Princess Pratama

Princess Pratama
Bahaya mengintai


__ADS_3

Keduanya kini sudah berada di dalam perjalanan untuk pulang. Ke lima orang itu kini langsung menuju ke kediamam Papi Tama dan mami Annisa yang selama dua bulan ini mereka tempati.


Keduanya harus sering bolak balik Singapura demi bisa memantau perkembangan Tania masa pemulihan.


Ada yang berbeda dari Tania saat ini. Walau wajahnya terlihat pucat setiap pagi, tetapi selera makannya itu sangat berbanding terbalik dengan dua bulan yang lalu.


Saat ini Tania begitu banyak makan. Ada saja yang ingin dimakan olehnya. Tadi pagi saja ia meminta mami Annisa untuk dibuatkan bubur sum sum kalau kata orang Medan.


Bubur yang terbuat dari tepung beras biasa yang dimasak dengan santan dan diberi kuah gula aren yang sudah dilarutkan dalam air. Sebelumnya di rebus dahulu hingga kental untuk menjadi kuahnya.


Tania makan bubur itu hingga habis seorang diri tanpa menyisakan untuk kedua orang tua dan juga adik bungsunya yang berusia lima tahun itu.


Aggam sampai merengut karena tidak di sisa kan sedikit pun untuknya. Mami Annisa dan papi Tama hanya bisa tertawa melihat tingkah putri sulung dan putra bungsu nya itu.


Dan saat ini, mereka sudah pulang. Tinggal lah Tania dan Alkira saja disana. Alkira dibuat pusing dengan tingkah kakak nya itu yang meminta nya untuk membeli makanan Indonesia yang terletak di seberang jalan, sementara dirinya tidak berani untuk keluar dari ruangan itu lantaran pesan dari kedua orang tuanya yang tidak boleh keluar tanpa Tania.


Sementara Tania?


Malah menyuruhnya untuk membeli nasi goreng di depan sana. Alkira yang tidaklah bodoh itu segera menghubungi mami Annisa untuk di pesankan nasi goreng tiga porsi dalam porsi jumbo.

__ADS_1


Mami Annisa sempat kaget mendengarnya. Tetapi setelah Alkira menjelaskannya, barulah mami Annisa paham.


Ia pun segera memesankan banyak makanan untuk Tania dan Alkira yang kini sedang kewalahan mendengar permintaan Tania padanya.


Tania makan dengan lahapnya. Dan Alkira sengaja mengirimkan foto Tania pada semua keluarganya yang saat ini sedang doyan makan tidak cukup sepiring porsi jumbo. Tetapi dua piring porsi jumbo sekaligus.


Melihat itu mami Annisa sedikit tertegun.


Apa jangan-jangan Tania isi ya? Kenapa tingkahnya sangat sama dengan aku yang hamil dirinya dan Danis dulu? Aku pun hobi makan. Tidak mengalami mual dan muntah. Malah Bang Tama yang merasakannya hingga ia harus di opname selama dua minggu dirumah sakit.


Lah ini?


Apa sebaiknya aku tanya sama Aldo saja ya tentang perubahan yang terjadi pada Kendra dua bulan terakhir ini? Sempat terdengar sih, kalau Kendra nggak mau makan dari tangan siapa pun kalau bukan Tania sendiri.


Ah, daripada bertanya-tanya sendiri! Lebih baik aku hubungi Aldo atau siapa pun disana. Oh, Ziana saja. Barangkali Ziana saat ini sudah siuman?


Batinnya segera mengambil ponsel dan mendial nomor Ziana. Panggilan pertama tidak terhubung. Mami Annisa terdiam sesaat.


Setelahnya, Ia mencoba lagi. Tersambung, tetapi tidak di angkat. Hingga panggilan yang ke tujuh kali nya, ponsel itu barulah ada suara yang menjawabnya. Dan itu pun suara isak tangis Ziana yang terdengar.

__ADS_1


Mami Annisa memilih diam saja. Ia sedang mencerna situasi di seberang sana saat ini.


"Makan dulu Ken. Kamu masih lemas loh. Jangan pikirkan Tania. Dia baik-baik saja saat ini. Kamu harus sembuh. Dan untuk sembuh itu, kamu harus minum obat. Kamu ingin Ke Singapura bukan??" terdengar suara Aldo sedang membujuk Kendra untuk makan walau sesuap saja.


Kendra menggeleng cepat. "Nggak. Aku mau ke Singapura sekarang! Istriku dalam bahaya Al! Bahaya sedang mengintainya disana saat ini! Kamu mau aku menyesal karena terlambat untuk menolongnya? Huh?!" seru Kendra dengan suara naik satu oktaf.


"Tapi kamu masih sakit Ken! Dengarkan apa kataku Kendra! Makan dulu. Setelah ini aku akan mengantarmu ke Bandara untuk menemui istrimu. Lagipula, apa yang kamu harapkan dari Tania? Dia sudah lupa dengan mu!" Dengkusnya, "Jika dia masih mengingatmu, pastilah saat ia sudah menghubungimu!" Ketus Aldo sembari berlalu meninggalkan Kendra yang tertegun dengan ucapannya.


Kendra menunduk, mami Annisa bisa melihat sudut matanya menggenang cairan bening yang siap tumpah. Panggilan ponsel miliknya kini sudah berubah menjadi sambungan viseo call yang sengaja dilakukan oleh Ziana baru saja.


"Tapi aku sangat mengkhawatirannya Al.. Dia istriku. Sampai kapan pun Tania tetaplah istriku. Salah ya jika aku mengkhawatirkan istriku sendiri?? Aku belum menjatuhkan talak padanya. Bahkan tidak akan pernah! Sampai aku mati sekalipun! Tania tetaplah istriku! Aku hanya ingin makan darinya Al.. Aku merindukannya! Hiks.." isak Kendra juga pada akhirnya karena sudah tidak tahan jika Aldo terus memarahinya karena Tania.


Aldo mendengkus. "Kenapa sih akhir-akhir ini kamu selalu cengeng seperti ini jika menyangkut Tania?" Ketus Aldo sembari berlalu meninggalkan nya lagi.


Kendra tidak menyahut. Ia mengambil mangkuk berisi bubur itu dan makan dalam diam. Walau sesekali terisak, ia tetap makan juga. Pandangan yang terlihat lucu di mata mami Annisa.


Ia terkekeh, yang membuat Ziana pun ikut terkekeh. "Itulah yang terjadi setiap harinya mami. Bang Kendra hanya mau makan enak jika kakak yang menyuapinya. Adek udah berusaha, tetapi selalu gagal. Ia menolakku, mami. Apakah sudah tidak ada tempat lagi untuk Bang Kendra, mami? Setidaknya saat ia sakit seperti ini kakak ada di sampinganya.." lirih Ziana seperti suara bisikan.


Mami Annisa menghela napasnya. "Malam ini mami akan pulang. Mami yang akan menyediakan makanan untuknya. Mami dan papi memang ingin menemuinya. Tetapi tidak bisa sekarang. Bahaya saat ini sedang mengintai kami semua. Dan semua itu karena suami kamu itu!" ketus mami Annisa mengingat kejadian tadi saat di garasi mobil miliknya berbunyi alaram bahaya.

__ADS_1


Pertanda jika musuh sudah mengetahui keberadaan mereka saat ini.


Ziana hanya bisa menunduk dan pasrah saja saat mami Annisa berkata seperti itu. Tetapi satu hal yang mami Annisa saat ini tahu. Bahwa Tania sama sepertinya. Kendra pun sama seperti papi Tama dulunya saat dirinya hamil Tania dan Danis.


__ADS_2