Princess Pratama

Princess Pratama
EAP GROUP SINGAPURA


__ADS_3

Setelah pertemuan itu untuk yang terakhir kalinya, Papi Tama tidak lagi bertanya tentang perkembangan kesehatan Kendra seperti apa.


Apakah sudah dibawa pulang atau belum, ataukah masih dirumah sakit beliau tidak bertanya lagi. Karena papi Tama sudah berjanji pada Tania untuk tidak mengurusi mereka lagi.


Kini hari-hari yang Tania lewati seperti hambar dan tidak bersemangat. Tidak seperti sepuluh tahun yang lalu di mana dirinya selalu bersemangat setiap harinya ia selalu berpikir jika suatu saat akan bersama pemuda yang pernah ia temui saat dirumah sakit sang Uwak.


Tapi tidak untuk saat ini. Keinginan untuk bersatu dengannya sudah tidak ada lagi di dalam hati Tania.


Sudah dua minggu lebih terhitung sejak terakhir kali Tania menerima pesan terakhir yang dikirim oleh Uwak Lana ke ponsel miliknya tentang kesehatan Kendra yang semakin menurun sebab tidak mau makan, Tania sudah tidak pernah sekalipun melihat ponsel pribadinya lagi.


Tania semakin sibuk di perusahaan. Ia cuma beristirahat tiga hari saja dirumah. Hari ke empat saat kaki dan tangannya sudah tidak kaku lagi, Tania langsung masuk ke perusahaan.


Di temani oleh papi Tama dan mami Annisa sebagai pemilik perusahaan itu, mereka berdua mengenalkan Tania sebagai pewaris yang sah sekaligus CEO di perusahaan EAP Group miliknya .


Perusahaan yang bergerak dibidang jasa percetakan novel Online dan juga pemilik sebuah aplikasi resmi penulis berbakat yang berasal dari Indonesia yang dibangun beberapa tahun yang lalu oleh mami Annisa dan semua saudaranya itu kini berkembang begitu pesat.


Bahkan saking majunya perusahaan itu di bidangnya, banyak sekali musuh yang ingin mengusai saham sekaligus perusahaan itu.


Tetapi sayang, tak ada satu pun yang bisa menembus pertahanan yang selama ini dibuat oleh mami Annisa untuk perusahaannya itu.


Dan hari ini, Gading yang bertugas menyelidiki dan juga ia yang bertugas sebagai IT nya, kini ia sedang memerika semua kejanggalan yang terjadi.


Disana ada mami Annisa, papi Tama, dan papi Ali. Mereka masih menyimak dan menunggu apa yang sedang Gading perbuat dengan sepuluh jarinya ditombol keybord laptop milik perusahaannya.


Gading sibuk menekan semua tombol itu hingga ia berhenti dan melihat mami Annisa yang kini juga melihat padanya.


"Siapa mereka?" tanya mami Annisa langsung to the point yang membuat tiga orang itu menatap Gading dengan seksama.


Gading menghela nafas panjang. Ia beralih pada Tania. "Kenapa? Musuhnya dari perusahaan suami adikmu?" tanya Tania pula padanya yang membuat Gading mengangguk.


"Kakak benar. Musuh kita kali ini merupakan orang dalam yang bekerja di Wiryawan Group. Entah kah bang Kendra terlibat aku tak tahu. Tetapi titik merah ini langsung menuju dimana tempat mereka berada saat ini. Lihatlah!" tunjuk Gading pada layar laptop yang ia putar balik dan menunjukkan gambar hologram titik keberadaan perusahaan itu.


Mereka bertiga melotot tak percaya.


"Rumah Uwak Lana?"


"Kediaman bang Lana?"

__ADS_1


"Bang Lana?" ulang mereka bertiga bersamaan yang membuat Gading mengangguk mantap.


"Kita hubungi mami!" katanya sambil menghubungi cinta pertamanya itu.


"Hem.. Apa!" ketus suara di seberang sana.


"Abang!!!" Pekik si cantik Alkira melalui sambungan ponsel miliknya.


Gading terkekeh, "assalamu'alaikum Dek."


"Hem!" jawab Alkira mendengus ketus.


