
Saat Kendra ingin menjawab ucapan papi Tama, seseorang dari luar mengetuk pintu sambil memanggil papi Tama.
Mereka semua menoleh ke arah pintu.
"Dave? Sudah datang kamu. Masuk dulu," ajak papi Tama yang diangguki oleh Dave.
Pemuda asli Belanda yang dulunya pernah tinggal di Indonesia dan sempat menjalin kerjasama dengan papi Tama.
Dave mengangguk patuh. Ia melangkah masuk ke dalam rumah itu dan menatap Tania sekilas. Setelahnya, ia duduk tepat dihadapan Kendra dan Tania.
"Bagaimana? Sudah siap persiapannya?" tanya papi Tama pada Dave dengan bahasa Indonesia karena Dave juga bisa bahasa Indonesia.
Dave tersenyum dan mengangguk. "Sudah Bang. Semuanya sudah siap. Kalau begitu, ayo kita berangkat. Butuh waktu dua jam untuk tiba di tengah pulau itu," jawab Dave sambil tersenyum melihat semua.
Terutama Kendra dan Aldo yang kini bisa bernapas lega karena pertanyaan papi Tama tadi terputus karena kedatangan Dave.
"Baiklah, ayo kita menjemput Ziana!" Kata Uwak Lana begitu bersemangat.
Tania yang tadinya menangis, kini sudah tenang kembali. Kendra memegangi tangan Tania dan berjalan beriringan menuju keluar rumah.
Papi Tama mengunci rumah itu dan segera menaiki mobil milik Dave yang kini sudah duduk dibalik kemudi.
Uwak Lana duduk didepan bersama Dave. Papi Tama bersama Aldo. Tania bersama Kendra duduk dibangku paling belakang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan, mereka terus berbicara tentang pulau terpencil itu. Tidak terlalu terpencil, sih. Pulau itu akan ramai jika musim panas tiba. Tidak disaat musim semi.
Disaat musim semi begini, pulau itu sepi dari pengunjung. Rumah dipulau itupun, hanya satu satu-satu. Jarak dari satu rumah kerumah yang lainnya berjarak sepuluh meter sampai lima belas meter.
Jika siang harinya terlihat ramai karena terang. Tetapi ketika malam harinya, pulau itu begitu sunyi dan sepi. Hanya suara deburan ombak dan burung yang bermalam dipantai itu menemani orang yang tinggal disana. Salah satunya Ziana.
Dave terus mengatakan dengan teliti setiap sudut pulau itu. Ia juga mengatakan jika pulau itu sedikit menyeramkan jika dimalam hari. Karena penerangan yang begitu minim serta akses internet tidak ada di pulau itu.
Itulah yang membuat Dave kesulitan mengetahui keberadaan Ziana. Ia menempatkan salah satu anggotanya disana. Tapi sayang. Anggotanya itu tak kunjung kembali. Dan ketika ia datang sendiri ke pulau itu, anggotanya tersebut sudah tiba didaratan dan tidak ingin menemuinya lagi.
Dave menduga, jika terjadi sesuatu dipulau antah berantah itu.
Mereka berenam tiba dipelabuhan dan segera menaiki sebuah kapal kecil menuju kepulau itu. Butuh waktu dua jam untuk tiba kesana.
Tania yang mabuk laut, membuat dirinya ingin tidur saja dalam pelukan Kendra sambil tangan Kendra terus mengusap perutnya. Sama seperti saat didalam pesawat.
Kendra memberikan cairan tolak jahe pada Tania yang segera diminum habis olehnya. Perjalanan itu terus berlanjut dua jam lamanya.
Dan ketika mereka tiba dipelabuhan pulau itu, mereka semua terkejut melihat isi pulau yang seperti kapal pecah dan juga sisa api yang masih menyala pada salah satu rumah disana.
Uwak Lana dengan sigap melompati kapal dan berlari memasuki pulau itu dengan debaran jantung tak terkira.
Begitupun dengan Tania. Ingin ia berlari. Tetapi tidak mungkin. Tania saat ini sedang berbadan dua. Tubuhnya bergetar. Kendra memeluknya erat.
__ADS_1
Bibir Tania memucat seketika.
"Tidaakk!!! Putriku!!!" teriak Uwak Lana yang membuat mereka berlima berlari cepat ke arah Uwak Lana yang kini seperti orang gila ingin memasuki rumah yang terbakar itu.
Ditangan Uwak Lana memegang baju terakhir Ziana saat tiga tahun lalu diculik.
Deg!
Deg!
Tubuh Tania merosot ke bawah. Kendra dan Aldo memegangi lengan Tania bersamaan.
"Hunny!"
"Tania!" seru keduanya bersamaan saat melihat Tania yang kini berwajah pucat.
Tania menggeleng. "Nggak! Nggak mungkin Ziana terbakar! Pasti terjadi sesuatu! Cari bukti itu bang Aldo! Uncle Dave!" seru Tania pada Dave yang kini sedang menyisir tepi rumah yang terbakar itu.
"Ya, Tania! Seperti yang kamu duga sebelumnya, Ziana sudah tidak disini. Bisa terlihat dari jejak kaki yang terlihat dibawah jendela ini." Tunjuk Dave padajejak kkai dibawah jendela. "Ada dua bekas telapak kaki disini. Yang satu sepatu lelaki seperti yang saya kenakan, yang kedua sendal jepit milik seorang wanita. Uncle bisa memastikan jika jejak kaki ini milik Ziana dan seseorang yang menolongnya itu," lanjut Dave yang membuat Tania merasa semakin tidak karuan.
"Terus? Kemana mereka perginya uncle? Sisiri seluruh pulau ini. Temukan jejaknya. Kita harus cepat mencari Ziana. Jika masih di Belanda, pastilah ia belum jauh dari kita!" Kata Tania yang diangguki oleh Dave.
Pemuda blasteran Belanda Indonesia itu segera mencari kemana arah jejak sepatu itu. Dari yang terlihat olehnya, jejak sepatu itu menuju ke pelabuhan.
__ADS_1
"Mereka baru pergi Tania! Itu kapal mereka!" tunjuk Dave pada kapal yang baru saja pergi dari pelabuhan itu sambil berlari mengejar sampai ke pelabuhan.
Tania bangkit dan belari menuju pelabuhan diikuti Kendra, Aldo, Uwak Lana dan papi Tama. Mengikuti Dave yang sudah terlebih dahulu kesana.