
"Kak," Alkira memenggil Tania dengan suara seraknya. Ia melangkah masuk bersama Gading dan memilih duduk disamping kakak sepupunya itu.
Alkira terharu saat Tania tahu tentang masalahnya yang selalu tertekan karena ucapan saudara sepupunya itu. Alkira sebenarnya tidak masalah dengan itu.
Tapi yang jadi masalahnya ialah Gading. Suaminya. Gading divonis mandul dan tidak bisa memiliki keturunan. Bisa, tapi hanya keajaiban yang mampu. Akibat kejadian saat dirinya disiksa dulu, Gading harus mengalami gagal fungsi pada bibit unggulnya.
Ia sudah berusaha kemanapun. Singapura, Penang Malaysia, Jerman, bahkan ke Inggris. Tempat diaman Uwak Raga dulu pernah menuntut ilmu. Bahkan Uwak Ragalah kini yang menangani dirinya.
Uwak Raga bilang,
"Kamu bukan mandul. Hanya sakit sedikit saja. Tenanglah Gading, tak akan terjadi appaun dalam pernikahanmu. Kamu percaya 'kan dengan kuasa Allah? Ingatkan saja dulu Uwakmu bagaimana? Bahkan Uwakmu sakit karena Uwak. Tak perlu khawatir. Uwak yang akan menangani sakitmu. Untuk itu, kamu harus bersabar. Butuh waktu yang lama dan kesabaran yang luas. Paham?" ucap Uwak Raga dulunya pada Gading dan Alkira saat berkonsultasi padanya.
Alkira terisak. Tania segera memeluknya. "Jangan salahkan mereka jika belum dikaruniai momongan. Semua itu ujian dari Allah dalam pernikahan mereka. Lagian, Alkira masihlah kecil. Masih tujuh belas tahun. Ia masih sekolah. Belum pantas untuknya memiliki keturunan. Kakak heran sama kalian, kenapa pikiran kalian jadi sesempit itu? Seharusnya kalian sadar, kalau Alkira itu belum bisa hamil untuk saat ini. Ia masih sekolah, masih kelas dua SMA. Usia pernikahannya pun masih seumur jagung!"
__ADS_1
"Benar, jika Gading sudah dewasa dan pantas memiliki momongan. Tetapi Alkira? Ia masihlah kecil! Belum pantas menjadi ibu! Belum waktunya untuk ia menimang bayi! Ia masih harus banyak belajar bagaimana harus menjadi istri, teman serta rekan yang baik untuk suaminya. Seharusnya kalian jangan terlalu menekannya! Kakak tahu semua apa yang terjadi padanya satu tahun yang lalu! Jangan kalian kira kakak jauh, kakak tidak memantau kalian semua! Kalian salah!"
"Kakak selalu memantau keadaan keluarga kita! Tak pernah luput dari apapun! Termasuk semua masalah yang kalian hadapi saat ini. Hanya saja, kakak tidak ingin mencampuri urusan kalian. Karena kakak tahu, kalian itu sudah dewasa. Bisa menyelesaikan urusan itu sendiri! Ingat, jangan ada lagi yang bertanya kapan Alkira mengandung dan memiliki bayi. Alkira masih butuh waktu! Belum saatnya, paham?!" tekan Tania dengan suara rendahnya tetapi penuh penekanan.
Gading menunduk. Kendra memeluk adik iparnya itu. "Jangan bersedih Gading. Setiap masalah ada jalan keluarnya. Begitupun dengan penyakit. Setiap penyakit itu ada obatnya. Satu yang tidak bisa kita obati yaitu, penyakit tua! Umur yang sudah tua tidak bisa kita obati. Walau katanya awet muda, tetap saja sudah tua. Cantik, karena skincarenya mahal. Tapi tetap saja, wajah tua tak ada yang bisa mengobatinya. Kamu masih muda Gading. Kamu sebaya El kalau abang lihat, benar?" tanya Kendra yang diangguki oleh Gading masih dengan emnunduk.
El tersenyum. Ia tidak sendiri didalam keluarga itu. Ternyata suami adik sepupu istrinya itu seusia dengannya.
Tania memutar bola mata malas mendengar ucapan papinya itu.
"Bergurau boleh, tapi jangan sampai perkataan kalian itu melukai orang lain. Kalian tahu, setiap ucapan yang bernada sindiran itu sangat menyakitkan bagi orang yang merasakannya. Mudah bagi kalian berbicara karena kalian tidak merasakannya. Tapi coba posisi kalian berada di tempatnya. Sanggup nggak kira-kira kalian? Bisa tidak kalian bersabar sama yang seperti mereka lakukan?"
"Jangan sekali-kali berbicara yang membuat orang lain tertekan akan ucapan kalian. Berdosa hukumnya bagi seorang muslim yang dengan sengaja mengejek kekurangannya itu. Padahal dia sudah tahu apa penyebabnya?"
__ADS_1
Deg!
Deg!
Bagai dihantam petir hati mereka semua. Ucapan mami Annisa baru saja begitu menyentil mereka yang tadinya terus menerus menyindir Alkira seta meledeknya. Mereka semua tidak sadar, jika ucapan mereka itu sudah membuat jiwa kedua anak muda beda usia itu terganggu. Keduanya merasa insicure dengan semua keluarga.
Mereka merasa tidak pantas berada di dalam keluarga itu. Terutama Gading. Ia yang paling tertekan. Setiap malamnya ia selalu menangis di sajadahnya. Meminta pertolongan sang khaliq tentang ujian rumah tangganya itu.
"Kita semua keluarga, bukan musuh! Bahkan musuh pun, kita harus berbuat baik kepada mereka semua. Ingat, bagaimana nabi Muhammad SAW. Saat dihina, dicemooh, diludah bahkan di lempari dengan batu oleh orang kafir. Beliau selalu berbuat baik pada musuhnya. Tak ada niat beliau ingin membalas mereka semua. Karena apa? Karena Nabi mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik kepada sesama manusia sekalipun itu musuh kita! Lah ini? Gading dan Alkira itu keluarga loh, masa iya, kalian sanggup melakukan hal seperti itu?" cecar mami Annisa pada mereka semua yang kini menunduk merasa bersalah.
"Ingatlah adik-adikku. Kita ini keluarga. Jangan karena bergurau, kalian seenaknya mengatakan hal yang akan menyinggung perasaan orang lain. Hargai mereka. Mereka itu juga keluarga kita. Kita itu satu induk. Hanya berbeda jagonya saja. Jadi, kalian tidak boleh melakukan hal itu lagi. Itu tindakan tidak terpuji, paham?" Ucap Tania menambahi ucapan mami Annisa.
Semua sepupunya itu menunduk malu. Begitupun para orangtua yang tidak bisa melarang anak mereka untuk tidak melakukan hal seperti itu untuk anggota keluarga lainnya.
__ADS_1