Princess Pratama

Princess Pratama
Melahirkan si kembar tiga


__ADS_3

Fatma yang mengerti dengan kepanikan Kendra yang kini lebih banyak diam ketika ia ajak berbicara, segera meminta ponsel miliknya dan menghubungi mami Annisa dan papi Tama.


"Hallo, Tante! Ke rumah sakit terdekat! Tania akan segera melahirkan. Saat ini kami sedang di jalan untuk membawa Tania ke rumah sakit. Bawa perlengkapan untuk Tania dan ketiga bayinya! Kendra tidak bisa di ajak bicara saat ini. Ck. Mana istri mau melahirkan! Dirinya malah diam-diam bae!" gerutu Fatma pada sambungan ponsel yang kini masih tersambung di sana.


Mami Annisa yang baru saja selesai mandi terkejut bukan main mendengar ucapan Fatma. Masih dengan tubuhnya terbalut handuk ia segera menyahuti ucapan Fatma yang terdengar seperti menggerutu itu.


"Baik, kami akan segera kesana. Jaga Tania dan Kendra. Si kembar sama siapa?" tanya mami Annisa sembari tangan itu sibuk mengambil cd dan kaca mata kuda miliknya yang membuat papi Tama kebingungan.


"Sayang-,"


"Si kembar bersama bang Aldo dan juga putra saya. Tente dan Om cepetan kemari! Kami sudah berada di rumah sakit saat ini!" suara Fatma memotong ucapan papi Tama yang kini pun terkejut bukan main tentang Tania yang akan segera melahirkan.


"Baik, saya tutup, ya? Saat ini kami sedang bersiap. Share location agar kami segera kesana. Bingung saya mau nebak di mana kamu bawa Tanianya!" serunya begitu gusar.


"Ya, Tante!" sahut Fatma.


Sambungan ponsel itu terputus. Mami Annisa segera memakai bajunya yang sudah papi Tama ambilkan. Pada saat ia ingin memakai gamisnya, kacamata kuda miliknya lepas talinya.


"Haishh.. Ini kacamata kenapa harus sekarang, sih putusnya?! Ck!" Mami Annisa berdecak kesal pada kacamata kuda miliknya.


Papi Tama yang sedang serius pun jadi tertawa karena ulah istrinya itu.


"Makanya, dikasih uang sama suami itu untuk keperluan kamu, gunakan! Ini tidak. Malah katanya, sayang uangnya! Sayang apanya sayang kalau kacamata kuda kamu lepas begitu! Yang kayak nggak punya uang aja, sih, kamu?" sindir papi Tama sekalian meledek mami Annisa yang kini menatapnya dengan malas.


"Diamlah Abang! Kita bahas itu nanti! Saat ini, Tania dulu," katanya pada papi Tama yang kini masih menertawakannya.


Mami Annisa tidak peduli. Ia segera berlari kecil menuju ke kamar Tania dan mengambil perlengkapan Tania serta si kembar tiga. Setelahnya, ia segera turun ke bawah di mana papi Tama saat ini sudah masuk ke dalam mobil dan menunggu dirinya.

__ADS_1


Keduanya segera berangkat menuju rumah sakit yang sudah Fatma berikan alamatnya.


Sedangkan di rumah sakit saat ini, Kendra sedang menemani Tania yang masih merasakan mulas tiada tara. Sesekali menyebut nama Allah dan membaca sholawat demi mengurangi rasa sakit di perutnya.


Dokter sudah memeriksanya. Masih bukaan tiga. Masih lama untuk melahirkan si kembar tiga. Butuh waktu tujuh atau enam jam lagi untuk Tania bisa melahirkan si kembar. Tergantung Tania yang saat ini bergerak.


Semakin Tania banyak bergerak, maka semakin cepat kontraksi pembukaan jalan lahir terjadi. Kendra memegangi lengan Tania masih dengan keterdiamannya.


Ia mendadak bisu saat melihat Tania akan segera melahirkan. Saat melihat videonya saja, Kendra sudah tegang bukan main. Rasanya jantungnya copot saat itu juga. Sakit sekali saat melihatnya.


Apalagi saat ini ia menyaksikan secara langsung bagaimana proses Tania akan melahirkan bayi kembarnya lagi. Keturunan tiga, empat, dan lima. Dua kali hamil dengannya, tapi bisa menghasilkan lima orang anak.


Untuk jenis kelamin yang ini, mereka belum tahu. Karena pada saat Zee ingin melihatnya, selalu saja di tutupi oleh saudaranya yang lain. Sungguh sudara yang kompak, ya?


Masih di dalam perut saja ketiganya sudah kompak. Bagaimana kalau nanti mereka keluar? Pastilah mereka akan sangat kompak jika menyangkut keluarga mereka.


