
Cukup satu jam perjalanan, kini ke empat manusia berbeda usia itu sudah tiba dikediaman sementara mereka.
Kediaman almarhum Opa Gilang jika sedang berkunjung ke Jakarta. Tania tahu itu. Tania memegang lengan Kendra saat keduanya turun dari mobil.
Baru selangkah kaki itu melangkah, sudah terdengar suara pekikan riang anak kecil dari dalam rumah satu lantai itu.
Rumah besar memiliki banyak kamar, tetapi begitu asri. Karena sekitar rumah banyak pepohonan yang membuat lokasinya terasa sejuk saat tiba didepan rumah besar itu.
"Mamiiii!!!! Oma!!!! Opa!!!!" seru kedua bocah kecil itu sembari berlari mengejar Oma dan Opanya.
Tania tersenyum, ia melepaskan tangannya dari lengan Kendra dan mendekati dua jagoan ciliknya itu.
Sementara Kendra, mata sipit nan tajam itu menatap pada bocah kecil itu dengan mata berkaca-kaca.
Kedua bocah kecil itu memeluk Tania dengan erat. Keduanya begitu merindukan Tania. Karena berpisah dua hari darinya.
Keduanya memeluk Tania sangat erat dengan mata menatap polos pada lelaki yang kini tersenyum melihatnya.
"Abi Ken??"
Deg, deg, deg..
Jantung Kendra berdetak tidak karuan saat mendengar suara halus salah satu putranya itu. Tania mengurai pelukannya kala melihat tatapan polos kedua putranya tertuju pada Kendra yang kini tersenyum manis pada putranya itu.
Tania mengusap kepala putranya. "Temui abi, kalian. Ayo!" Tania menyuruh kedua putranya untuk menemui Kendra.
Kendra yang merasa tubuhnya begitu kurus dan merasa tidak pantas, hanya berdiri mematung saja ditempatnya berdiri.
Ia berjongkok untuk menyambut kedatangan kedua putranya itu. Ada rasa was was dihatinya saat melihat tatapan kedua putranya yang bingung saat melihatnya.
__ADS_1
Tetapi kedua tungkai gemuk putranya itu tetap berjalan ke arahnya. Semua momen itu tidak luput dari sorotan Danis yang kini sedang merekam melalui ponsel miliknya.
Kendra tersenyum lirih. Ia merasa jika tubuhnya tidaklah setampan dulu. Ia merasa rendah diri saat melihat tubuh saudara iparnya yang kini merangkul bahu Tania.
Kendra menundukkan pandangannya karena tidak ingin terlihat menyedihkan dihadapan ipar dan juga mertuanya.
Ia mengusap bulir bening yang menetes di pipinya.
Grep!
Cup!
Cup!
Deg!
Ia jatuh terduduk karena tubrukan dua bocah tampan itu kini memeluknya dengan sangat erat. Kendra melihat Tania yang kini tersenyum manis padanya. Begitupun dengan kedua mertuanya.
Bahkan mami Annisa sampai menyusut bulir bening yang mengalir di pipi tuanya yang masih cantik itu.
Beliau mengangguk pada Kendra. Kendra yang sadar, menggerakkan kedua tangan kurusnya untuk memeluk tubuh chubby kedua putranya itu.
"Putraku.." ucapnya dengan leher tercekat dan buliran bening yang sudah mengalir dipipinya.
"Hiks.. Abi! Abi Ken! Hiks.. abiii!!!" teriak keduanya membuat Kendra segera memeluk tubuh chubby itu dengan sangat erat.
Kendra tertawa saat kedua putranya itu mengecup pipinya hingga berulang kali masih dengan menangis bahkan sampai sesegukan.
Begitu pun dengan Kendra. Ia tertawa tapi menangis. Mereka berempat yang melihatnya terharu. Apalagi Tania. Inilah saat-saat yang ia tunggu. Melihat kedua putranya bertemu Kendra untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Masih teringat oleh Tania, dua bulan yang lalu saat Tania menujukkan sebuah video tentang Kendra yang waktu itu sedang dirawat oleh tante Bella.
"Ini siapa, mi? Abi Ken, kah?"
Deg!
Deg!
Jantung Tania serasa dire mas kuat saat mendengar ucapan putranya.
"Darimana kalian tahu, jika ini abi, kalian?" tanya Tania pada putra kecilnya itu.
Kedua putra Tania itu melihat Tania dengan tatapan polosnya. "Kami beltemu abi didalam mimpi. Wajahnya cama pelsis sepelti itu!" tunjuk keduanya pada layar ponsel yang kini Tania pegang.
Untuk sesaat Tania tertegun. Bagaimana mungkin anak dua tahun bisa bertemu ayahnya didalam mimpi? Bukankah keduanya belum tahu apa arti mimpi? Tapi ini?
"Mami!" panggil kedua bocah kembar itu.
"Hah? Iya! Terus?" tanya Tania lagi pada kedua putranya itu.
"Abi Ken cedang cakit saat ini. Kami ingin menemuinya. Bicakah mami mengantar kami padanya?" tanya putra sulung Tania yang begitu lancar saat berbicara walau sesekali masih cadel.
Tapi saat itu, ia begitu lancar dalam berbicara pada Tania mengenai abinya.
Tania tersenyum, "tentu sayang. Mami akan mempertemukan kalian berdu dengan abi. Tapi ingat! Jangan takut padanya, ya? Abi Ken saat ini sedang sakit. Masih butuh bayak obat untuk ia sembuh. Maka kalian berdua, harus membantu mami untuk mengobati abi Ken. Kalian paham?" kata Tania pada kedua putranya.
"Siap, Mom!" jawab keduanya begitu kompak yang membuat Tania gemas dengan kedua anaknya itu.
Tania mengusap sudut matanya yang basah saat melihat putranya menuntun Kendra untuk masuk kedalam rumah mereka.
__ADS_1