
Riana tidak menjawab pertanyaan Kiana. Ia sedang mengingat apa yang tadi malam terjadi padanya.
Blusshh..
Semburat merah terbit di pipinya. Kiana terkekeh. "Tak usah Kakak jawab, aku tahu apa yang Kakak rasakan. Akan tetapi, kenapa sampai Kakak mengingat kejadian itu lagi? Bukankah pemuda itu sudah di gantikan oleh Bang Dzaki? Bukankah Bang Dzaki yang dulu pernah menyelamatkanmu dari pemuda gila itu?" tanya Kiana hati-hati takut membuat Kakaknya itu tertekan.
Riana memelintir kedua tangannya. Dzaka mendekati istrinya dan duduk di samping Kiana saat ini. Ucapan serius Kiana membuat Dzaka penasaran tentang apa yang terjadi pada adik sepupunya itu.
__ADS_1
Dzaki menatap lekat pada adik sepupunya itu. Kiana tersenyum. Ia tahu arti tatapan itu.
"Aku tahu semuanya bang Dzaki. Tak usah kamu tutupi. Karena selama kalian terpisah dari kami berdua, hanya aku yang bisa menangani kakak. Ia trauma dengan kejadian dulu. Aku juga tahu saat kalian dulu pulangnya dalam keadaan tidak beres. Mana saat itu, Kakak tidak ingin jauh darimu sedikit pun hingga kalian tidur sekamar." Ucap Kiana yang membuat Dzaki terkesiap karena adiknya itu tahu apa yang ia lakukan secara diam-diam dari semua orang.
Kiana tersenyum lagi. "Katakan Kak. Apa yang kamu takutkan? Bukankah suamimu sudah menyentuhmu? Ia sudah menghapus jejak itu tadi malam? Lantas, kenapa kamu jadi kembali mengingat hal itu? Ingat, Kak. Kamu tidak akan sembuh jika kembali ke masa lalu. Bang Dzaki masa depanmu. Bukankah kamu sangat ingin menikah dengannya ketika kamu masih SMA dan Bang Dzaki waktu itu sudah kuliah?" tanya Kiana lagi yang membuat Riana menitikkan air matanya.
"Abang tidak akan meninggallkannya, Kia. Dia istriku! Selamanya aku akan seperti itu!" balas Dzaki merasa tersinggung dengan ucapan Kiana baru saja.
__ADS_1
"Aku tahu itu. Akan tetapi, kamu tidak tahu dengan masa depan Bang Dzaki. Kamu tahu sendirii seperti apa Kakakku. Kami sengaja mengambil jurusan ini untuk bisa membuat Kakakku bisa sembuh dari traumanya. Saat kuliah, dirinya selalu mengatakan ingin sembuh. Dan itu hanya denan bantuan dokter serta kamu, sebagai suaminya kelak. Kamu tahu Bang? Saat kalian mengabarkan tentang pesta pernikahan kalian satu bulan yang lalu, Kakakku kembali kambuh! Aku sengaja menutupi keadaannya dengan cara mengatakan lambungnya kambuh dan harus di rawat. Dia terlalu takut kamu tinggalkan, Bang. Karena menurutnya, hanya kamu yang mau menerima dirinya yang sudah ternoda."
"Tidak! Riana masih suci saat aku menyentuhnya! Ia masih perwan!" tegas Dzaki sungguh-sungguh.
Kiana mengangguk. "Ya, aku tahu. Tetapi, bukan itu yang menjadi ketakutannya. Kakakku takut di tinggal olehmu. Sementara dirinya sudah tidak sempurna. Sesempurna apapun wanita, jika tubuhnya sudah di jamah dan di cicipi oleh laki-laki lain selain suaminya, maka ia kan tetap ternoda. Aku berusaha menyembuhkan psikisnya. Tetapi, sulit Bang. Jalan satu-satunya hanya mengatakan kejujuran ini pada mami Tania. Mami Tania pakar itu. Bukankah abi dulu juga begitu?" balas Kiana yang membuat Dzaka dan Dzaki tertegun sejenak memikirkan ucapan Kiana yang memang benar adanya.
Tak ada cara lain selain harus jujur pada mami Tania. Hanya padanya saja, tidak dengan keluarga yang lain. Dzaki merenung memikirkan hal itu. Akankah istrinya sembuh dari trauma itu? Dzaki pikir, hanya dirinya yang tahu. Ternyata, ada Kiana juga yang tahu tentang masalah ini.
__ADS_1
Typo, bertebaran, nanti othor perbaiki!🙏🙏