
Setelah memutus sambungan ponselnya secara sepihak, mami Annisa segera bersiap menuju ke dalam pesawat. Karena panggilan pesawat yang akan berangkat ke Indonesia akan segera berangkat.
Papi Tama dan Aggam sudah lebih dahulu masuk kesana. Mereka tinggal menunggu sang ratu saja.
Setelah semua penumpang masuk ke dalamnya, barulah pesawat burung elang itu berangkat dan lepas landas dari Bandara Internasional Changi Airport Singapura.
Menuju tanah kelahiran dua orang berbeda usia itu yang kini sedang berbicara santai sampai tiba di tujuan.
Sementara kediaman mereka saat ini sedang di perketat oleh Gading selaku IT di perusahaan mereka.
Kenapa?
Karena saat mereka tiba dirumah tadi, alaram tanda bahaya berbunyi saat mobil mewah mereka masuk ke dalam garasi.
Hal yang tidak pernah terjadi tetapi terjadi saat tadi yang membuat mami Annisa segera melajukan mobil itu keluar rumah mereka dan menuju bengkel milik papi Tama yang di sediakan khusus untuk merawat mobil mereka yang ada disana.
Sampai disana, ia sendiri yang mengecek alat itu. Benar saja. Ada sebuah drone berukuran kecil menempel di bagasi mobilnya bagian bawah.
Papi Tama yang tahu makasud mami Annisa segera membantunya. Mereka berdua bekerja sama untuk membuka drone yang sudah melekat kuat itu. Sebelumnya sengaja mereka berikan virus agar drone itu tidak beroperasi lagi.
Seperti dugaan mami Annisa. Benar jika itu drone milik perusahaan Kendra yang berada di Singapura juga.
KW.
Singkatan nama Kendra Wiryawan dan juga kakek Kendra yang bernama Kendaraksa Wiryawan. Sosok seorang Panglima yang mami Annisa kenal dan juga Uwak Lana sangat kenal.
Sang panglima yang pernah menugaskan Uwak Lana dan Papi Lana untuk terakhir kalinya dimana papi Ali sempat hilang hingga enam tahun lamanya.
__ADS_1
Beliau memiliki dua orang putra kembar yang bernama Kevin Wiryawan dan Kevan Wiryawan yang sengaja sang Panglima sembunyikan karena terlalu memiliki sifat tidak baik dan selalu mempermalukan dirinya.
Ia sengaja di kurung di pulau antah berantah yang tak bertuan karena ulahnya itu. Sampai saat ini ia masih juga disana. Orang-orang mami Annisa dan papi Tama sudah membuktikannya.
Dan sekarang. Yang menjadi pertanyaan nya ialah. Jika yang di Medan merupakan Paman Kevan, lantas yang di pulau antah berantah itu siapa?
Apakah Kevan?
Mereka saling bertukar posisi?
Tetapi buat apa??
Berbagai macam pikiran dan dugaan sementara dari keduanya setelah bisa mendengar dan menyadap percakapan orang-orang suruhan itu.
Fakta yang baru saja Mami Annisa dan papi Tama tahu. Jika yang di Medan bersama Uwak Lana itu bukanlah Kevin. Melainkan Kevan yang disebut kain kavan oleh papi Ali tadi saat mereka berbicara di bengkel papi Tama yang berjarak lima ratus meter dari rumah utama mereka yang ada di Singapura.
Dan kenapa?
Adakah yang belum ia tahu?
"Sayang? Annisa, istri kecilku??"
Deg!
Mami Annisa terkejut,
"Eh? I-iya Bang? Kenapa? Abang butuh sesuatu??" tanya mami Annisa sedikit tergagap.
__ADS_1
Papi Tama terkekeh, Ia merasa lucu melihat tingkah mami Annisa yang terkejut dan berbicara tergagap padanya.
"Kamu kenapa Sayang? Masih memikirkan hal itu lagi?" tanyanya yang diangguki oleh mami Annisa.
"Hem, aku sedang berpikir aja sih. Jika yang di Medan itu Kevan, lantas Kevin abinya Kendra apakah yang di pulau itu? Terus, apakah Kak Mutia tidak tahu tentang suami nya yang asli?" jawab mami Annisa yang diangguki oleh papi Tama.
Sambil membenahi putra bungsunya yang terlelap di dada bidangnya, ia menjawab ucapan mami Annisa.
"Kita tidak tahu dengan masalah itu. Yang jelas, satu fakta sudah terungkap sekarang. Yang menjadi pertanyaannya ialah.. Kenapa Kevan sampai melakukan hal seperti ini hingga bertahun-tahun? Bahkan Kendra sendiri pun tidak tahu? Apalagi Mutia? Mungkin benar yang dikatakan Ali tadi. Jika Kevan melakukan ini karena harta. Karena obsesinya. Padahal menurut Ali, perusahaan itu bukan lagi miliknya. Tetapi milik menantu kita!"
Mami Annisa menoleh pada papi Tama yang kini menatapnya dengan lekat.
"Abang benar. Masih banyak teka teki yang belum kita tahu."
"Ya, kamu benar! Belum lagi kita tahu masalah itu, tapi masalah baru sudah muncul lagi. Lihatlah yang terjadi saat di Medan. Abang kamu dan keluarga nya 'kan yang menjadi sasaran si kain Kavan? Jika untuk masalah perusahaan itu bangkrut, memang sudah seharusnya kita lakukan. Agar perusahaan itu cepat berpindah tangan. Eh, tak tahunya malah kacau seperti ini.
Keturunan Wiryawan ini memang sangat meresahkan. Jika itu Kevin, Abang tahu orangnya seperti apa. Ia juga teman Abang loh Sayang, saat kita di pesantren dulu."
Mami Annisa terkejut dengan fakta yang baru saja di dengarnya. "Jadi.. Abang kenal dengan Kevin?"
Papi Tama mengangguk. "Kenal banget malahan. Bahkan ketika ia menikah dengan Mutia aja sempat ia kirimkan fotonya sama Abang. Tetapi yang jadi pikiran Abang saat ini ialah.. Kenapa ia rela bertukar posisi dengan Kevan hingga puluhan tahun? Bahkan saat Kendra masih berumur lima tahun pula? Pasti ada yang tidak beres!"
Deg!
"Hah? Lima tahun? Darimana Abang tahu hal ini? Kenapa Abang diam saja dan tidak membicarakan masalah ini dengan ku?" kesal mami Annisa yang dijawab dengan kekehan oleh papi Tama.
"Gimana Abang mau cerita, Sayang? Lah wong kamunya langsung nggak suka dan ketus gitu ngomongnya jika menyangkut menantu kita itu??" mami Annisa mendelik sekaligus meringis.
__ADS_1
Papi Tama terkekeh lagi.