
Kendra sudah selesai makan saat salah seorang perawat ingin bertemu dengan Dokter Kenan karena ada pasienya yang akan melahirkan.
"Sayang, titip Kendra dulu ya?" katanya sambil memberi kode pada Dokter Bella yang diangguki dengan tersenyum pada suaminya itu.
Dokter Kenan pun segera berlalu setelah ia mengecup kening dokter Bella dan berbisik lirih yang tidak bisa di dengar oleh Kendra yang kini sedang melamun melihat arah taman.
Mata Dokter Bella berbinar saat mendengar kabar itu. Ia pun mengangguk cepat.
"Cepat sekali anak itu pulangnya? Mungkin sudah tidak sabar bertemu dengan suaminya?" Gumam dokter Bella yang terdengar oleh Kendra.
Pemuda tampan tetapi brewokan itu menoleh padanya. Ia tersenyum, "ayo masuk Ken. Ada yang ingin bertemu denganmu." Katanya sambil mendorong kursi roda Kendra menuju keruangannya kembali.
"Siapa tante? Ummi, ummi? Apa abi? Abi? Huh! bukan! Hahaha.. Paman sialan! Bang sat!" umpat Kendra yang membuat Dokter Bella terkekeh.
Begitupun dengan salah seorang perawat yang tadi melapor pada Dokter Kenan kini mengikuti keduanya dari belakang.
"Bukan Paman sialan kamu itu Ken.. Tapi orang lain! Seseorang yang begitu ingin bertemu denganmu setelah melihat keadaanmu yang sebenarnya. Tapi dia tibanya nanti malam. Untuk saat ini, kamu istirahat dulu ya? Mau tiduran boleh, atau mau Tante putarkan ayat AlQur'an lagi diruangan kamu??" tanya nya pada Kendra yang diangguki olehnya dengan cepat.
"Boleh, boleh! Aku mau mengaji! Sama sholat! Tapi tunggu Tania dulu. Kalau ada Tania, pastilah menyenangkan! Hihihi..." ia terkikik geli mengingat Tania.
Dokter Bella mengusap surai hitam Kendra yang kini semakin panjang saja saat terakhir kali ia memotongnya. Ia terharu melihat pemuda itu.
Pernah dokter Bella membujuknya untuk memotong rambutnya yang sudah panjang sebahu itu, tapi Kendra menolaknya. Ia bilang,
"Nggak! Nggak mau! Biar rambut aku panjang Tante! Nanti, nanti, Tania pergi dariku saat melihat wajah burukku! Jika aku menutupinya dengan jambang dan rambut ini, 'kan Tania tidak takut? Iyakan? Hooh, iya Tania nggak akan takut! Tania nggak akan takut! Tania jangan pergi! Tania takut padaku! Tania nggak boleh pergiii!!" teriaknya dengan kembali mengamuk yang membuat Dokter Bella panik dan segera menyuntikkan obat penenang yang Prince sarankan untuknya.
Mengingat itu Dokter Bella tidak jadi lagi membujuknya untuk memotong rambutnya. Ia hanya bisa memotong ujungnya sedikit saja. Itu pun saat ia terlelap dalam pengaruh obat. Dan saat bangun, ia kembali mengamuk saat melihat rambutnya kembali pendek.
__ADS_1
Hingga Dokter Kenan memutuskan. Mereka membiarkan rambut dan jambang itu memenuhi kepala dan juga wajahnya. Takut, terjadi hal seperti itu lagi.
Dokter Bella segera menyuruhnya untuk istirahat. Sedang dirinya kembali bertugas kembali. Kendra tidak lagi mengamuk. Ia kini sudah tenang dan terlelap karena pengaruh obat yang diminumnya saat sarapan baru saja.
*****
Malam harinya.
Tap.
Tap.
Tap.
Terdengar suara telapak kaki berlari dikoridor rumah sakit dengan begitu kencangnya. Dokter Kenan dan Dokter Bella serta dua orang paruh baya dibelakangnya sampai ketinggalan dibuatnya.
Ia terus berlari menuju keruangan Kendra. Sementara Kendra yang sedang terlelap kembali mengigau memanggil nama Tania.
"Hunny.. Hunny.. Hunny.. Abang disini. Kemari Hunny.. Tania.. Cintaku.. Istriku.." lirihnya dengan mata terpejam dan tangan yang terangkat ingin menerima kedatangan Tania.
Gadis cantik itu terus berlari dengan dada yang terus terasa sesak. Ia mendengar setiap ucapan sang suami di telinganya. Air matanya kembali mengalir semakin deras.
Ia tiba di depan pintu kamar itu dan segera mendobraknya.
Braakk!!
"Hunnyyy!!!" teriak Kendra yang terduduk dengan mata menatap lurus ke depan pintu dimana gadis cantik bergamis pink muda berhijab hitam semakin tersedu melihat padanya.
__ADS_1
Ia tertawa dengan kaki perlahan ia turunkan dari bangkar. Baru selangkah kakinya melngkah, ia jatuh ambruk ke lantai yang membuat gadis cantik itu bertriak dan segera mendekatinya.
"Abang!!"
"Hunny..." lirih Kendra dengan tangan terulur padanya ingin dipegangi olehnya.
Gadis cantik itu semakin tersedu. Kendra berubah menjadi duduk.
Ia membuka lebar kedua tangannya dengan air mata terus berlinangan dan bibir yang tersenyum lembut pada gadis cantik itu. Yang membuatnya semakin merasa bersalah pada sang suami.
"Abang! Hiks!"
"Hunny.. Kamu kembali.."
Grep!!
"Huaaaaaa..." keduanya berteriak bersamaan membuat ke empat paruh baya itu mematung di depan pintu melihat adegan sepasang anak muda itu menangis bersama dengan saling memeluk.
Mami Annisa meneteskan air matanya dalam diam. Papi Tama pun demikian. Apalagi Dokter Kenan dan Dokter Bella. Kedua orang itu sudah berpelukan dan menangis melihat keharuan yang dilakukan oleh sepasang anak muda yang kini masih saling memeluk itu.
Kendra tertawa sambil menangis. Ia terus meracau.
"Kamu hunny ku? Kamu kembali Hunny? Kamu belum tiada 'kan Hunny? Ini beneran kamu 'kan? Abang nggak mimpi 'kan ya? Hum?" katanya pada Tania yang kini masih tersedu dan memeluk tubuh kurus itu dengan erat hingga Kendra rasanya sulit untuk melepasnya.
"Hiks.. Hunnyku.. Kamu kembali.. Jangan pergi lagi Hunny.. Abang bisa mati tanpamu.. Abang gila karenamu Hunny.. Jangan pergi lagi Hunny.." lirih Kendra yang terdengar oleh empat paruh baya yang kini terus menangis melihat keadaan keduanya.
Tania mengangguk dalam dekapan hangat yang selama hampir tiga tahun ini begitu ia rindukan. Apalagi saat ia hamil si kembar.
__ADS_1
Pertemuan pertama setelah sekian lama untuk mereka berdua. Ya, Tania sudah kembali lagi.