
"Ekhem, kita mulai lagi ya? Dalam keluarga mami mertua Abang ada kami berenam.
Bang Danis
Sritania, aku sendiri.
Yusuf
Almaira
Alzana
Aggam yang masih kecil tapi sebentar lagi akan disunat!" Tania tertawa saat melihat mata Aggam melotot padanya.
"Udah disunat kali, Kak! Adek udah besar loh.." balas Aggam dengan wajah datar mirip papi Tama itu. Papi Tama mengelus kepala putra bungsunya yang sangat mirip dengannya itu.
Tania terkekeh, ia kembali melanjutkan silsilah keluarga mereka pada Kendra. Mumpung sedang berkumpul bersama.
"Di dalam keluarga Papi Rayyan dan mami Cinta ada lima anggota.
Raihan
Rania
Akbar
__ADS_1
Arumi
Cantika Kumala. Noh, yang paling kecil di gendong sama mami Cinta!" tunjuk Tania pada gadis kecil yang saat ini digendong oleh maminya.
Kendra mengangguk paham.
"Nah, berikutnya ada keluarga papi Algi dan mami Tiara. Mereka ada lima juga.
Alvin
Almira
Aldi
Raffasya.
Sedangkan didalam keluarga mami Kinara dan papi Ali .. Mereka memiliki kesebelasan anggota main volli, ya?" Tania tertawa melihat wajah malas maminya itu padanya.
Tania bangkit dan mendekati mami Kinara yang saat ini duduk bersama Uwak Ira, mami Annisa, dan kedua saudara ipar mami Kinara.
"Jangan masam gitu ih, mukanya! Jutek amat sih sama ponakan sendiri?" tegur Tania pada mami Kinara.
Sedang yang di tegur mah pura-pura bodoh. Mami Annisa terkekeh meliha adik kecil mirip dengannya itu.
"Dalam keluarga mami Kinara dan papi Ali mereka memiliki delapan anggota.
Gading
__ADS_1
Adam
Alkira yang disamping Gading itu.
Ijal
Adnan
Ayana
Liora dan
Lilianti! Jodoh Pangeran Salman dan Pangeran Salim putra Maldalya putri sulung Uwak Lana.
Anggota mami Kinara lebih banyak daripada yang lainnya!" seru Tania sambil terus tertawa melihat wajah malas mami Kinara padanya.
Papi Ali terkekeh melihat istrinya seperti itu.
"Iya, iya, anggota mami yang paling banyak! Iri? Bilang bos!" celutuk mami Kinara yang membuat satu ruangan itu tertawa mendengar ucapannya.
Tania pun ikut tertawa. Matanya menatap Uwak Lana dan Uwak Maura yang tertawa tapi, sendu itu.
"Wak.. Bersabarlah. Besok, aku akan bergerak kesana seorang diri untuk menyusul adikku. Uwak tidak usah khawatir, ya? Jika adikku masihlah hidup, maka aku akan menemukannya. Jika pun, ia tiada. Maka aku akan membawa pulang jasadnya nanti!" Tania menatap nanar dan sendu pada Uwak Lana yang kini tersenyum sendu padanya.
"Ya.. Uwak akan menunggu itu. Bawa pulang adikmu hidup ataupun mati. Kami akan menerima apapun yang akan kamu bawa pulang nantinya. Karena bagaimana pun, adik kamu putri kami." Jawab Uwak Lana yang diangguki oleh mereka semua.
Tania menatap sendu pada kedua Uwaknya itu. Sudah tiga tahun berlalu. Pastilah mereka sangat ingin tahu keadaan Ziana seperti apa. Sehatkah? Sakitkah? Atau sudah tiada? Mereka sudah mencari sampai kemana pun.
Namun, tak jua ditemukan. Mencari Ziana ibarat mencari jarum yang terjatuh didalam jerami. Sangat sulit untuk mencarinya. Padahal jika dicari dengan teliti, jarum itu pasti ketemu cepat ataupun lambat.
Dan inilah yang Tania lakukan saat ini. Ia sedang berusaha mencari jarum yang jatuh dalam tumpukan jerami. Awalnya memang sulit. Tetapi karena tekad dan kemauan Tania, akhirnya letak jarum itu ditemukan.
Ia sudah mengetahui letak jarum itu dimana. Tinggal mengambilnya saja. Untuk mengambil jarum itupun, tidak bisa sembarangan. Butuh pertimbangan yang matang.
Salah sedikit, maka jarum itu akan hilang ditimpa jerami lainnya. Atau, kemungkinan besarnya Tania yang akan terluka saat mengambil jarum itu. Bisa jadi kalau dalam jerami itu memiliki banyak duri? Siapa yang tahu bukan?
Tania sudah berusaha semampunya. Saat ini ia tinggal mengambil jarum itu saja dari tumpukan jerami yang begitu banyak dan padat.
__ADS_1
Tania harus memiliki rencana yang matang untuk mengantisipasi hal buruk yang akan terjadi. Harus memiliki banyak rencana agar bisa selamat dan juga jarum didalam jerami itu bisa ia dapatkan tanpa gangguan apapun.