Princess Pratama

Princess Pratama
Hukuman yang pantas untukmu!


__ADS_3

Sementara di Medan sana.


Kini Uwak Lana sedang duduk berhadapan dengan Ummi Mutia yang tubuhnyabergetar karena berhadapan langsung dengan Uwak Lana yang kini memasang wajah datar dan dinginnya.


Hawa di dalam ruangan itu begitu sepi, sunyi dna suram. Bulu kuduknya berdiri saat mersakan hawa dingin yang keluar dari tubuh Uwak Lana yang kini masih menatap dalam padanya.


"Aku tidak akan mengulangi ucapanku padamu, Mutia. Jika kamu tidka mau mengakui, jika semua ini adalah ulahmu dan juga suami kumpul kebo kamu itu.. Maka jangan salahkan aku. Jika hukuman ini akan aku lakukan padamu!"


Deg!


Ummi Mutia menelan salivanya. Ia tetap menunduk. Tidak ingin melihat uwak Lana yang saat ini berada dihadapannya di temani Malik, putra sulungnya di dalam ruangan itu.


Putra sulung Uwak Lana tidak mau ikut campur. Ia sibuk bermain ponselnya dengan telinga disumpal headset agar tidak terdengar pembicaraan kedua orang dewasa yang tidak ingin ia ketahui tetapi ia sudah tahu maksud dan tujuan sang papi menemui Ummi saudara kembarnya itu untuk apa.


Uwak Lana masih menatap lekat pada wanita yang dulunya pernah menemani hari-harinya saat berada di Kalimantan. Saat Malda lahir pun, ia ikut membantu Uwak Lana membantunya mengurus putrinya itu.


Dan kini, entah apa yang terjadi dengannya. Setelah pertemuan terakhir kalinya saat ziana masih bayi, tak lama setelah itu ia mengabarkan tentang perjodohan serta perjanjian konyo itu.


Bertepatan dengan sang Jendral saat itu dikabarkan meninggal dunia karena penyakit jantung yang dideritanya. Padahal selama yang ia tahu, jenderal nya itu tidak ada riwayat sakit jantung.


Tapi entah apa yang terjadi saat itu, hingga Ummi Mutia dan Juga Kevan mengatakan hal itu. Uwak Lana tidak percaya. Hingga akhirnya, sebelum ia kembali ke medan, ia menemukan sepucuk surat yang dituliskan langsung dengan tangan seseorang yang diberikan oleh seseorang yang langsung padanya yang membuatnya sangat shock hingga tergugu saat memandangi Ummi Mutia yang dulunya begitu terlihat bahagia bersam Kevan saudara kembar Kevin yang merupakan abi kandung Kendra.

__ADS_1


Uwak Lana masih menatapnya dengan dingin.


"Karena kamu seorang perempuan. Sama seperti almarhum mak ku, kakak ku, adikku, istriku dan juga putriku. Maka aku masih berbaik hati padamu. Jika tidak? Pastilah wajah kamu sudah tidak berbentuk saat ini. Aku masih sayang padamu Mutia. Sayang dalam artian, kamu temanku yang dulu pernah mengurus Malda putriku sulungku.


Jika tidak, kamu sudah aku habisi saat ini juga!"


Deg!


"Aku masih tahu batasanku, Mutia. Jika bukan karena perjanjianku dengan ayah mertuamu. Maka saat ini kalian berdua sudah aku habisi. Kamu kejam sebagai seorang Ibu, Mutia.


Sebenarnya apa yang kamu fikirkan saat kamu memikirkan rencana jahat ini? Tidakkah kamu kasihan melihat putra sulungmu yang begitu terluka dan terpukul karena ulahmu yang memaksakan kehendakmu padanya.


Ia terpaksa terjebak di dalamnya karena ulahmu. Dan saat ini, ia terluka karena cintanya yang tak terbalas oleh putramu.


Inikah rencana mu Mutia?? Kamu ingin membuat posisi putriku sama seperti posisi mu??"


Deg!


"Kamu ingin balas dendam padaku dengan cara seperti ini?? Kamu ingin membalas rasa sakit dihatimu saat kamu tahu jika aku sudah memiliki calon istri yang kini sudah menjadi besan mu??"


Deg!

__ADS_1


Keringat dingin mengucur di seluruh tubuh Ummi Mutia.


"Jawab Mutia!"


Deg!


Ummi Mutia terjingkat, ia menoleh pada Uwak Lana yang kini menatapnya dengan datar dan dingin.


Tatapa mata Ummi Mutia begitu sendu saat bertatapan dengan tatapan mata Uwak Lana.


"Ya, kamu benar! Aku sengaja melibatkan putrimu dan putraku dalam hal balas dendam ini. Karena aku ingin melihat perasaanmu. Bagaimana perasaan mu saat melihat putrimu tidak dianggap cintanya?? Bahkan terkesan dibuang? Sakit bukan?? Begitu juga denganku!


Setiap kali aku melihatmu berbicara dengan calon istrimu dan kamu membicarakannya dengan Ali, membuat darahku serasa mendidih!


Aku ingin menghajar kalian berdua karena tidak mengerti dengan perasaanku! Semua ini tidak sebanding dengan rasa sakit dihatiku. Belum seberapa saja kamu sudah seperti ini padaku. Lalu, bagaiaman jika putrimu mengalami hal yang sama sepertiku?? Mencintai pemuda lain tetapi terpaksa menikah dengan pemuda yang tidak ia kenal dan ia cintai sama sekali?


Semua ini hukuman yang pantas untukmu, Bang Lana!"


...****************...


__ADS_1


__ADS_2