Princess Pratama

Princess Pratama
Season 3 ( Penjelasan )


__ADS_3

"Kenapa? Terkejut?" ledek Dzaki yang baru saja selesai menghubungi seseorang yang entah siapa.


Kedua pemuda itu menatap pias pada Dzaki yang kini mendekati mereka berdua.


"Tak usah berbelit-belit saudara Agus dan Anti! Ck. Kenapa kamu itu Anti, sih? Yang kayak nama cewek aja!" ketus Dzaki melewati keduanya yang kini semakin terkesiap mendengar nama asli mereka sudah di ketahui saat ini oleh keluarga besar Riya dan Jia.


"D-adari mana kalian tahu nama kami?" tanya Agus dengan wajah pucatnya.


"Jiaaahh.. Ngaku dia bang!" celutuk Alish sembari tertawa keras di ikuti keluarga yang lainnya.


Zayn dan Zayden terkekeh mendnegar ucapan adik bungsunya itu.


"Zayn, zayden! Temui kedua istri aklian. Tanyakan apa mau mereka. Apakah ingin bertahan dengan pemuda berandalan ini? Atau mereka memilih ikut kita pulang ke Indonesia?" ucap Oma Annisa yang diangguki oleh kedua cucu tampannya itu.


Dzaka dan Dzaki duduk di samping istri mereka sambil menikmati buah semangka yang sudah di belah dan di potong oleh istri mereka berdua.


"Baik, akan kami tanyakan." jawab Zayn dengan segera bangkit menuju ke kamarnya di susul Zayden di belakangnya dengan membawa dua potong semangka untuk putranya itu.


Tiba di sana, keduanya segera masuk dan melihat si kemnar sedang berbicara dengan Ummi mereka.


"Abi!" seru keduanya dengan mata berbinar.

__ADS_1


Zayan tersenyum pada putranya itu. "Kalian duduk di sana. Jangan dengar apapun yang Abi dan ummi bicarakan. Paham?" ucap Zayn yang diangguki oleh kedua bocah kemvar itu.


Keduanya menerima semangka pemberian Zayn dan segera menjauh dari kedua orangtuanya. Mereka sibuk mengunyah semangka sembari melihat gambar yang saat ini ada di tangan mereka.


"Katakan. Apa mau mu setelah ini? Apakah kamu memilih menetap di Kairo atau kamu memilih ikut pulang bersama kami?"


Deg.


Deg.


Jia diam. Tangannya meremat dengan kuat hingga memerah. Zayn menatap tangan itu dengan lekat. Ia tahu, jika Jia sedang tertekan saat ini.


"Jangan takutkan dua pecundnag itu! Keduanya sudah di tangani oleh keluarga kita. Katakan saja apa maumu. Apakah kau ingin tinggal bersama mereka yang bukan mahrammu, atau kau memilih pulang bersama kami yang jelas masih keluargamu?" tanya Zayn lagi pada Jia yang kini matanya mengembun menatap Zayn.


Duuaarr!


Zayn tersentak melihat wajah lebam Jia. "Bawa aku pergi dari sini Bang. Aku ingin pulang ikut kamu. Aku masih istrimu hingga saat ini. Rumah dan semua usaha yang kami punya di sini, itu uangmu. Uang nafkah darimu yang setiap bulannya kamu kirimkan untuk kami. Aku sengaja mengikuti kemauan kedua laki-laki itu. Mereka mengancamku akan membunuh si kembar jika aku berani menolak. Dan ini," tunjuk Jia pada luka di pipinya. "Luka ini di akibatkan karena aku selalu melawannya yang ingin meminta harta milik kita! Milik putra kita! Mereka sengaja menculikku! Padahal saat itu, kami bukan ingin kesini. Kami hanya ingin berlibur ke Jerman," lirih Jia yang membuat Zayn segera mendekap tubuh kurus sang istri yang kini menangis di pelukannya.


"A-aku hiks.. Bukan pergi meninggalkanmu! A-aku hiks.. Ingin menenangkan pikiranku dengan cara berlibur. Awalnya iya, aku ingin pergi meninggalkanmu. Akan tetapi, kami berubah pikiran. Bodoh, jika kami kalah dari pelakor itu! Kamu, suamiku! Mana mungkin aku rela berbagi dengan orang lain! Nggak akan pernah Bang Aayn! Aku ingin mengabarkan tentang penculikan ini. Tetapi, ponsel kami di sita oleh keduanya."


