Princess Pratama

Princess Pratama
Sasaran empuk


__ADS_3

Sementara Tania yang masih melajukan mobilnya dengan sangat kencang di jalan raya yang lumayan sepi karena daerah tempatnya sudah malam, seseorang di dalam mobil yang kini mengikuti mobil Tania menyeringai jahat.


"Woaahh.. Pucuk di cinta ulam pun tiba! Yang di tunggu-tunggu ternyata terlihat juga! Hemm.. Selamat bos! Target sudah di depan mata! Sasaran empuk bos!" serunya dengan wajah berbinar senang sambil mengikuti laju mobil Tania yang melewati sebuah jembatan dan tikungan tajam di ujung jalan sana.


"Tentu saja! Tidak sia-sia kita menunggu nya keluar dari rumah mewahnya! Waktunya untuk kita beraksi! Lakukan sekarang!" Titahnya yang diangguki oleh rekannya itu.


Mereka segera beraksi dengan cara mengapit mobil Tania dan menuntun mobil itu menuju ke tepi jurang yang terdapat sungai di bawahnya.


Tani ketakuan saat melihat dua mobil mengapitnya di depan dan belakang. Ia jadi panik sendiri. Padahal saat ini ia baru saja mendengar teriakan Kendra yang begitu keras dari ponselnya yang masih terhubung dengan suaminya disana.


"Astaghfirullah ya Allah.. Ternyata masih terhubung? Bang Kendra.. Kamu ngamuk lagi?? Hiks.. Maafkan aku, Bang.. Maafkan aku.." lirihnya dengan terus mengendarai mobilnya mengikuti arah dua mobil yang kini sedang menuntunnya entah kemana.


Tubuh Tania bergetar saat melihat jika ada orang yang tidak dikenal tetapi berkebangsaan sama dengannya ingin menghabisi nya. Tania baru sadar saat Danis berulang kali menghubunginya. Mami Annisa dan papi Tama pun demikian.


Ia bisa memegang ponselnya walau sebentar. Untuk melihat masih terhubung dengan Kendra atau tidak. Dan ternyata sudah tidak. Ia kembali menghubungi ponsel itu dan diangkat oleh orang di seberang sana.


Karena sedang panik, ia kembali melempar ponsel itu ke jog sebelahnya. Mobilnya di apit depan dan belakang. Kedua mobil itu sengaja mengapit serta menuntunnya.


Tania berzikir dalam hati. Teringat olehnya jika Danis tadi mengatakan jika dirinya hamil.

__ADS_1


Sebelah tangan itu mengelus perut ratanya yang tertutup gamis hitam dan hijab hitamnya.


"Apa benar jika aku hamil?? Jika iya, kenapa aku tidak merasakan gejala seperti wanita hamil pada umumnya? Apa benar kata Abang, kalau bang Kendra yang mengalami kehamilan simpatik??


Tapi kenapa tadi Aldo bilang jika Ziana yang saat ini sedang hamil anaknya?" gumam Tania lagi masih dengan keadaan di serang panik kala dirinya di tuntun hingga ke bibir jurang. Mobil yang mengapitnya di depan kini sudah tiada.


Tania terkejut. Ia melihat sekitar. Tidak ada tanda mobil itu. Entah kemana perginya mobil itu, Tania pun tidak tahu. Yang jelas, di depan sana hanya terlihat gelap dan sangat menakutkan untuknya.


"Ini mobil kenapa semakin di dorong sih?" ucap Tania dengan tangan gemetar dan keringat dingin mengalir di tubuhnya.


Ia menoleh ke belakang melalui spion di atas kepalanya. Benar. Mobil itu masih menuntunnya. Tania semakin ketakutan kala mendengar suara lolongan binatang hutan yang begitu menyeramkan untuk ia dengar.


Tania terpaksa membuka kaca mobilnya untuk melihat sekitar. Dimana di depan sana jalan buntu dan dibawahnya ada sungai yang mengalir deras.


"Ya Allah.. Jika memang ini waktuku. Maka aku ikhlas. Hanya satu pintaku. Lindungi Suamiku dan ampuni segala dosanya. Aku tidak marah padanya. Tetapi hanya kecewa. Jangan jadikan sakit hatiku ini menjadi azab untuknya. Aku ikhlas ya Allah.. Aklu ikhlas menerima kehidupannya dan juga istrinya walau aku memilih mundur darinya.. Lindungi kedua orang tuaku, dan juga adik-adikku. Saudaraku yang lainnya. Lindungi mereka dari kejaran musuh yang kini terus mendekati mereka semua.. Cukupkan sampai disini saja. Biarkan aku saja yang menanggungnya. Jangan mereka lagi. Jika mereka berani melakukannya, maka aku bersumpah! Aku akan datang kepada mereka dalam wujud yang baru untuk menghukum mereka yang telah berani menyakiti suami dan semua keluargaku! Aku berjanji jika Engkau masih memberikan kesempatan kedua untuk ku! Arrgghhtt.. Allahu akbar!! Lailahaillalah.. Bang Kendra.. Se-la-mat ti-ting- hek gal.."


Braak!


Brak!

__ADS_1


Duuarr!!


Duuar!!


"Tidakkkk!! Taniaaa!!! Taniaakuu!!!" teriak Kendra


Tania tersenyum saat samar telinganya mendengar suara jeritan Kendra hingga menusuk jantung hatinya.


Jika masih diberikan kesempatan hidup, aku berjanji! Aku akan kembali padamu dan menghancurkan siapa saja yang sudah berani mengusik keluarga kita! Aku sangat mencintaimu, Suamiku.. Sangat..


Aku rela bertaruh nyawa untukmu.. Semoga pengorbanan ku ini tidak sia-sia..


Gelap, sesak dan sangat sempit hingga tidak terkira. Tania tenggelam dalam rasa sakit, luka dan bersalahnya karena sudah meninggalkan suami yang ia cintai kini semakin mengamuk saat mendengar suara ledakan dari mobil yang ia tumpangi kini sudah jatuh ke jurang, sebelumnya meledak di batu pinggiran jurang dan terjatuh ke dalam aliran sungai dibawah jurang sana.


"TAANIAAAAA.. TIDAKKK.. TANIAKUUUU!!!"


DDUUARR!


DUUUARR!

__ADS_1


Suara petir menggelegar di langit Medan, dimana seorang suami jatuh pingsan setelah merasakan sakit yang sama seperti istrinya yang kini entahkan hidup atau pun mati.


Udah lima bab ye? Lempar dua kopi untuk othor! 😏😏


__ADS_2