Princess Pratama

Princess Pratama
Mundur


__ADS_3

"Tania!!" seru Papi Tama dan mami Annisa.


Tania bergeming. "Hunny.. Jangan bicara seperti itu!"


Tania meoleh pada Kendra dengan tatapan sendu dan sangat kosong. "Menikahlah dengannya. Bukankah kamu juga menginginkannya untuk menjadi istrimu?"


Ucap Tania dengan air mata yang sudah menganak sungai. Kendra menggeleng.


"Tapi abang tidak bisa melepasmu begitu saja Hunny. Ini pun berat buatku. Mengertilah posisi ku hunny!"


Tania menggeleng, "Aku tidak bisa mengerti posisi mu tuan muda! Bagiku, jika kamu sudah menikah dengannya, maka selamanya kamu bukan lagi suamiku! Dunia dan akhirat!"


Ddduuaarr!!


"Tania.." lirih Kendra memeluk erat tubuh Tania yang lemas tidak bertulang.


Tania melepas paksa pelukan itu. Kendra tergugu. Sakit sekali hatinya saat melihat Tania menolaknya.


Tania menoleh pada Uwak Lana yang kini menatapnya dengan datar.


"Kapan pernikahan Ziana dan tuan muda. Uwak Lana?"


"Minggu depan!"


"Hoo.. Baik. Persiapkan saja segala sesuatunya. Aku mundur saat ini juga. Selamat berbahagia tuan muda. Mulai saat ini, kita bukanlah suami istri lagi! Hubungan kita selesai hari ini! Pulanglah kerumah mertua mu yang baru! Aku bukan siapa-siapa kamu lagi saat ini. Aku ingin hidup sendiri. Tanpa ada yang mengganggu ku. Jika kamu sangat ingin menikahinya, silahkan. Bukankah perusahaan mu lebih penting daripada aku?"


Deg!

__ADS_1


"Hunny.. Nggak gitu. Dua-duanya aku mau. Aku tidak bisa memilih salah satunya!" tegas Kendra lagi yang membuat senyum tipis terukir di bibir uwak Lana.


Tetapi senyum itu surut kala mendengar ucapan Tania berikutnya.


"Perusahaan lebih penting bagimu ya? Okey.. Tak masalah. Ingatlah ini tuan muda. Harta bisa dicari bersama. Tetapi seorang istri yang bisa memahami kehidupan mu, kamu tidak akan bisa menemukannya. Harta habis bisa dicari. Tapi istri pergi? Akankah dia kembali lagi??


Aku memang bodoh percaya dengan ucapan mu. Cinta? Bushit! Aku tidak percaya dengan cinta lagi. Mana ada cinta tetapi rela berbagi? Jika itu bukan nafsu??"


Deg!


Deg!


Kendra dan Uwak Lana mematung mendengar ucapan Tania.


"Jika cinta, tidak perlu berbagi. Jika cinta, tidak untuk saling menyakiti. Cinta itu fitrah. Kasih sayang yang nyata dan bersifat hakiki. Apakah yang kamu lakukan ini atas nama cinta tuan muda?? Jika iya. Maka kamu salah besar!


Kamu ingin menikahinya karena perusahan mu bukan? Ingat ini tuan muda! Ketika perusahaan mu hancur, akankah kamu juga menyalahkan kehancuran itu karena sudah menikahinya?"


Lagi, Kendra dan Uwak Lana terpaku di tempatnya dengan mata menatap datar pada Tania yang kini terus mengeluarkan cairan bening hingga membasahi hijab nya.


"Kamu ingin menikahinya karena sebuah syarat. Ingat tujuan mu menikahinya. Jika suatu saat perusahaan mu bangkrut, maka jangan salahkan adikku dalam hal ini. Salahkan dirimu dan juga calon ayah mertuamu yang begitu egois!


Demi sebuah pekerjaan dan kerja sama kalian membuat sebuah syarat. Syarat yang kapan saja bisa merusak kehidupan kalian semua. Tapi tak apa. Bukankah itu yang kalian mau?


Kalian beranggapan jika perusahaan itu akan terus maju berkat bantuan orang lain yang sudah memiliki syarat?


Ingat tuan muda. Roda itu berputar. Ada kalanya kita dibawah dan adakalanya kita diatas. Tidak selamanya dibawah tidak juga selamanya diatas!"

__ADS_1


Deg!


"Maka dari itu, jika kamu menikahinya dengan sebuah syarat dan sebagai jaminan, maka pikirkan ulang lagi. Menikah bukanlah ajang permainan kerja sama dalam perusahaan. Yang akan menghasilkan untung dan rugi.


Perusahaan akan maju jika di pimpin oleh seorang yang kompeten di bidangnya. Tetapi perusahan itu bangkrut pasti itu sebuah takdir yang harus dialami oleh setiap pengusaha.


Bangkrut bukan karena orang dalam. Tetapi karena takdir! KEPUTUSAN TAKDIR! Ubah niatmu untuk menikahinya.


Dan untuk Uwak, pikirkan sekali lagi. Jangan sampai putrimu yang terluka karena perjanjian itu. Kalian para orang tua tidak pernah bertanya apa yang menjadi keinginan kami.


Kalian selalu memaksakan kehendak. Apa yang terikat dan sudah di sepakati, maka harus di lakukan!


Ya, aku akui aku memang tidak sebaik wanita shalihah lainnya. Tetapi aku tidak bermuka dua. Yang mana dihadapan kalian semua aku terlihat baik, sedang dibelakang kalian aku selalu menangis. Aku tidak seperti itu! Aku tidak bisa menutupi cemburu dan sakit hatiku saat mengetahui jika suamiku ternyata akan menikah lagi dengan sepupu ku. Adik kesayangan ku.


Tak apa. Aku ikhlas. Lanjutkan saja semua ini. Aku mundur! Dan kamu tuan muda! keluar dari rumah ini! Kembalilah kepada tempat yang semestinya.


Bukankah kamu lebih dulu dipertemukan dengan Ziana saat ia masih bayi ketimbang dengan ku yang saat itu masih berumur lima tahun?!"


Deg!


"Apa?!" seru uwak Lana begitu terkejut


Tania terkekeh, tapi sangat sinis. "Tidak perlu terkejut seperti itu Wak! Aku ini siapa lah. Bukankah Ziana lebih dulu bertemu dengan tuan muda dibandingkan dengan ku yang saat itu masih berusia lima tahun dan pada saat mami hamil ketiga adikku??"


Ddduuaarr!


"Tania.." lirih Papi Tama segera merangkulnya dan membawa duduk.

__ADS_1


Tetapi Tania melepaskan tangan Papi Tama dengan lembut. "Maaf Pi. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semuanya sudah selesai. Kakak tidak apa-apa. Katakan pada mereka semua. Kakak capek! Keluarkan semua perlengkapan tuan muda dan antarkan kerumah uwak Lana. Kakak ikhlas walau harus terluka. Kakak mau istirahat pi. Mami? Bawa segera pakaiannya keluar! Kakak ingin sendiri.." lirih Tania dengan segera berlalu meninggalkan para orang tua yang kini tertegun dengan ucapannya baru saja.


Fakta mengejutkan yang baru saja Tania katakan mengguncang jiwa Uwak Lana dan Ziana yang kini menatap sendu pada kakak nya itu.


__ADS_2