
Ke empat paruh baya itu berhenti melihat kamera cctv yang ada diruangan itu. Karena saat ini Kendra sedang berganti pakaian. Tania baru saja selesai memandikannya.
"Hunny," panggil Kendra.
"Hem? Kenapa? Kedinginan?" Jawab Tania yang diangguki dan gelengan bersamaan oleh Kendra.
Tania tertawa.
"Terus?" lanjut Tania lagi dengan tangan terus bergerak mengelap seluruh tubuh Kendra yang putih pucat dan sangat kurus.
Tulang rusuk Kendra begitu terlihat jelas dimata Tania. Mata Tania mengabur kembali. Sesak didada itu bermunculan lagi.
Maafkan aku, Bang. Aku salah karena bersembunyi darimu selama ini. Aku pikir. Kamu bahagia setelah aku pergi. Tapi ternyata?
Batin Tania nelangsa melihat dada Kendra yang begitu kurus.
Tes.
Tes.
Buliran bening itu melucur tanpa sengaja. Kendra yang melihat air mata melewati pipi halus Tania, segera menyekanya.
__ADS_1
"Hiks.. Maaf.." ucap Tania pada Kendra yang kini tangannya sudah meyapu pipi halusnya dengan tangan kurusnya itu.
"Nggak.. Kamu nggak salah Hunny. Kamu wajar kok melakukan hal itu. Karena memang abang yang salah.." lirih Kendra segera memeluk Tania yang bersimpuh dan bersujud dikedua kakinya.
Kendra memeluk punggung Tania yang bergetar yang bersimpuh dikakinya. Tania terisak dan tersedu.
Kendra pun ikut tersedu. "Udah.. Jangan menangis Hunny. Udah, cukup!" Ucap Kendra segera menarik Tania ke dalam pelukannya.
Tania semakin tersedu. Ia begitu merasa bersalah terhadap kendra.
"Jika bukan karena kepergianku waktu itu, maka kamu tidak mungkin seperti ini Bang. Aku salah. Aku minta maaf. Waktu itu aku ingin pulang ke Medan. Tapi.. Hiks.. Hiks.. A-aku.. A-aku tidak sanggup melihatmu bahagia bersama Ziana, adik sepupuku.. Huaaaaa.. Aaaaa.." Tania meraung dipelukan Kendra yang kini semakin erat memeluknya.
Kendra belum lagi menggenakan CD dan juga celana panjangnya. Yaitu baju pasien rumah skait yang tersedia didalam lemari ruangan itu.
"Nggak.. Kamu nggak salah. Abang yang salah. Kamu wajar melkauakn hal itu. Kamu pantas marah dan kecewa. Abang memang pantas mendapatkan itu. Dan hukumannya pun sudah abang dapatkan selama hampir tiga tahun ini.
Kamu wanita yang baik. Karena diriku, kamu berubah menjadi keras dan menjadi pembangkang. Bukankah seorang istri itu sesuai dengan perlakuan suaminya? Jiak sekiranya dulu aku baik padamu, apstilah kita berdua sudah bahagia saat ini. Tetapi tidak! Aku malah berlaku demikian padamu. Kamu hanya berusaha membela dirimu.
Dan itulah yang kamu lakukan saat itu. Kamu hanya melakukan apa yang kamu anggap benar! Kamu nggak salah, Hunny! Kamu nggak salah!" Ucap kendra menenangkan hati Tania yang kini masih merasa bersalah padanya.
Kendra terharu dengan hal itu. Ia tidak berpikir, jika Tania bersimpuh dan meminta maaf padanya. Padahal menurutnya, hal itu wajar terjadi. Karena dirinya sebagai seorang suami yang tidak tegas menurut mereka, hingga menyebabkan Tania pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Setelah Tania pergi, barulah hatinya itu merasa kehilangan dan kekosongan yang begitu terasa direlung hatinya.
"Sudahlah, Hunny.. Jangan menangis lagi!" bujuknya pada Tania yang masih menangis dipelukannya.
Tania yang sesegukan didadanya menggeleng pelan. Tubuh chubby itu masih bergetar hebat.
"Hiks.. Enggak! Hiks.. Aku salah sama kamu! Kamu masuk rumah sakit selama hampir tiga tahun itu karena ulahku! Kamu sakit karena memikirkan aku! Sedang aku? Hiks.. Aku bisa hidup tenang selama hampir tiga tahun ini di Singapura!" Jawab tana semakin tersedu dipelukan Kendra.
Kendra mengeratkan pelukannya di tubuh Tania. "Nggak, Hunny. Itu bukan salahmu. Itu murni kesalahanku! Karena keegoisanku, kamu memilih mundur! Karena aku lebih memilih baktiku pada Ummiku, kamu yang menjadi sasarannya! Andai aku tidak melakukann dan menuruti permintaannya.. Pastilah saat ini kita sudah berbahagia bersama dengan kedua anak kita! Abang menyesal! Sungguh-sungguh menyesal! Maka dari itu, abang meminta sama Allah, untuk diberikan kesempatan kedua agar bisa hidup bersama kamu dna anak kita.
Sudah cukup abang menuruti orangtuaku. Yang nyatanya tetap pergi disaat aku sedang terpuruk akan kepergian kalian dan juga rasa bersalahku! Tiada yang melihatku selama aku sakit! Mereka sibuk dengan hal mereka. Mereka tidak pernah sekalipun menjengukku! Hanya Om Kenan, Tante Bella dan juga Uwak Ira. Aku bertahan karena ucapan mereka yang mengatakan jika kamu masihlah hidup.
Jika bukan karena mereka, mungkin aku sudah pergi dari dunia ini untuk selamanya!" Ucap Kendra yang membuat Taia terkejut bukan main dengan ucapannya itu.
"Mungkin aku sudah mati, Hunny.."
Ddduuaarr!
Tubuh Tania tersentak saat Kendra mengatakan hal itu. Ia mengurai paksa pelukannya dari tubuh Kendra dan mendongak melihat mata sang suami yang kini menatap sayu padanya.
"Nggak! Bukan kamu yang salah. Yang salah itu, aku! Aku pergi tanpa bertanya bagaimana dengan hati dan pikiranmu. Seandainya aku tidak mengedepankan emosi dan cemburu, maka kamu tidak mungkin berujung dirawat kerumah sakit jiwa seperti ini! Maafkan aku, Suamiku.. Mafkan aku.." lirihnya sembari kembali menubruk tubuh Kendra hingga keduanya jatuh terhuyung kebelakang.
__ADS_1
Kendra meringis sambil tertawa karena keduanya jatuh terjengkang kebelakang dengan Tania berada diatas tubuh Kendra.
Pemuda tampan berusia 27 tahun itu tertwa bahagia saat merasakan tangan chubby Tania mencibit pinggangnya.