Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Makan malam romantis


__ADS_3

Selepas maghrib, keduanya lelaki tampan itu sudah menggandeng istri mereka untuk menuju ke tepi pantai. Kedua mata istri mereka di tutup dengan kain hitam.


Riya terus mengoceh yang membuat Zayden tertawa. Sementara Jia hanya diam membisu. Ia ikut saja apa kata Zayn. Zayn sendiri merasa aneh dengan sikap Jia. Istrinya itu mendadak berubah setelah ia tegur sedikit tadi di warung es Ibu Husna.


Semenjak pulang dari sanalah Jia terus mendiaminya. Jika di tanya, Jia menjawab sekedarnya saja. Zayn sedikit tidak enak dengan sikap Jia malam ini. Akan tetapi, ia tidak ambil pusing tentang kejadian tadi sore.


Zayn sudah menyiapkan yang spesial untuk sang istri tercinta. Yang ia yakini pasti sang istri menyukainya.


Sepanjang perjalanan ke tepi pantai, ke empatnya terus berbicara kecuali Jia. Jia hanya jadi pendengar setia saja. Mulutnya terkunci rapat sejak tadi hingga tiba di tepi pantai.


Zayn dan Zayden tersenyum saat melihat kain putih yang sudah melambai-lambai tertiup angin pantai. Di tengah-tengah kain putih yang melambai itu, sudah tersedia dua buah meja bundar yang berjarak lima meter dari meja lainnya.


Zayn membawa Jia ke sisi kiri. Sementara Zayden membawa Riya ke sisi kanan. Keduanya mendudukkan sang istri di sebuah kursi yang sudah mereka tarik terlebih dahulu.

__ADS_1


Zayn segera membuka tali penutup mata pada Jia dan duduk di hadapannya saat ini. Jia melihat sekitar dan memandang sekitar dengan takjub. walau ia sedang takjub, Jia tidak menunjukkan rasa takjub itu seperti yang Riya tunjukkan saat ini. Riya begitu senang saat melihat acara makan malam romantis mereka ternyata di tepi pantai.


Saking senangnya Riya, ia sampai memeluk Zayden sambil melompa-lompat senang. Zayden tertawa di buatnya. Sementara Jia hanya duduk diam di bangkunya.


Zayn menatap lekat pada istrinya. "Kamu nggak suka kita makan di sini?" tanya Zayn pada Jia yang kini sedang melihat sekitar pantai.


Jia menoleh sekejab, kemudian mengangguk. "Suka, kok." jawabnya singkat saja.


"Ya, aku tahu. Abang seorang direktur. Mana mungkin seorang direktur bisa bawa uang cash banyak-banyak? Kalau aku, iya! Kemana pun aku pergi selalu bawa uang seperti yang Ummi ajarkan selama ini. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bisa jadi saat kita berjalan tanpa sengaja kita menyenggol sarang telur milik orang yang berujung pecah. Kalau kita punya uang cash kan enak? Nggak payah main transfer-transfer segala. Tinggal bayar, beres!Abang pikir ini luar negeri? Ini di kampung Bang! Nggak ada yang begituan. Kalau sampai Abang berbuat seperti itu, itu artinya Abang sombong! Dikit-dikit transfer! Nggak ada begitu, Bang kalau di sini!" ketus Jia berubah menjadi kesal pada Zayn yang kini menatap Jia dengan lekat.


Benar, apa yang Jia katakan baru saja memang benar adanya. Akan tetapi, ia memang jarang memiliki uang cahs selain hanya lima ratus ribu saja dalam dompet.


Zayn menghela napasnya. Ia bangkit dan mendekati Jia yang kini menatap ke arah laut lepas sana. Zayn berjongkok di hadapannya dan memegang tangan Jia.

__ADS_1


"Maafkan abang, Sayang. Abang salah. Tolong, maafkan suami mu ini. Abang mengaku salah. Apa yang kamu katakan itu memang benar adanya. Maafkan abang, Sayang," ucap Zayn dengan segera mengecup kedua tangan Jia yang mendadak membuat pipi Jia bersemu karena malu.


Zayden dan Riya yang saat ini sedang saling berpelukan itu terkekeh melihat tingkah keduanya.


"Mereka sudah berdamai, Bang!" ucap Riya yang diangguki oleh Zayden dengan tersenyum.


Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Riya untuk mencari kehangatan dari semilir angin malam yang berhembus menusuk pori-pori kulitnya.


"Kamu benar. Keduanya sudah berdamaian. Benar kata Jia. Jika hidup di kampung itu, nggak ada main transferan. Orang kampung kayak keluarga kita di rumah itu tahunya kalau bayar, ya, cash. Berbeda kalau di luar negeri. Kami terbiasa melakukan hal seperti itu saat di luar negeri. Kemana-mana bawa kartu tipis itu untuk membayar apapun. Abang salut sama Jia. Ternyata jiwa sosialnya itu masih kental dan menurut banget dari Oma kita dulunya, Oma Alisa." Ujar Zayden yang diangguki oleh Riya.


"Makan, yuk! Lapar, Bang!" ucap Riya yang diangguki oleh Zayden.


Keduanya duduk di meja makan yang sudah tersedia banyak makanan mewah di sana. Zayden tersenyu pada zayn yang kini juga tersenyum padanya.

__ADS_1


__ADS_2