Princess Pratama

Princess Pratama
Apa yang mendasarinya?


__ADS_3

Hawa mencekam di dalam ruangan itu begitu terasa saat ini. Empat pemuda tampan sedang duduk dengan saling berhadapan dan menatap dengan tajam. Terutama Paman Kevan.


Ialah yang paling menakutkan saat ini untuk dilihat. Auranya begitu mencekam. Seperti aura hitam sedang menguar dari tubuhnya saat ia menatap papi Tama.


Karena ia yang ia tahu, papi Tamalah yang membeli perusahaan itu. Hawa mencekam itu semakin terasa saat empat orang yang baru tiba langsung masuk setelah mengucapkan salam.


Terutama Kendra dan Tania. Aura keduanya seperti aura seseorang yang akan menelan orang hidup-hidup. Wajah datar dan dingin begitu menakutkan terlihat saat ini.


Kendra duduk berdampingan dengan Tania, Abi Kevin dan Ummi Mutia. Ke empat orang itu duduk bersisian. Sisi kiri dan kanan Paman Kevan. Mereka semua mengelilingi Paman Kevan yang sendirian.


Paman Kevan terkekeh sinis melihat itu. "Ternyata.. Keluarga kalian main keroyokan begini, ya? Cih!" ucap Paman Kevan menyindir mereka semua.


Tania terkekeh sinis mendengar ucapan Paman suaminya itu. "Kami bukan seperti Anda, Paman! Suka main keroyokan dan main belakangan! Jika sanggup, hadapi kami secara terang-terangan!" balas Tania tak kalah sini dari ucapan Paman Kevan yang menyindir mereka baru saja.


Paman Kevan menatap tajam pada Tania yang di balas tatap dengan sengit juga oleh Tania. Abi Kevin tersenyum tipis melihat menantunya itu.


Ummi Mutia diam saja. Ia tetap menatap dingin pada seseorang yang pernah mencoba merusak hidupnya itu.


"Ada tujuan apa Paman datang kemari?" tanya Kendra langsung ke intinya.


Paman Kevan menoleh pada keponakannya itu. Ia tersenyum sinis. "Kamu sudah tahu apa tujuanku datang kesini Kendra! Paman pikir, kamu sudah tidak mau ikut campur lagi dengan wasiat itu. Tapi ternyata.. Kamu licik!" tuduhnya pada Kendra yang membuat Tania seketika meradang.

__ADS_1


Tania ingin membalas tuduhan Paman suaminya itu. Tetapi Kendra memegang tangan Tania agar tetap duduk dan diam. Tania menurut walau napasnya memburu.


Paman Kevan semakin senang melihat Tania terpancing dengan ucapannya baru saja. Ia yakin. Setelah ini, Tania pasti akan lebih marah lagi saat mendnegar ucapanny selanjutnya.


"Kenapa Paman menuduhku licik? Apa yang sudah aku lakukan hingga Paman menuduhku seperti itu?" tanya Kendra masih dengan suara datar dan tenangnya.


Walau Kendra sudah tahu maksud tujuan Paman Kevan bicara apa. Ia tetap ingin mendengar langsung dari mulut adik ayahnya itu.


Paman Kevan tersenyun sinis lagi pada Tania yang kini semakin ingin melahap Paman suaminya itu.


"Kembalikan apa yang sudah menajdi milikku! Kenapa kamu mengambilnya tanpa seizin ku?! Surat wasiat itu masih ada di tanganku! Jangan lupakan itu Kendra! Bukan kamu saja yang berhak dengan isi surat wasiat itu. Tapi aku juga! Pamanmu! Seharusnya semua harta itu jatuh ke tanganku! Bukan ke tanganmu!" tukasnya begitu sengit kepada Kendra yang kini menghela napas panjang.


Deg!


Abi Kevin, Ummi Mutia dan Tania menoleh pada Kendra yang kini menatapnya dengan bingung.


"Apa maksudmu, Ken? Ada hak Tania disana? Bagaimana bisa?" tanya Abi Kevin mewakili yang lainnya.


Paman Kevan menatap tajam pada Kendra karena tidak percaya dengan ucapan putra saudara kembarnya itu.