"Terus, masalah surat cerai itu, kami tidak pernah mengajukannya. Itu akal-akalan mereka yang memaksa kami untuk menandatangani surat itu, padahal kami tidak mau! Kamu tahu? Jika kami berdua sedang berbadan dua saat tiba di Kairo. Mereka jahat, Bang! Mereka kejam! Untung saja kedua putra kita tidak keguguran karena ulah keduanya yang memaksa kami untuk melayani mereka! Hiks!"

__ADS_1


Deg.


"Apa? Kalian di paksa melayani lelaki bejat itu?" tanya Zayn dengan begitu terkejut.


"Ya, mereka memaksa kami. Untungnya kami bisa bela diri waktu itu. Tapi, kakak waktu itu sempat pingsan akibat tampan dari si Agus itu! Jika bukan karena tetangga yang menolong kami dan membuat surat perjanjian dengan keduanya, maka kami sudah tiada sejak dulu,"


"Maafkan aku, Bang Zayn.. Aku salah karena pergi tanpa pamit darimu. Aku salah.." cicit Jia yang membuat Zayn semakin erat memeluk tubuhnya.


"Baiklah, sekarang sudah jelas jika keduanya yang bermasalah bukan kamu! Untuk itu, kita akan menghukum keduanya sesuai ketentuan yang berlaku. Tetapi, sebelum itu, biarkan Oma yang menangani mereka berdua." Ucap Zayn yang diangguki oleh Jia masih di dalam pelukannya.


Begitu juga saat ini di kamar Zayden.


Riya terus sesegukan di dalam pelukan Zayden yang kini bergetar tubuhnya, ingin sekali menghabisi kedua laki-laki sialan itu.


"Astaghfirullah, teganya mereka! Baik, jika itu yang mereka lakukan padamu, akan abang katakan pada Oma. Biar Oma yang menghukum keduanya!" Ucap Zayn dengan napas memburu.


"Hiks.. Aku masih istrimu, Bang. Aku tidak pernah tidur dengannya. Ini kamar kami bertiga. Mereka memiliki kamar lain di rumah ini. Mereka sengaja tidak mau pergi karena menginginkan harta kita. Aku tidak pernah memberikan sertifikat rumah ini dan juga usaha kita. Mereka tinggal di sini dengan gratis selama empat tahun ini. Kami hidup di bawah tekanan keduanya. Lihatlah kedua anakmu? Bukankah mereka begitu mengenali dirimu? Padahal keduanya tidak pernah bertemu denganmu." Ujar Riya menjelaskan apa yang terjadi pada mereka selama empat tahun ini.


"Aku ingin menghubungimu. Akan tetapi, keduanya mengancam kami akan melenyapkan si kembar. Aku punya buktinya, Bang! Sengaja aku merekam semua perkataan mereka untuk di jadikan bukti. Siang malam aku selalu berdoa. Berharap ada salah satu dari keluarga atau kenalan kami yang melihat kami di sini dan mengatakannya padamu. Tetapi, tidak. Lama kami menunggu dalam ketidak pastian."


"Kami tidak menyerah Bang. Kamu tahu? Untuk mengambil uang nafkah yang kamu berikan tiap bulan saja aku harus ke kantor Imigran. Aku menitipkan semua berkasku di sana. Mereka percaya pada ucapanku karena salah satunya temanku saat kuliah di sini dulu. Maka dari itu, kedua laki-laki itu tidak bisa mengambil harta itu dari kami karena kami menyimpannya di tempat yang aman. Hiks.. Maafkan aku Bang Zayden.. Aku salah.. Maafkan aku.." Riya bersimpuh di kaki Zayden yang membuat suaminya itu terkejut bukan main.

__ADS_1


"Astaghfirullah! Udah, sayang! Nggak boleh begini! Melihatmu dan anak kita masih mengenaliku saja sudah sangat membahagiakan untukku! Ayo, kita kembali dan menghukum keduanya. Biarkan Oma dulu yang berbuat sesuka hatinya, baru giliran kita!" Ucap Zayden yang diangguki oleh Riya.


Satu aja, ya. Besok, othor tambah 🙏🙏


__ADS_2