
Setelah kenyang makan makanan dari mami Annisa, Kendra membawa keduanya yang ingin bertemu dengan Ummi Mutia yang kini seperti orang bingung dan linglung.
Kendra membawa mereka menuju ke kamarnya yang berada bersebelahan dengan kamar Uwak Maura yang kini sedang bersama Uwak Lana yang sudah lumayan baik.
"Masuk Mi, Pi. Ummi udah bangun kok sedari tadi. Palingan lagi duduk di depan jendela kamarnya." Ucap Kendra pada keduanya yang kini mengangguk dan melangkah masuk menuju ke dalam kamar Ummi Mutia.
Benar. Ummi Mutia sedang duduk di depan jendela kamarnya dengan mata memandang lurus ke depan sana.
Kendra berhenti tepat di belakangnya. Ia menepuk pelan bahu sang ummi yang segera menoleh padanya.
"Ummi.." panggil Kendra yang segera idjawab dengan gerakan badan oleh Ummi Mutia.
Beliau tersenyum lembut pada Kendra yang kini berjongkok di hadapannya.
"Ummi masih memikirkannya?"
Ummi Mutia menggeleng dan tersenyum, "Enggak.. Ummi nggak mikirin abi eh bukan Paman kamu lagi kok. Ummi hanya sedang berpikir. Bagaimana caranya membawa abi kamu kembali dari pulau antah berantah itu." Jawabnya yang diangguki oleh Kendra.
"Untuk masalah itu, kita pikirkan nanti saja. Lihatlah di belakang Ummi. Siapa yang datang ingin menemui Ummi," ucapnya sambil menunjuk kedua mertuanya yang kini tersenyum tipis padanya.
Ummi Mutia pun segera menoleh kemana arah mata Kendra melihat.
Deg!
Deg!
Deg!
Spontan saja ia berdiri dari tempat duduknya yang di ikuti juga oleh Kendra dengan sedikit terhuyung. Aldo yang selalu setia bersama nya, segera memegangi lengan Kendra.
"Hati-hati Ken!" tegurnya pada Kendra yang diangguki oleh suami Tania itu.
"Apa kabar Tia? Masih ingat dengan ku? Sahabat dekat suami kamu semenjak kami SMP dulu??"
__ADS_1
Deg!
Deg!
"Ba-bang Ta-tama!" ucapnya tergagap dan sangat terkejut kala melihat jika papi Tama dan mami Annisa ada disana bersama mereka.
Hal yang selalu dinantikan oleh dirinya dan abi Kevin dulunya. Kaki Ummi Mutia melemah seketika. Ia jatuh terduduk di kursinya kembali dengan mata berkaca-kaca.
"Hiks.." dirinya terisak.
Papi Tama segera mendekatinya dan duduk dihadapannya setelah menarik sebuah kursi dan di ikuti oleh mami Annisa.
Mami Annisa memegangi tangannya. Ummi Mutia semakin terisak. Ia tersedu saat genggaman tangan itu semakin kuat meremat tangannya.
Papi Tama tidak berbicara. Ia menunggu Ummi Mutia berhenti dari menangisnya. Ziana yang datang dengan nampan minumannya terkejut melihat mertuanya itu sedang menangis seperti itu.
"Ummi kenapa, Mi, Pi?" Tanya Ziana pada keduanya yang di jawab dengan senyuman kedua orang itu.
Ia segera duduk disamping Aldo yang bersebelahan dengan Kendra.
"Apa kabar kak Tia? Masih ingat dengan ku?"
Ummi Mutia mengangguk. "Hiks.. Tentu aku ingat! Kamu adik kecilnya bang Lana! Hiks.." isaknya semakin tersedu.
Mami Annisa terkekeh mendengar jawaban Ummi Mutia.
"Jelaskan Tia! Kenapa kamu menentang pernikahan putriku dan putramu? Ada apa? Apakah ini rencana mu dan Kevin? Apakah kamu sudah tahu jika Kevan bersama kamu saat ini? Lantas kenapa kamu diam saja? Dan ikut serta dalam permainan nya?"
Deg!
Ummi Mutia bergetar tubuhnya. Ia semakin tersedu. "Jawab Tia! Abang butuh jawaban mu! Bukan tangisan mu!"
Deg!
__ADS_1
Lagi jantung itu terus berdegup bertalu-talu kala mendengar suara pria paruh baya yang sangat ia kenali dan juga suaminya. Abi Kendra yaitu Kevin yang saat ini entah berada di pulau mana.
Ummi Mutia masih tersedu. Tangannya terus bergetar memegangi tangan mami Annisa.
"Jawab Kak. Apa yang menjadi alasan mu hingga menolak putriku menjadi menantumu? Bukankah kalian berdua sudah sepakat dulunya, jika kalian berdua memiliki anak laki-laki maka akan kalian jodohkan dengan putri dari bang Tama??"
Deg!
Deg!
Kendra, Aldo dan Ziana terkejut mendengar pertanyaan mami Annisa. Mereka bertiga menatap datar pada ketiga orang tua itu.
"Jawab Tia!"
Ummi Mutia tersentak kaget saat mendengar suara bas tetapi lembut itu begitu menekannya saat ini.
Ia tertunduk dan melepaskan tangannya dari mami Annisa.
"Kenapa kamu diam Tia? Adakah yang kami lewatklan hingga kami tidak tahu apapun? Katakan Tia! Apa alasan kamu menolak jika Tania yang menjadi menantumu? Sementara Kevin sendiri menginginkannya??" tanya papi Tama mengulangi pertanyaan yang sama.
Yang belum juga mendapatkan jawaban nya dari Ummi Mutia yang kini masih saja terisak.
"Abang tidak tahu dimana letak kesalahan kami padamu, Tia! Kenapa kamu tega menyuruh Kendra untuk menikahi Ziana, sementara kamu tahu jika Kendra sangat mencintai Tania? Putri ku? Kenapa kamu seolah memaksa Kendra untuk melupakan Tania? Sementara kamu tahu, sedari mereka kecil keduanya sudah terikat?
Abang masih ingat Tia! Saat pertama kali kamu dan Kevin datang ke hotel kami dan bertemu kami disana. Disaat Annisa baru saja mengandung anak kembar kami. Kamu tahu sendiri jika Annisa sangat menyukai Kendra dulunya. Lantas, kenapa sekarang kamu berubah? Adakah yang tidak kami ketahui Tia? Apakah ini rencana kamu dan Kevin? Atau rencana Kevan?"
Deg!
Deg!
Ummi Mutia mendongak melihat pada mereka berdua. Ia melirik putranya dan juga menantunya kini sedang menatapnya lekat menunggu jawaban darinya.
Ummi Mutia menunduk dan menghindari kontak matanya dengan Kendra yang kini menatapnya lekat. Karena menunggu jawaban darinya.
__ADS_1