
Dada Riya dan Jia begitu sesak hingga sangat sulit untuk bernapas. Keduanya saling berpegangan tangan dengan napas tersendat-sendat.
Ummi Alzana panik melihat keadaan keduanya. Mobil keduanya terpaksa berhenti sementara di bukit Berastagi. Kedua orangtua itu sangat panik saat melihat keadaan kedua putri kembarnya saat ini yang sedang kesulitan bernapas.
"Bang! Ini anak kita kenapa? Kenapa begini? Huh?" tanya nya pada Abi Prince yang kini juga ikut panik saat melihat kedua putri sulungnya itu seperti akan kehabisan napas.
"Nggak tahu, Hunny! Abang bingung. Apakah keduanya ada gejala sesak napas?" jawab Abi Prince semakin khawatir melihat keduanya hingga meneteskan air matanya seperti itu.
"Ya, Allah! Kenapa dengan putriku? Apakah ini ada hubungannya dengan Zayn dan Zayden?"
Deg
Deg
Kedua gadis yang sesak napas itu, segera memegang lengan sang Ummi dengan eratnya. Yang membuat Ummi Alzana tersentak saat ucapannya itu benar adanya.
"Z-z-zayn!"
"Z-z-z-zay hah den! Hah, hah," ucap Jia dan Riya dengan napas tersendat-sendat.
Kedua orangtua itu saling pandang. Tanpa pikir panjang, Abi Prince segera menghubungi nomor mami Tania. Lama keduanya menunggu tidak ada jawaban. Hanya bunyi operator yang bergaung di sana.
__ADS_1
Lagi, Abi Prince tidak menyerah. Ia yakin, sesak napas yang putri kembarnya alami ada hubungannya dengan putra sulung mami Tania yang tadi keduanya tinggalkan begitu saja.
Lelah menghubungi nomor mami Tania yang tidak mendapati jawaban, Abi Prince menghubungi kakek Ragata yang ternyata cepat sekali beliau angkat.
"Hallo, assalamu'alaiakum, Nak? Sudah sampai mana? Kalian bisa kembali tidak? Zayn dan Zayden tidak sadarkan diri saat ini. Kami sedang berusaha menyadarkan keduanya saat ini. Tolong, Nak. Bawa Riya dan Jia kesini dulu. Abi mohon," pinta paruh baya itu dengan sangat.
Tanpa berpikir panjang Abi Prince segera kembali. Untung saja masih di bukit Berastagi. Walau butuh waktu satu jam lagi untuk tiba di sana, beliau tetap putar balik dan kembali ke rumah Kakek Ragata dan Nenek Ira.
Sementara di rumah Kakek Ragata, terjadi kekacauan saat ini. Ada tiga orang yang tidak sadarkan diri saat ini. Semuanya panik dan sibuk menyadarkan mereka yang pingsan.
Uwak Zee yang masih bertugas segera pulang ke rumah bersama Uwak Zidan. Uwak Arga bersama Uwak Mega segera pulang ke rumah itu. Semuanya terlihat panik. Apalagi Oma Annisa yang semakin memucat wajahnya saat ini.
Satu jam kemudian.
Abi Prince dan Ummi Alzana tiba di rumah Nenek Ira. Keduanya segera keluar dengan membopong Riya dan Jia yang sudah semakin lemas saat ini. Uwak Arga segera menggendong Jia yang saat ini bersama Ummi Alzana.
Mereka masuk dan segera menemui Zayn dan Zayden di kamar atas. Sedang Oma Annisa berada di kamar tamu bagian bawah. Di temani Opa Tama dan juga ketiga cucunya. Si kembar tiga, Dzaka, Dzaki dan Alishba.
Abi Prince meletakkan Riya di samping Zayden. Ia duduk di tepi ranjang sembari melepaskan niqob putrinya itu. Ia mengelap keringat dingin yang mengalir di dahi Riya. Abi Prince menoleh pada Abi Kendra yang kini menatap nanar dan sendu pada saudara iparnya itu.
Abi Prince mendekatinya dan memeluk saudara iparnya itu. "Maaf, Bang. Bukan mau kami seperti ini," ucapnya berbisik di telinga Abi Kendra yang mengangguk dan menepuk pelan punggung Abi Prince.
__ADS_1
"Kita tinggalkan keduanya," titah Kakek Ragata yang diangguki oleh kedua pemuda yang masih tampan dan gagah itu.
Sedangkan di kamar sebelah, Zayn sudah adar saat merasakan kehadiran Jia. Ia tidak menoleh atau apapun. Matanya terbuka dan menatap ke langit-langit kamar. Akan tetapi, buliran bening itu tidak bisa di cegah olehnya.
Mami Tania memberi kode pada abang sepupunya untuk keluar dan meninggalkan keduanya. Kedua orang tua itupun keluar di susul oleh Uwak Zee yang baru saja selesai memeriksa Jia dan Zayden yang sudah kembali stabil saat ini.
Pintu tertutup. Jia membuka kedua matanya. Zayden menoleh pada istrinya dengan air mata berlinangan.
"Sayang," panggilnya dengan suara serak.
Jia menatap Zayn dengan lekat. Ia tersenyum yang membuat Zayn segera memeluknya dengan erat. Keduanya pun menangis bersama. Keduanya tersedu. Ada rasa yang tak bisa di ungkapkan. Akan tetapi, perpisahan sementara tadi membuat batin keduanya tersiksa dan terkejut. Bukan hanya Zayn, Jia pun ikut merasakannya. Keduanya tersedu. Jia memeluk erat tubuh Zayn begitu erat hingga tidak mau lepas sedikit pun.
Demikian juga dengan Zayden dan Riya yang kini sudah sadar. Riya lebih dulu memeluk suaminya itu dengan erat yang membuat Zayden ikut membalasnya.
Tangannya bergetar ketika mengelus lembut kepala istrinya. Zayden tersedu begitu pun dengan Riya. Keduanya begitu sakit saat perpisahan terpaksa itu terjadi.
Ikatan batin yang kuat di antara keduanya begitu jelas terlihat. Begitu juga ketika kejadian penjebakan itu terjadi. Riya dan Jia sempat merasakan firasat yang tidak baik tentang suami mereka.
Dan saat ingin membersihkannya, tangan kedunya terluka. Bukan tangan yang terasa sakit. Akan tetapi, hati keduanya yang saat itu sakit. Entah kenapa, keduanya pun tidak tahu.
Dan hari ini, keduanya baru tahu jika suami istri yang saling mencintai itu memiliki ikatan batin yang begitu kuat. Hingga salah satu yang merasakan sakit, maka yang lain pun ikut merasakan sakit sama sepertinya.
__ADS_1