Gading terkekeh lagi di ikuti oleh papi Ali. "Jawab dulu salam Abang, sayangku. Ih! Gimana sih?"


"Wa'alaikum salam.. Mami. Abang mau ngomong nih!" katanya pada mami Kinara yang kini melihat layar ponsel itu dengan wajah malas.


Papi Ali dan Gading terkekeh-kekeh melihat dua wanita beda usia itu.


"Mereka ngambek pi. Papi aja deh yang ngomong. Abang nggak berani. Takut di sembur!"


"Abang.. Adek denger ya!" peringat Alkira masih dengan wajah masamnya.


"Serius mami!"


Deg!


Mendengar suara Gading tegas dan lembut padanya, mami Kinara segera menegakkan tubuhnya.


"Kenapa? Kamu ingin mami kerumah Uwak mu?" tanya nya juga dengan wajah seriusnya.


Gading mengangguk, "Tolong mami cek, apa benar jika perusuh yang saat ini sedang berada dirumah Uwak Lana. Mami hanya perlu untuk mencari titik lokasi yang sudah Abang kirimkan ke ponsel mami. Mereka tidak akan tahu akan hal itu. Pergilah!" katanya pada mami Kinara yang segera bergerak bersama Alkira.


Keduanya terus berjalan masih dengan ponsel menyala. Tetapi untuk pembicaraan mami Kinara dan Alkira sudah memasang earphone di telinga mereka berdua.


Mereka berdua masuk kerumah itu dimana Uwak Lana dan Kendra sedang berbicara serius. Mereka berhenti sejenak disana.


"Bukan mereka mami! Ada orang lain di dalam rumah itu sedang mencoba untuk membobol data perusahaan kita!" katanya lagi yang membuat kedua orang itu mengangguk.

__ADS_1


Mami Kinara dan Alkira menuju ke dapur dimana mami Maura berada. Tiba disana, titik di ponsel mami Kinra semakin berbunyi nyaring yang membuat jantung keduanya berdetak tidak karuan.


Keduanya menutup mulut mereka saat melihat mami Maura sedang berjongkok di bawah kursi dengan dua orang di dapur itu sedang memegang laptopnya dengan serius.


"Dapat!" seru Gading yang membuat mami Kinara terdiam terpaku di tempat saat melihat jari mami Maura berada di bibirnya.


"Ssssttt.. Pergilah!" usir mami Maura dengan bahasa tangan nya yang ia gerakkan membuat mereka berdua perlahan mundur.


Keduanya berbalik dan segera menuju dimana Uwak Lana dan Kendra sedang menunggu mereka saat ini.


"Ternyata.. Musuh kita berada di dalam rumah ini. Dan kamu yang memeliharnya bang Lana. Aku harap, kamu tidak menyesal nantinya! Ayo Nak, kita pulang!" ketusnya sambil melewati Uwak Lana dan Kendra yang kini menatap mereka berdua dengan datar.


Kamu akan menyesal karena berurusan Keluarga Bhaskara, Kendra! Lihat saja. Kamu dan perusahaan mu akan hancur setelah ini. Kamu dan Bang Lana akan menyesal karena sudah memelihara ular di dalam rumah ini! Kalian akan menyesal karena berusaha ingin merebut perusahaan keluarga kita yang berada di Singapura.


Batin mami Kinara begitu geram kepada suami Tania dan juga Abang kandung se ibu dengannya itu.


Mereka berempat yang ada di Singapura di dalam ruangan khusus IT itu terdiam tanpa kata saat mendengar gumamam dari mami Kinara baru saja.


"Hancurkan mereka Nak! Mami tidak peduli dengan Uwak dan juga suami kakak mu! Mereka berdua sudah berani memelihara ular di dalam rumah mereka selama ini. Sebagai balasan nya.. Hancurkan mereka!"


Deg!


"Hancurkan mereka yang sudah berani mengganggu EAP group kita! Perusahaan End Family Annisa Pratama Group! Tak peduli jika itu penghalangnya saudara ku sendiri! Lakukan perintah mami, Gading!"


"Baik, Mi!"


Tak


Tak.


Ddduuuaaarrr!!


"Tidaaaakkk!!!"


...****************...


Mampir kesini lagi yok!

__ADS_1



__ADS_2