
Aldo bisa bernapas dengan lega saat dokter mengatakan jika Kendra sudah melewati masa kritisnya.
"Sudah.. Sebaiknya kamu istirahat saja. Sebentar lagi Kendra akan dibawa keruangan ini. Bukankah kamu yang menginginkan jika Kendra satu ruangan dengan mu?" tanya Uwak Lana pada Aldo yang kini mengangguk lirih padanya.
Ia baru saja makan dengan disuapi Ziana untuk minum obat. Sebenarnya Aldo yang meminta pada Uwak Lana untuk meletakkan Kendra dalam ruangan yang sama dengannya sebelum ia dibawa ke ruang inapnya.
Dan Uwak Lana mengiyakannya. Kendra baru saja selesai di obati oleh dokter. Setelah selesai, ia segera dibawa keruang inap Aldo.
Uwak Lana segera membuka pintu lebar-lebar saat bangkar Kendra masuk keruangan itu. Dua orang perawat mmebawa bangkar Kendra mendekati bangkar Aldo yang kini sedang terlelap karena pengaruh obat.
Ziana segera membetulkan tata letak bantal untuk Kendra yang kini sedang dibaringkan di bangkar oleh dua orang perawat itu.
Setelah selesai, dua orang perawat laki-laki itu segera keluar dari ruangan kendra dan Aldo.
"Terimaksih!" ucap Uwak Lana dan Ziana bersamaan yang diangguki oleh dua perawat itu.
"Sama-sama tuan, kami permisi. Jika keduanya sadar, tekan saja tombol di ujung ranjang itu di sebelah nakas. Maka kami akan segera datang."
"Baik," jawab Uwak Lana yang kini segera menutup pintu itu setelah kedua perawat itu keluar dari ruangan itu.
Uwak Lana menghampiri Ziana. "Papi pulang dulu ya Nak? Papi sama mami akan bawa makan malam untuk kamu kesini. Kamu harus menemani dulu dua lelaki penjaga mu ini!" selorohnya yang membuat Ziana terkekeh.
"Iya Pi. Pulanglah. Lagian papi dan mami pun tadi sedang bekerja bukan?"
Uwak Lana mengangguk. "Ya, dan juga ketiga adikmu masih disana. Papi tidak sempat mengabarkan pada mereka tadi."
Ziana mengangguk sambil duduk di tengah-tengah bangkar kedua lelaki yang sedang terpejam karena pengaruh obat itu.
"Ya sudah, papi pulang ya Nak? Hati-hati. Jaga diri. Papi akan mengabari Ibu mertua kamu untuk segera datang kesini. Kami akan kembali setelah sholat maghrib."
__ADS_1
"Iya Pi. Tenang aja. Kakak nggak takut kok." Jawab Ziana meyakinkan Uwak Lana yang sedikit gelisah entah karena apa.
Entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak saat meninggalkan Ziana disana. Walau demikian, ia tetap pulang demi melihat ketiga anaknya yang lain dan juga akamengabarkan hal itu kepada Mutia selaku ibu dari Kendra.
Cukup satu jam saja perjalanan karena macet mereka baru tiba di tempat persembunyian Kendra dan Aldo selama ini.
Dari arah depan sudah terlihat kedua anak kembarnya Fanya dan Fania sednag menangis di pelukan sang Abang yang kini sedang berusaha menenangkannya.
Ada Ummi Mutia juga yang sedang berbicara dengan mereka bertiga. Keduanya turun dari mobil langsung saja berlari mendekati ke tiga anaknya itu.
Mereka bertiga segera berlari memeluk kedua orang tuanya sambil menangis.
"Ada apa bang? Dimana Kendra? Apa yang terjadi?" tanya Ummi Mutia semakin tidak sabaran.
Uwak Lana menghela napasnya. "Kendra terluka lagi tadi saat-,"
"Apa kata mu? Terluka lagi?? Kenapa tidak menghubungi ku sedari tadi sih?" kesalnya sambil berlalu masuk ke dalam dan mengambil dompet serta ponselnya.
Uwak Lana lagi dan lagi menghela napasnya. "Semoga dia tidak melukai Ziana nantinya. Jika itu sampai terjadi, jangan salahkan aku jika aku sendiri yag akan menghukumnya!"
Deg!
Uwak Maura melihat pada sang suami yang kini sudah berlalu masuk ke dalam rumah. Ia pun segera membawa ketiga anaknya masuk ke dalam rumah untuk memasak makanan untuk putri sulungnya yang kini sedang menemani suami serta asisten suaminya itu.
Sementara Ummi Mutia yang baru saja tiba dirumah sakit, dengan sedikit terburu ia langsung berlari menuju ruangan Kendra yang belum ia tahu.
Ia menggerutu kesal saat tidak tahu dimana putranya itu berada. Ia mendial nomor Kendra. Terhubung.
"Diruangan mana?"
__ADS_1
Deg!
Seseorang di seberang ponsel sana melihat pada lawan bicranya yang kini juga sednag menatapnya.
"Di ruang melati no 5, Nyonya!"
Tut!
Sambungna ponsel itu terputus secara sepihak dari Ummi Mutia yang membuat kedua orang itu saling pandang dan menghela napas panjang.
"Mertua kamu kesini." Katanya pada ziana yang diangguki oleh sitri muda Kendra itu.
"Ya, aku tahu," jawab Ziana berusaha tenang walau jantungnya sedang berdegup bertalu-talu saat ini.
Aldo memegangi tangannya sekedar untuk menyalurkan kekuatan pada istri muda Kendra yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.
Ummi Mutia menggebrak pintu sedikit kuat saat tiba di ruangan yang ia tuju. Nafasnya memburu karena baru saja habis berlari.
"Kenapa kalian malah tidak memberitahukan pada saya tentang hal ini? Apa kalian pikir kalian itu sangat hebat? Hingga tidak mau memberitahukannya kepada saya?"
Deg!
Ziana spontan berdiri dan mendekati Aldo yang kini sudah memegangi tangannya karena takut mendengar suara menggelegar dari Ummi Mutia yang semakin berbeda saja.
"Kenapa diam? Tidak punya mulut untuk berbicara??"
Deg!
Ziana menunduk. Aldo semakin erat memegangi tangannya. Sementara Ummi Mutia masuk keruangan itu dan melihat keduanya satu persatu.
__ADS_1
Ia menatap dingin pada Aldo dan Ziana.