami??"
Mami Annisa mengangguk. "Ya, Oma dan Opa Gilang sudah tiada sejak empat tahun yang lalu. Beliau meninggal dalam kecelakan tragis yang disengaja. Orang yang melkaukan pembunuhan itu pun sudah kami tangkapdan sudah di hukum. Walau hukumannya tidak setimpal, tapi ya.. Jadilah. Mereka berdua sampai harus dirawat dirumah sakit karena tidak bisa bergerak sama sekali akibat ulah Malda putri sulung Uwak lana!"mami Annisa tertawa saat menceritakan hal itu.
Semua yang mendengarnya pun ikut tertawa. Kendra menghela nafasnya. "Padahal Abang ingin sekali bertemu Oma dan Opa, Mami.. Ingin mengucapkan terimakasih. Karena masakan Oma waktu itu bisa menyembuhkan Abang dari racun yang diberikan oleh kedua saudara tiriku."
Tania mengangguk. "Siap papi. Kakak pun memang berencana ingin membawa bang Kendra kesana. Dan kebetulan sekali malam ini abang membahasnya. Ya.. Besok kita kesana. Pukul setengah enam pagi setelah sholat subuh!" jawab Tania yang di tatap balik oleh Kendra.
Kendra ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi saat merasakan tangan Tania menyentuh pahanya. Ia mengangguk.
Selepas makan malam bersama, mereka semua duduk sebentar sebelum masuk ke kamar masing-masing. Banyak hal uang mereka bicarakan hingga waktu menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh malam.
__ADS_1
Kendra dan Tania berjalan beriringan menuju kamar keduanya yang sudah dihias sangat cantik oleh semua sepupu Tania.
Kendra terkekeh saat melihat wajah merengut Tania yang kini sednag membereskan ranjangnya yang bertaburan bunga mawar merah dan putih disana.
Kendra menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Ia pun menyuruh Tania. Keduanya melkukan sholat sunnah sebelum melakukan ritual malam sepasang suami istri untuk pertama kalinya.
Setelah selesai kini keduanya sednag duduk diranjang dengan saling berhadapan. Kendra tersenyum manis pada Tania.
Tamnia hanya mampu menunduk saja. Ia malu melihat Kendra yang kini bertatpa muka dengannya.
Untuk pertama kalinya Tania satu kamar dengan lelaki lain yang kini sudah menjadi suaminya dunia dan akhirat.
Jika dulu hanya Danis dan Yusuf saja yang sering masuk ke kamarnya, tetapi kini Kendra lah yang sednag duduk berhadapan dengan nya.
__ADS_1