
Ziana memegang erat celana bahan pasien Kendra. Tangannya mengepal erat saat Paman Kevan yang baru ia tahu itu ternyata saudara kembar abi Kevin yang kini entah berada di mana.
"Katakaan apa syaratanya!" seru Kendra lagi.
Sengaja mengulang perkataan Paman nya itu. Paman Kevan menatap sinis padanya.
"Dulu, ketika istri pertama kamu masih hidup, yang aku inginkan adalah dia. Tetapi setelah aku mendengar jika dia sudah mati-,"
Deg!
Kendra melototkan matanya dengan rahang mengetat.
"Taniaku belum mati Paman!" potongnya dengan suara rendahnya.
Paman Kevan tertawa lagi. "Oh ya?"
"Ya!" jawab Kendra pasti dan sangat yakin.
Paman Kevan tertawa lagi. "Baiklah.. terserah apa katamu. Yang jelas, aku menginginkan istrimu yang lain untuk pemuas ranjangku sebagai ganti Taniamu yang sudah mati ups bukan! Wanita yang sudah mampus alias modar itu, untuk menjadi sumber kekayaan serta pemuas ranjangku yang selama ini dingin karena ibu mu tidak pernah melayaniku! Jadi.. Sebagai gantinya.. Aku ingin putri sulung Maulana untukku! Dan aku, tidak akan mengambil seluruh hartamu! Bagaimana? Kamu mau kan Kendra???" ejeknya pada Kendra yang kini rahangnya mengetat karena marah dengan ucapan tak bermoral dari Paman nya itu.
"Pertama, kau sudah melecehkan istriku! Kedua, kau juga melecehkannya dengan perkataanmu. Aku tidak akan mengizinkan Tania ataupun Ziana untuk menjadi budak ranjangmu! Maaf! Lebih baik aku kehilanagan hartaku dibandingakan aku menyerahkan mereka berdua kepadamu! Sampai kapanpun tidak akan pernah!"
Deg!
Ziana membuka matanya. Saat mendnegr ucapan penuh ketegasan dari Kendra. Matanya bersiborok dengan mata Paman Kevan yang kini menyeringai padanya.
"Terserah apa katamu. Yang jelas, itulah syarat yang aku ajukan. Terima ataupun tidak, itu terserah padamu. Karena aku yakin, jika istri keduamu itu lebih mementingkan dirimu dibandingkan dengan harta yang kau miliki. Bukan begitu Ziana puteri Maulana Akbar??"
Deg!
__ADS_1
Deg!
Kendra terkejut dengan ucapan Pamannya itu. Ia menoleh ke belakang dimana Ziana kini sedang menatap datar padanya.
Gadis kecil berusia tujuh belas tahun tadi pagi itu, kini sedang menatap Paman Kevan dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca oleh keduanya.
"Ya, Paman benar! Aku rela menukar diriku dengan harta. Asalkan kau bisa mmebebaskan Bnag Kendra!"
"Nna.." lirih Kendra semabri menggeleng padany.
"Hahaha... Kan benar kataku? Ayo, tunggu apalagi? Aku menginginkan.. Istrimu, Kendra Wirayawan!"
"Nggak akan pernah!" tegas Kendra yang kini sengaja berdiri dihadapan Ziana tanpa bergeser sedikitpun dan ia menoleh sedikit pada Ziana yang kini juga melihat padanya.
Paman Kendra tertawa melihat sikap Kendra pada Ziana. Ia bisa mengambil keuntungan dari hal itu yang membuat Kendra menoleh padanya dan segera memukul tengkuk Kendra hingga ia jatuh tersungkur dengan memegang tengkuknya yang terasa sakit.
"Bangun Bang!"
"Pergi Nna! Lari!! Bangunkan semua keluarga kita dan selamatkan dirimu! Abang bisa sendiri!"
Deg!
"Nggak! Kamu sedang sakit bang! kepala kamu berdarah lagi akibat Paman bia dab kamu itu!" ketusnya masih berusaha membuat Kendra bangun.
Paman Kevan tertawa. Ia bangkit dari duduknya karena jatuh terjengkang akibat dorongan Ziana tadi kini menarik hijab Ziana hingga terbuka yang memperlihatkan surai hitam milik Ziana yang sama persis seperti Tania.
Kendra dan Paman Kevan tertegun melihat itu. Ziana yang merasa tubuhnya terbuka, meradang melihat Paman Kevan.
Tanpa diduga ia melayangkan tinju ke wajah lelaki paruh baya itu yang membuat dirinya terhuyung ke belakang.
__ADS_1
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Brak!
"Arrgghhtt... Sialan!!" umpatnya karena begtu merasakn sakit di senjata tempurnya akibat perbuata Ziana yang mendadak itu.
Napas Ziana memburu. Kendra yang melihatnya semakin terperengah.
"Kenapa aku melihat Tania ya di dalam diri Ziana? Ah, mana mungkin Ziana berubah menjadi Tania? Mimpi kamu Ken!" gumam Kendra sambil terkekeh kecil dan terus menatap Ziana yang kini menatap garang pada Paman Kevan.
"Apa kau lihat-lihat?! Huh? Kau sudah melecehkan seorang putri dari Komandan Lana! Jadi.. Jangan salahkan aku, jika aku membalasmu! Itu belum sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan!"
Bugh..
Bugh..
Bugh..
"Aakkhhtt.. Sakitnya... Sssttt.. Allahu akbar! Apa yang kamu lakuakan??" pekik Ziana saat kakinya ditarik dan dibawa keruangan lain oleh Paman Kevan saat dirinya mencoba kembali menyerangnya baru saja.
Maksud hati ingin menendnagnya sekali lagi. Mlaah berbalik pada dirinya. Kendra melotot melihat Ziana ditarik paksa di kakinya.
"Tidak! Jangan Ziana, Paman! Ziana tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu! Jangan Ziana!!" seru Kendra sambil berlari mengikuti kemana Paman Kevan membawa Ziana.
Ziana berteriak kesakitan dan meronta-ronta untuk dilepaskan. Tetap saja. Paman Kevan malah membopongnya menuju keluar rumah dan segera memasukkannya ke dalam mobil.
__ADS_1