Princess Pratama

Princess Pratama
Geram


__ADS_3

Mata Tania meneteskan buiran bening saat ia meletakkan alat stetoskop didada putra Fatma dan Aldo itu. Paman Kevan terus melihat gelagat tania yang menurutnya sedikit aneh. Ia merasa curiga dengan dokter wanita bersama Dokter Dimas itu.


Ingin menarik wanita itu, tetapi segan pada pemilik rumah sakit yang saat ini sedang memeriksakan Aldo bersama seorang perawatnya.


Dokter Dimas terus berbicara pada perawatnya yang terus mencatat setiap ucapan dokternya itu. Sementara Tania sedang menyalurkan kasih sayangnya pada putra Aldo yang saat ini sedang terpejam.


Bibir Tania bergetar saat tangan kecil itu menggenggam jemarinya. Fatma yang melihat itu sangat terkejut. Ia segera mendekati Tania dan putranya.


"Dokter! Putraku!" ucap Fatma dengan mata kembali mengeluarkan cairan beningnya.


Tania yang paham, ingin mengusir seseorang yang sangat membuatnya geram saat ini. Tetapi berusaha ia tahan. Tania menghembuskan napas pelan dengan dada yang begitu sesak melihat putra kecil Aldo itu.


"Bisa kita bicara, Nyonya Fatma?" Kata Tania dengan suara datarnya.

__ADS_1


Fatma mengangguk, "Katakan saja dokter! Saya sangat senang kala melihat jemari putra saya menggenggam jemari, Anda. Ini sebuah kemajuan untuknya. Padahal dokter sebelumnya sudah mengatakan jika putraku tidak akan sembuh lagi.." lirih Fatma kembali menangis.


Tania memegang tangan Fatma sekedar menguatkannya. Semua itu tidak luput dari perhatian Paman Kevan yang kini menatap Tania dengan wajah datar dan dinginnya.


"Seorang anak itu akan tahu bila ada yang tulus menyayanginya. Dia pun tahu mana yang tidak tulus menyayanginya. Saya juga seorang ibu. Memiliki dua putra yang sedang aktifnya seperti putra anda, Nyonya. Saya bisa merasakan sakit yang ia rasa. Makanya saat saya menyentuh tangannya, putra anda dengan cepat meresponnya.


Saran saya. Usahakan tidak ada orang lain yang tidak berkepentingan didalam ruangan ini. Cukup anda, sebagai ibuny. Lihat kondisi ayahnya. Saya yakin, inilah salah satu penyebab putra anda mengalami gagal jantung!"


Deg!


Fatma mengepalkan kedua tangannya saat melihat wajah orang yang dengan tega telah menabarak suaminya tanpa mau bertanggung jawab. Malah kedatangannya baru saja, sengaja datang untuk menekan fatma untuk memberitahu dimana Ziana berada saat ini.


Fatma menangis saat Paman Kevan mengatakan jika kedua orang yang dan sayangi akan ia bunuh, jika Fatma tidak jujur padanya.

__ADS_1


Yang kebetulan sekali Tania masuk bersama dokter Dimas saat melihat dirinya bersimpuh memohon ampun pada Paman Kevan.


"Bagaimana nyonya Fatma? Apakah bisa saran saya anda kerjakan? Semua ini demi kesembuhan putra anda. Apakah anda tidak ingin melihat putra and akembali sembuh?" tanya Tania masih dengan wajah datarnya.


Fatma memejamkan kedua napasnya. Tekadnya sudah bulat. Apapun itu, ia yakin jika saat ini yang berbicara dengannya adalah Tania.


"Baik dokter. Akan saya kerjakan. Tetapi.." ucapan Fatma terhenti saat mengingat biaya rawat untuk kedua orang yang ia sayangi itu.


Tania tersenyum dibalik niqobnya tanpa mereka tahu. Tapi Fatma tahu itu. Terlihat jelas dari gurat mata Tania yang tertarik hingga menyipit. Ia bisa menebak, jika Tania saat ini sedang tersenyum padanya.


Seakan tahu, Tania memegang tangannya. "Untuk masalah biaya, anda tenang saja. Dokter Dimas selaku pemilik rumah sakit ini sudah membebaskan anda dari biaya rawat inap dan juga operasi putra anda yang akan terjadi sebentar lagi. Bukan begitu dokter Dimas?" tanya Tania pada Om nya itu.


Dokter Dimas tersenyum pada Fatma. "Benar, nyonya Fatma. Ada seseorang yang dengan sukarela sudah melunasi biaya rumah sakit suami dan putra anda. Malam ini, saya dan istri saya akan segera melakukan operasi transplantasi jantung untuk putra anda. Kami sudah memiliki dokter hebat untuk mengoperasi jantung putra anda!" jawab dokter Dimas yang membuat fatma menutup mulutnya karena tidak menduga jika kejaiaban kini terjadi pada putranya.

__ADS_1


"Ya Allah.. Putraku akan dioperasi?" tanya Fatma pada Tania.


"Benar, Nyonya! Jadi bersiaplah! Untuk suami anda, akan ada dokter dan perawat khusus yang menjaganya. Anda tidak perlu khawatir lagi!" jawab Tania yang segera dipeluk erat oleh Fatma dengan menangis tersedu dipelukan Tania.


__ADS_2