
Fanya dan Fania tertegun melihat sang kakak menangis tersedu seperti itu di depan pintu kamar mereka.
Kedua gadis kecil yang masih duduk dibangku SMP kelas satu itu keheranan melihat sang kakak yang menangis di dalam kamarnya tanpa melihat, jika keduanya sedang berbaring disana. Fanya mendekati Ziana dan memeluknya. Yang membuat gadis itu tersentak kaget.
Ia mendongak dan melihat adik bungsunya kini sedangg memeluknya.
"Kak..." sapanya yang membuat Ziana gelagapan karena ketahuan oleh kedua adiknya.
"Fanya? Fania? Ma-maaf.. Kakak nggak tahu kalau kalian di kamar. Maaf.. Kakak pergi dulu. Mau turun ke bawah. Teman kakak sedang menunggu kakak!" Jawabnya dengan segera bangkit dan berlalu meninggalkan kedua adiknya yang tertegun karena kelakuannya.
Fania mendekati Fanya dan memeluknya. "Jangan di kejar. Biarkan kakak pergi. Saat ini, ia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Ayo. Kita istirahat lagi," bujuknya pada Fanya yang masih mematung dengan tatapan sendu nya pada sang kakak.
Ia pun menurut dan kembali berbaring diranjang keduanya.
Sementara Ziana kembali turun ke bawah setelah tadi ia mengusap kedua matanya dan mengompresnya sedikit dengan batu es.
Ia kembali ceria seperti biasa. Walau matanya terlihat sedikit sembab, ia tetap tertawa dan tersenyum bersama teman sekelasnya.
Sedangkan di kamar Ziana, Kendra menatap nanar pada langit-langit kamar Ziana yang bercorak hello Kitty itu.
Ia mengingat Tania yang kini sudah tiada. Tania pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Dan tidak akan pernah kembali lagi.
Rasa dihati yang memang sudah sesak saat mendengar ucapan Ziana tadi, kini kembali merasakan sakit yang tiada tara.
Kendra tersedu.
Ia memegang dadanya yang begitu sesak dan juga jantungnya yang terus di pompa dengan hebat. Kepalanya berdenyut dan terasa sakit kembali.
__ADS_1
Ia memegang kepalanya itu masih dengan menangis.
"Hiks.. Kenapa kamu harus pergi Hunny? Hiks.. Abang nggak percaya jika kamu sudah tiada! Kamu masih hidup Hunny. Kamu masih hidup! Di dalam tidurku, aku bisa melihat jika kamu sedang bermain dengan kedua anak kita. Bermain bersama tanpa mengajakku bersama kalian.
Hiks.. Hunny.. Kamu kemana? Kenapa kamu seolah di telan bumi? Kamu kemana Hunny? Kenapa kamu pergi? Tidakkah kamu kasihan padaku? Kenapa kamu pergi meninggalkan ku Hunny.. Hunyy.. Tania.. Aaakkhhtt.." teriak Kendra saat merasa kepalanya semakin sakit yang membuat Uwak Lana terkejut bukan main.
Dirinya yang memang ingin melihat Kendra karena Ziana yang memintanya malah terkejut mendengar teriakan pemuda itu.
Tanpa sadar, ia menyentak pintu kamar itu dan melihat Kendra yang kini sedang meringis menahan sakit.
"Kendra!!" serunya begitu keras hingga membuat Uwak Maura kini pun ikut berlari ke atas bersama dengan dokter Umar teman Uwak Lana.
Mereka berdua tertejut saat melihat Kendra yang sudah sadar dan meringis menahan sakit. Dokter Umar segera memeriksakan keadaan Kendra.
Ia segera melakukan tugasnya sebagai seorang dokter. Kendra kembali tenang setelah obat itu menjalar ke kepalanya.
"Alhamdulillah Ken. Kamu sudah sadar kembali. Kami sempat khawatir jika kamu tidak akan bangkit lagi," ucap Uwak Maura yang membuat Kendra kembali membuka matanya.
Deg!
Deg!
Kedua paruh baya itu terkejut melihat tatapan menghunus tajam dan begitu dingin dari Kendra untuk keduanya.
"Kenapa? Kalian ingin aku mati, iya?"
Deg!
__ADS_1
Uwak Lana terkejut dan menggeleng, "Bukan begitu Ken. Kami senang kamu kembali lagi. Dan juga kamu akan segera sembuh jika sudah sadar seperti ini. Dan kita akan meneruskan perjanjian-,"
"Perjanjian apa?"
Deg!
Keduanya terpaku.
"Perjanjian yang membuat Tania ku tiada, iya? Karena perjanjian itu, Tania ku kini sudah tiada. Ya, itu menurut kalian. Tapi tidak denganku!"
Deg!
Keduanya menatap Kendra dengan lekat.
"Bagi kalian, Tania sudah mati! Tetapi tidak denganku! Selagi napas ini berhembus dan menghirup udara, maka Tania pun masih hidup hingga saat ini!"
Uwak Lana tertegun mendengar ucapan Kendra yang menolak sekaligus menyangkal kematian Tania.
"Tapi Ken. Kamu sendirisudah melihat bukan saat di Singapura? Bahwa Tania sudah dikuburkan?" Ucap Uwak Lana pada Kendra yang kini terkekeh sinis padanya.
"Itu menurut kalian. Tetapi tidak untukku! Selama Kendra masih bernapas, maka Tania pun akan terus bernapas. Kami satu kesatuan Wak! Jika salah satu dari kami yang sakit, maka yang satunya pun ikut merasakannya! Jadi.. Aku tidak percaya jika Taniaku sudah tiada! Taniaku hingga saat ini masih hidup! Aku menyangkalnya! Jika jenazah yang dikuburkan itu bukan Tania! Tetapi orang lain!"
Deg!
...****************...
__ADS_1