
Jangan marah dan jaga emosi ye? Ini lagi puasa wey! 🤣🤣
Jaga hati!
Happy Readyng..
**
Zee sudah membereskan sisa perbuatan Tania. Ia membersihkan semua ruangan itu hingga bersih. Sedang Tania saat ini sedang sholat meminta petunjuk.
Ia sangat khusyuk dalam berdoa hingga tubuh itu berguncang. Zee pun ikut menangis melihat kerapuhan Tania.
Tapi apa yang bisa ia perbuat selain hanya bisa memberi Tania arahan dan saran saja.
Tania selesai dari sholatnya dan berlalu turun kebawah di mana Kendra dan yang lainnya sedang menunggu Tania saat ini.
Karena Zee sudah mengirim pesan kepada mami Annisa kalau ia akan turun setelah tenang.
Dan disinilah Tania saat ini.
Ia duduk berhadapan dengan semua keluarganya termasuk Kendra suaminya.
__ADS_1
Kendra menatap lekat pada Tania yang kini berwajah datar dan dingin pada semua orang. Tatapan keduanya bertemu.
Tania menatap lekat pada bola mata yang kini menatapnya dengan sayu dan rasa bersalah yang begitu mendalam. Tania menghela nafasnya.
Mata keduanya tidak terputus tetap menatap satu sama lainnya.
"Mungkin ini akan sangat menyakitkan untukku. Tetapi inilah keputusan ku. Keputusan final yang tidak bisa di ganggu oleh siapa pun. Walau sakit, harus aku lalui. Toh, aku ini orang baru yang mampir di kehidupannya sedang adik sepupu ku sudah lebih dulu terikat denganya." ucap Tania masih dengan menatap Kendra yang kini menggeleng padanya.
Semua keluarga harap-harap cemas menunggu jawaban nya.
Huffftt..
Sesak sekali. Tetapi harus ia katakan.
Uwak Lana mengangguk dengan tatapan sendunya.
"Baik. Aku sudah memutuskannya. Selama Ziana belum menjadi istri suamiku, maka selama itu aku tetap menjadi istrinya. Tetapi ketika suamiku sudah menikahi adik sepupuku, maka saat itu juga aku mundur!"
Deg!
"Nggak Hunyy.."
__ADS_1
Tania tersenyum menatap Kendra yang kini semakin terlihat nelangsa di matanya.
"Ini harus Bang. Kamu harus memenuhi janjimu. Lebih tepatnya janji kedua orang tua mu. Janji adalah hutang Bang Kendra. Kamu harus melakukannya. Kamu tenang saja, aku tidak akan menuntut apapun darimu. Aku akan bertahan denganmu sampai Ziana siap untuk mendampingimu. Maka sebelum pernikahan itu terjadi, aku akan tetap menjadi istrimu. Kita punya waktu dua tahun lagi untuk bersama Bang Kendra.
Itu pun jika kedua orang tuamu tidak mendesakmu untuk menikah dengan Ziana di umur Ziana yang belum cukup."
Kendra menggeleng lagi. Ia bangkit dan duduk berlutut dihadapan Tania. Tania pun ikut berlutut di hadapannya.
"Abang nggak mau kita berpisah hunny.. Tapi Abang juga tidak bisa menolak pernikahan ini. Jangan pergi hunny.. Abang bisa beneran gila bila kamu tinggalkan nantinya! Abang bersungguh-sungguh hunny!" tegas Kendra yang membuat jantung Tania berdegup bertalu-talu saking takutnya.
Ia tetap tersenyum pada Kendra. "Hormati keputusan ku bang Kendra. Aku tidak mau di madu dengan adikku sendiri. Lebih baik aku mundur dari sekarang daripada hatiku terluka nantinya. Tak ada wanita yang mau disatukan bang Kendra. Aku yakin. Wanita yang di madu pasti merasakan sakit yang tiada tara hingga ia memilih tegar untuk menghadapinya karena tidak memiliki pilihan lagi. Sementara aku? Aku masih diberikan kesempatan untuk bisa memilih.
Dan inilah pilihan ku. Aku tetap akan mundur dari pernikahan kita ketika Ziana sudah bisa menggantikan posisiku dan layak bersanding dengan tuan muda Kendra Wiryawan. Dan Princess Pratama akan mundur.
Selagi waktu itu belum tiba, maka kamu tetap suamiku." Ujar Tania dengan senyum serta tangan itu mengusap lelehan buliran bening di pipi sang suami yang kini terus menggeleng tidak menyetujui keputusannya.
Semua yang mendengar keputusan Tania hanya bisa tertegun dan terdiam. Mereka tidak bisa berkata apapun saat ini termasuk Uwak Lana yang begitu sangat bersalah.
Karena dirinya, hubungan Kendra dan Tania hanya sampai seumur jagung saja.
Apa yang bisa ia perbuat? Janji tetaplah janji yang harus ia tunaikan seperti permintaan Papi Gilang dulu. Walau Mak Alisa pernah menolaknya, tetapi perjanjian itu tetap harus dilakukan.
__ADS_1
Dan inilah saatnya.
Demi memenuhi janji, mereka tega memutuskan hubungan sepasang kekasih yang sudah terikat oleh Takdir sejak mereka belum lahir.