
Paman Kevan pulang dengan membawa serta pasukan bala tentaranya itu. Tania berdecak sembari berkacak pinggang melihat semua anggota Paman suaminya itu.
Bukan hanya itu yang membuat Tania berdecak. Ternyata, Uwaknya pun tak kalah hebohnya seperti Paman Kevan. Bagaimana tidak? Uwak lana ternyata juga sudah menyiapkan bala tentara yang lebih ramai dari mereka itu.
Bahkan samapi halaman rumah mereka menghijau karena pasukan tentara satu batalion itu. Tania sampai sakit kepala dibuat oleh Uwaknya.
Uwak Lana hanya bisa terkekeh saat melihat pasukan Paman Kevan yang akhirnya pergi setelah bertemu langsung dengan pemimpin mereka.
Jenderal Sudirman. Jenderal Uwak Lana dan papi Ali. Kini, mereka sudah menghilang dari halaman rumah Uwak Lana dan papi Ali. Tania bisa bernapas lega.
Penghuni komplek itu bisa bernapas dengan lega. Mereka pun bisa keluar dari rumah mereka setelah pasukan berseragam hitam dan hijau itu pergi dari halaman komplek itu.
"Hah! Leganya! Akhirnya semut hitam vs semut hijau sudah pergi! Bisa tidur dengan nyenyak malam ini!" celutuk Tania segera berlalu meninggalkan empat orang pria yang saat ini saling pandang karena mendengar ucapan Tania baru saja.
__ADS_1
Ke empat lelaki itu terkekeh-kekeh setelah mendengar ucapannya baru saja. Ke emaptnya menggelengkan kepalanya mendnegar ucapan Tania. Mereka pun segera masuk untuk beristirahat.
Malam ini, Tania menginap dirumah papi Ali. Uwak Lana dan papi Tama pulang ke rumahnya yang berada tepat di sebelah rumah papi Ali. Bersekat dinding dan pagar saja.
Mereka berlima sudah melewati hari yang begitu melelahkan. Baik itu hati maupun pikiran mereka. Abi Kevin dan Ummi Mutia sudah kembali ke kediaman mereka. Yaitu kediaman Paman Kevan. Karena ada masalah yang harus mereka selesaikan malam ini juga.
Jadi, mereka tidak menginap disana. Tania sudah mengajak mereka berdua tadi. Tai orangtua suaminya itu meolkanya dengan alsan ada urusan yang belum selesai.
Kendra tahu itu apa. Tania sempat bertanya padanya. Tetapi, Kendra tak ingin mengatakan apa yang sebenarnya. Cukup dirinya dan kedua orangtuanya yang tahu apa masalah itu.
Di Kamar.
Tania sudah berbaring dan memejamkan kedua matanya. Kendra yang baru saja membersihkan diri, langsung bergabung dengan Tania untuk mengarungi alam mimpi.
__ADS_1
Kendra terkekeh saat melihat bibir Tania yang masih mencebik lantaran mengenang pasukan Pamannya tadi.
Kendra memeluk tubuh Tania sedikit erat. Ia memeluk Tania dari belakang. Kendra meletakkan tangan hangatnya itu di perut Tania.
Deg!
Deg!
Ada sensasi lain saat tangan itu tanpa sengaja menyentuh perut Tania yang sedikit berisi sejak terakhir kali ia menyentuhnya. Selama sebulan ini, ia sibuk bolak balik Singapura demi menyelesaikan masalahnya dengan Pamannya.
Jadi, ia tidak pernah memperhatikan jika tubuh Tania semakin berisi saat ini. Jantung Kendra semakin berdegup kencang saat merasakan nyaman di perut Tania.
Seutas senyum terbit di bibirnya. Ia mengelus perut Tania dengan lembut. Bibir itu tidak berhenti untuk tersenyum. Tangannya masih mengelus perut buncit Tania yang kian terasa.
__ADS_1
Lambat laun karena diserang rasa kantuk, Kendra akhirnya ikut Tania mengarungi alam mimpi. Ia terhanyut dalam buaian mimpi hingga tangan itu berhenti dengan sendirinya.