"Jangan berbohong Kendra! Jelas-jelas disana tertulis harta itu milikmu dan milikku! Bagaimana mungkin bisa menjadi milik Tania?" kilahnya pura-pura tak percaya.

__ADS_1


Padahal ia sudah tahu akan hal ini. Karena Tania memiliki hak disana, makanya ia sengaja membuat Tania celaka dan akan meminta Tania untuk menyerahkan 25% isi surat wasiat itu untuknya.


Tujuannya hanya untuk membuat celaka Bukannya menghilang hingga ia kesulitan mencari jejak Tania waktu itu. Paman Kevan terus menatap tajam pada Kendra yang kini juga menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


"Aku tidak berbohong Paman. Paman pun tahu apa isi dari surat wasiat itu. Akan tetapi, yang aku herannya. Kenapa Paman sampai tega ingin melenyapkan istriku? Padahal Paman tahu jika Tania pemilik 25% isi dari surat wasiat itu? Kenapa Paman? Kenapa Paman mencoba melenyapkan hidupku? Apa tujuanmu yang sebenarnya? Jika tentang harta, aku tidak percaya! Pasti ada hal lain yang mendasarinya!" tuduh Kendra tepat sasaran yang membuat raut wajah Paman Kevan berubah pias seketika seperkian detiknya.


Kendra tahu itu. Akan tetapi, secepat kilat Paman Kevan merubah raut wajah itu menjadi tajam dan datar kembali saat menatap Kendra.


Kendra tersenyum tipis saat melihat Pamannya tidak bisa berbicara lagi. "Kenapa Paman diam? Benar bukan perkataanku baru saja? Bukan tentang harta sampai Paman berlaku nekad seperti ini! Pasti ada hal lain yang mendasarinya! Katakan Paman! Aku ingin mendengarnya!" ucap Kendra lagi pada paman Kevan yang kini menatap mata Kendra dengan raut wajah sendu.


Kendra tersenyum melihat tatapan mata itu berubah menjadi sendu.


"Aku tidak menginginkan harta itu Paman. Bahkan aku rela dan ikhlas semua harta itu Paman miliki. Yang aku mau hanya istriku dan keluargaku. Tania sangat berharga untukku. Jika aku kekurangan harta untuk menghidupi keluargaku, maka aku bisa mencarinya. Tetapi Paman? Kenapa Paman sampai tega melakukan hal ini kepada istriku? Apa salah Tania pada Paman? Bukankah di dalam surat wasiat itu jelas dikatakan, jikalau aku menikah dengan Tania, maka separuh isi surat wasiat itu untukku dan istriku? Dan separuh lagi untuk cucu kakek, keturunan Paman? Bukan begitu, Paman? Lantas apa yang terjadi denganmu? Kenapa Paman tega melakukan hal ini kepada istriku? Apa salah kami padamu, Paman?" tanya Kendra dengan suara yang berubah menjadi lirih dan bergetar.


Tania memegang erat tangan Kendra untuk menguatkannya. Tatapan Paman Kevan menatap lekat Ummi Mutia yang kini juga menatapnya dengan sendu.


Abi Kevin pun demikian. Suasana yang tadinya tegang, kini berubah menjadi mellow seketika saat mendengar suara Kendra yang terdengar lirih dan bergetar.


Pertanda, suami Tania itu begitu sedi dengan kenyataan hidup pernikahannya yang selalu dihantui oleh Pamannya sendiri.


"Jika memang aku salah, aku minta maaf sama Paman. Tak ada sedikit pun aku mencoba untuk mengambil harta warisan. Warisan itu jatuh pada pihak kedua jika Paman membuat ulah. Dan inilah yang terjadi. Aku hanya melakukan apa yang menjadi isi wasiat itu. Tentang perusahaan itu kembali padaku, semua itu karena keluarga istriku. Mereka dengan suka rela memberikan perusahaan itu kepada kami berdua sebagai hadiah pernikahan kami. Akan tetapi, aku merasa tidak pantas untuk memilikinya," lirih Kendra yang membuat semua orang menatap bingung padanya. Kecuali Paman Kevan. Ia sudah tahu arti dari ucapan Kendra itu.

__ADS_1


__ADS_2