Zee yang bertindak sebagai dokter kandungan Tania, segera menuju rumah sakit yang dikatakan oleh mami Annisa. Tidak hanya Zee yang kesana. Uwak Raga yang saat itu sedang bersama Zee pun ikut serta.


K empat orang itu menunggu dengan sabar proses tania yang saat ini masih berjalan-jalan di dalam ruangan itu. Kendra masih setia menemaninya. Walau bibirnya tidak berucap satu patah kata pun, ia tetap menunggu Tania dan sesekali mengusap perut serta mengelus lembutpunggung Tania seperti yang Zee katakan.


Saat ini masih pukul sepuluh pagi. Masih jauh waktu Tania melahirkan. Tetapi tidak, ketiga bayi itu seakan ingin cepat keluar dari perut sang mami.


Tepat pukul dua belas siang waktu Medan, putra ketiga Kendra lahir. Di susul yang ke empat. Dan saat suara adzan berkumandang pertanda waktu dhuhur sudah tiba, anak kelima mereka lahir kedunia.


"Cantik sekali! Persis seperti Tania! Kayaknya yang ini nurun maminya, deh!" ucap Zee saat mengambil bayi itu dari tangan seorang bidan yang membantu Tania bersalin.


Kendra tidak bisa berbicara apapun saat itu. Hanya ada air mata yang mengalir di kedua matanya. Pertanda ia terharu dan sangat bahagia.

__ADS_1


Lengkap sudah kebahagiaannya saat ini. Putra dan putrinya sudah keluar semua dengan selamat.


"Hunny..," bisisk Kendra di telinga Tania yang sat ini terpejam sembari mengalungkan tangannya di leher Kendra.


Tania yang hampir terlelap terbangun seketika saat mencium aroma mint napas Kendra tepat di depan wajahnya. Tania tersenyum.


"Aku tak apa, bang. I am fine, okey?" jawab Tania menenangkan Kendra yang kini masih berada dihadapan wajahnya.


Kendra mengangguk dan tersenyum dengan air mata yang sudah menganak sungai. Ia mengecup kening Tania. Kemudian segera beranjak dari tubuh Tania saat mendengar ucapan bidan yang membantu Tania ingin menjahit jalan lahir istrinya.


Kendra terkejut. "D-di ja-jahit, Bu? U-untuk a-apa? Se-sebaiknya ng-nggak usah! Ka-kasihan i-istri saya!" ucap Kendra yang di tertawakan oleh Zee saat mendengar ucapan suami Tania yang seketika tergagap setelah lama tidak berbicara.


"Hadeuhh.. Ken, Ken! Setelah anak kamu lahir, kamu baru bisa berbicara! Ck!" celutuk Zee sambil membersihkan keponakannya itu.


Kendra menunduk malu. Ia lantas memilih keluar dan menemui kedua mertuanya yang saat ini sedang menangis haru jika ketiga cucu kembarnya sudah lahir dengan selamat.


Kendra tidak sanggup saat melihat Tania menahan sakit seperti tadi lagi saat jalan lahirnya di jahit. Lebih baik ia keluar dan menemui keluarga istrinya.


Tiba di luar, Kendra langsung saja di peluk erat oleh Uwak raga dan papi tama. Mereka bangga pada kendra yang sekali cetak langsung menghasilakn tiga. Sama seperti mereka berdua. Lelaki paruh baya beda usia itu tertawa saat mendnegar ucapan Kendra tentang,


"Aku tidak akan mengizinkan Tania melahirkan lagi! Cukup lima anak saja! Ini sudah melebihi dari slogan keluarga berencana yang mengatakan cukup dua anak lebih baik!" ucap Kendra sebenarnya, serius. Tetapi dianggap lelucaon oleh kedua paruh baya itu.


Mami Annisa menatap lekat pada Kendra yang kini masih saja menolak jika Tania suatu saat hamil lagi.


"Kamu tidak bisa menahannya ken! Bukan kamu penguasa bayi di dalam rahim tania. Tetapi, itu takdir Allah! Jika kamu menolak pemberian Allah, sama saja dengan kamu menentang dan menolak pemberian-Nya. Paham?" tegur papi Tama pada Kendra yang kini menunduk menahan sesak di dadanya saat membayangkan Tania akan sakit lagi nantinya demi melahirkan buah hatinya.


Kendra menggeleng tetap tidak setuju. Kedua lelaki paruh baya itu hanya bisa menghela napas pasrah akan keputusan Kendra saat ini.

__ADS_1


...****************...


Othor akan buat Season 2 nya disini. Kalian mau baca nggak? Kalau iya, besok keputusannya! Ditunggu, ya! 😁🙏


__ADS_2