Princess Pratama

Princess Pratama
di Bandara


__ADS_3

Tania yang sudah tiba di bandara, ia memilih istirahat di ruang VVIP di bandara itu. Tubuhnya yang cukup lelah karena baru saja melakukan perjalanan jauh dan juga tubuhnya belum terlalu fit lantaran tadi baru saja berolahraga malam bersama Kendra.


Aktivitas yang begitu melelahkan untuknya. Papi Tama dan Mami Annisa kasihan melihat putri sulungnya itu.


Mereka terpaksa menyuruh Tania ke Singapura untuk memimpin perusahaan mereka disana. Semua ini terpaksa keduanya lakukan, karena besok pagi akan ada pernikahan kedua suaminya di rumah Uwak Lana.


Walau pernikahan itu bersifat rahasia, tetap saja. Kedua orang itu tetap menyuruhnya pergi. Dan Tania tidak keberatan akan hal itu.


Ia melupakan jika besok adalah hari dimana suaminya akan segera menikah dengan adik sepupu nya.


Tania terlelap begitu saja saat tubuh itu menjumpai sofa empuk di dalam ruangan VVIP yang sepi dari penumpang itu.


"Kasihan Tania, Bang. Apa ynag harus kita lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya? Haruskah kita memisahkan keduanya??" tanya mami Annisa pada papi Tama yang kini juga menatap lekat pada Putri sulungnya itu.


Beliau menghela nafasnya. "Kita tidak bisa menyembuhkan luka hatinya. Bahkan untuk memisahkan kedua nya pun tidak diperbolehkan. Berdosa hukumnya bagi kita orang tua sengaja memisahkan keduanya tanpa sebab yang jelas atau alasan yang syar'i.


Memisahkan anak kita dari pasangan hidupnya, hukumnya haram jika bukan karena alasan syar’i. Seperti yang Buya Yahya katakan di dalam kajian online nya,


“Jika tidak ada alasan yang syar’i, maka hukumnya haram. Dan dosa bagi orang tua tersebut. Kalau urusannya syariiya,” terang Buya Yahya.


Menurut Buya Yahya, alasan syar’i yang dimaksud misalnya terjadi kefasikan, fasik dari salah satunya tidak lagi bisa diluruskan.


“Harus karena alasan syar’I yaitu, terjadi kefasikan dari salah satu pasangan, yang tidak lagi bisa diselesaikan,” jelas Buya Yahya.  ( Sumber : google )

__ADS_1


Maka dari itu, kita tidak punya hak untuk memisahkan keduanya tanpa alasan yang jelas. Sudahlah haram hukumnya, kita pun akan di cap orang tua yang tidak baik karena memaksa anak kita untuk berpisah dari suaminya, paham?" tuturnya begitu lembut pada mami Annisa yang membuat sang empu mengangguk dengan wajah sendu.


"Tapi kasihan putri kita, Bang."


"Biarlah berjalan seperti ini sayang. Semua ini adalah ujian untuk putri kita. Allah sedang mengangkat derajatnya agar bisa dan pantas untuk mendapatkan sesuatu kedepannya.


Luka, akan sembuh seiring berjalannya waktu. Kita tidak bisa menyembuhkan luka hatinya, Tetapi waktu bisa.


Beri ia waktu untuk sendiri, maka dengan sendirinya luka itu akan sembuh. Seperti Abang dan kamu dulunya." Jelasnya lagi yang membuat Mami Annisa memeluk tubuh yang selama dua puluh tahun ini selalu menemaninya dalam suka dan duka.


"Udah.. Jangan di pikirkan lagi. Istirahatlah dulu. Abang ingin keluar sebentar, ya? Kamu disini saja sama Tania."


Mami annisa mengangguk, "Pergilah. Jangan lupa nbeli makanan. Aku lapar!" katanya pada papi tama yang kini terkekeh mendnegar ucapannya.


"Hem," jawab Mami Annisa dengan segera memejamkan matanya karena sudah merasakan kantuk yang sangat.


Papi tama segera berlalu dna menuju ke suatu tempat dimana orang suruhan Uwak Lana ingin bertemu dnegannya.


Sementara di sudut bandara lainnya, Kendra masih dalam perjalanan. Butuh satu jam lagi untuk tiba di bandara Iskandar Muda.


Dirinya tetap terjaga padahal tiga anggotanya sudah terlelap sejak mereka menaiki sedan putih itu. Sedan yang sengaja ia sewa untuk perjalanan mereka untuk tiba di bandara.


Kendra menatap nanar keluar jendela dengan tatapan yang begitu nelangsa saat ini. Sang supir hanya bisa melihatnya sesekali tetapi tidak berani menegurnya.

__ADS_1


Apakah kamu masih di bandara Hunny? Bisa tidak kita bertemu walau sebentar saja? Baru sebentar kamu menghilang, hati ini sudah kesepian..


Akankah kita bertemu lagi, Hunny??


Batin Kendra semakin nelangsa mengingat Tania, istrinya yang akan pergi jauh darinya.


Ia terus terjaga sampai mereka tiba di bandara satu jam kemudian. Tiba disana, ia segera menuju ke tempat keberangkatan. Karena pesawat yang akan ke Medan, akan segera berangkat pukul satu dini hari.


Waktu yang sangat menganntuk dan terlelap bagi semua orang. Tetapi tidak dengan Kendra. Ia membangunkan tiga orang itu. Untuk segera menuju pesawat mereka yang akan segera lepas landas.


Setelahnya segera chek out. Sesekali ia melirik sekitar untuk mencari keberadaan Tania yang entah ada dimana di sekitar bandara itu.


Kendra menghela nafas sesak. "Mungkin inilah saat terakhir bagiku untuk bisa melihat mu Hunny. Setelah ini, aku tidak mungkin bisa melihatmu lagi. Kamu akan pergi jauh dariku. Selamat tinggal dan selamat jalan Hunny.. Semoga kita berjumpa lagi di lain waktu yang sudah memungkinkan untuk kita berdua.." lirih Kendra segera masuk ke dalam pesawat yang akan segera berangkat ke Kota Medan.


Tania yang juga saat itu akan menaiki pesawatnya melihat kebelakang sana. Dimana tak ada seorang pun di bandara itu kecuali dirinya dan dua buah pesawat yang bertujuan sama.


Tania menghela nafas sesak, "Selamat tinggal suami ku. Semoga kamu bahagia dengan pilihan mu. Bukan aku tidak ingat jika besok hari pernikahan mu. Bahkan aku yang sangat mengingatnya. Aku mengingat hari apa dan juga apa pun tentang dirimu suamiku. Selamat jalan.. Semoga kamu bahagia bersamanya.. Aku pun akan berusaha bahagia seperti kamu yang bahagia saat bersama adik sepupu ku.." lirih Tania dengan segera masuk ke pesawat di ikuti oleh papi Tama dan mami Annisa yang juga malam itu akan kembali ke Medan, karena Uwak Lana mengharuskan mereka berdua kembali dan menyaksikan pernikahan yang sangat menyakitkan untuk Tania itu.


...****************...


Mampir kesini yuk!


__ADS_1


__ADS_2