
Empat tahun berlalu.
Hari ini merupakan hari bahagia Dzaka dan Dzaki. Keduanya akan menikah dengan wanita pilihan mereka. Wanita yang selama ini menemani mereka sedari SMP hingga keduanya kuliah. Wanita terhormat dari keluarga terhormat.
"Sudah siap?" tanya mami Tania pada kedua putra kembarnya.
Keduanya tersenyum, "Sudah, Mi. Abi sama Adek Alish mana? Kenapa belum turun juga? Apakah keduanya masih meragukan pasangan kami? Mami, keduanya baik dan tulus! Tidak seperti tuduhan Alish!" ucap Dzaki menjawab sekaligus mengatakan apa yang selama ini terjadi di dalam keluarga mereka empat tahun belakangan ini.
Mami Tania memaksakan senyumnya yang sebenarnya sangat sulit untuk ia ukir. "Iya, Nak. mami tahu. Sebentar lagi, keduanya akan turun. Tadi, adek kamu minta tolong Abi untuk masangin kancing hijab bagian belakang. Mami yang udah siap, segera menyusul pada kalian berdua." Ucapnya berbohong demi menyenangi hati kedua putra tampannya itu.
Padahal jika keduanya tahu, kedua orang itu saat ini sedang sibuk mengurus sesuatu demi Dzaka dan Dzaki. Dzaka menatap lekat pada sang mami yang kini menunduk dan berwajah sendu.
"Mi, kita sangat tahu seperti apa Mami dan Abi. Sejak Opa berpulang ke pangkuan Allah dua tahun yang lalu, Mami lebih banyak diam dan juga sering mendiamkan kami. Apa yang kami ceritakan tentang keduanya, mami hanya menanggapi sekedarnya saja. Jika memang Mami tidak menginginkan kami menikah dengannya, kami rela!"
Deg.
Deg.
__ADS_1
Dzaki menoleh pada saudara kembarnya itu. "Nggak! Aku nggak mau, ya, Bang! Kalau kamu mau batal, batalin aja! Tapi, aku nggak akan batalin pernikahan yang sudah terlanjur terjadi ini!" tegas Dzaki dengan segera berlalu meninggalkan mami Tania yang mengepalkan tangannya dengan erat dan mendongak melihatnya.
"Baik, jika itu pilihanmu! Jika terjadi suatu masalah dengan wanita itu, jangan kamu panggil mami! Dan kamu harus ingat, Abi kamu saat ini sedang mencari pengganti yang layak untuk menjadi istri kalian berdua! Jika nanti pernikahan kalian batal karena wanita sialan itu, maka kalian harus menuruti apapun kata kami!" tegas mami Tania dengan segera berlalu meninggalakn keduanya yang membuat keduanya kini tertegun dan tercenung sejenak memikirkan ucapan maminya itu.
Keduanya saling pandang. "Kenapa Mami dan Abi sangat menentang pernikahan kita, ya?" tanya Dzaki yang di jawab gelengan kepala oleh Dzaka.
"Sudah, ayo! Kita harus kesana! Acara ijab kita akan segera di mulai!" ucap Dzaka sembari menarik lengan saudara kembarnya yang terlihat linglung itu.
Keduanya berjalan menuju ruangan yang kini begitu riuh. Keduanya berjalan cepat hingga berdiri di belakang Oma Annisa yang kini sedang menatap nyalang pada kedua calon cucu mantunya itu.
"Buka!" teriak Oma Annisa yang membuat kedua calon cucu mantunya itu terjingkat kaget dan ketakutan setengah mati.
"Oma? Ini ada apa? Kenapa dengan keduanya? Apanya yang di buka?" tanya Dzaki pada Oma Annisa yang kini mengcungkan telapak tangannya ke atas udara, pertanda Dzaki tidak boleh berbicara saat ini.
Dzaki mengatupkan bibirnya seketika. Jika sudah wanita tua Ratu king Pratama yang berbicara, maka semua ruangan itu akan senyap seketika.
"Buka kataku! Kau tidak pantas untuk menjadi menantu di dalam keluarga Pratama! Saya tidak menerima wanita yang sudah memiliki suami untuk menikah dengan kedua cucu saya! Cepat buka!" teriaknya semakin menggelegar di dalam ruangan aula yang kini di penuhi banyak mata tamu undangan yang kini sedang menatap pada mempelai wanita yang menunduk di dampingi dua orang pria seumuran dengan Zayn dan Zayden.
__ADS_1
Dzaka dan Dzaki menatap lekat pada kedua pria matang berbeda tiga tahun saja dengannya itu. Ia menoleh pada kedua wanita yang kini menunduk dengan tangan memelintir kuat.
Keduanya menunduk tidak ingin melihat Dzaka dan Dzaki. Tiba-tiba saja suasana mendadak gelap. Suasana riuh seketika. Namun, itu hanya sebentar.
Di panggung sana sudah terlihat layar lebar yang menunjukkan calon istri Dzaka dan Dzaki yang sedang mengucapkan ijab qobul bersama suami mereka. Keduanya terlihat bahagia. Pesta pernikahan itu terjadi di Singapura satu tahun yang lalu.
Ddduuaarr!
Dzaka dan Dzaki terhuyung ke samping saat melihat tanggal pada buku nikah kedua calon istrinya. Keduanya menatap pias pada layar projektor itu. Tidak itu saja, di layar projektor itu juga, keduanya terihat sedang berbulan madu ke Maldives. Calon istri Dzaka dan Dzaki tidak menggenakan hijab seperti yang saat ini keduanya kenakan.
Keduanya hanya menggunakan baju kaos dan celena pendek sepaha yang menunjukkan paha mulus kedua gadis itu.
"Astaghfirullahal'adhim..." lirih kedua pangeran mami Tania dan Abi Kendra yang terjatuh terduduk di kaki Oma Annisa yang kini tetap utuh berdiri dan menatap nyalang pada calon cucu mantunya itu.
"Sudah lihat? Itukah calon istri kalian berdua? Kalian ingin menikahi istri orang? Huh?"
Deg.
__ADS_1
Deg.