
Tania, Kendra, papi Tama, Uwak Lana dan Aldo sudah tiba di Belanda. Perjalanan waktu tempuh yang menghabiskan waktu hingga15 jam 32 menit terbayar sudah.
Mereka berangkat malam pukul 18.56 waktu Jakarta tiba di Belanda pukul 5.30 subuh waktu Belanda.
Selisih antara Jakarta dan Belanda sekitar lima jam lebih cepat waktu di Jakarta. Makanya ketika mereka tiba di Belanda, keadaan di Belanda masihlah gelap. Masih subuh.
Mereka berlima sempat melakukan sholat subuh dahulu sebelum melanjutkan perjalanan yang akan membawa mereka ke tempat penginapan yang sudah papi Ali sewakan selama sepuluh hari disana. Itu kalau pencarian Ziana cepat.
Jika tidak, maka waktunya akan diperpanjang. Karena saat ini bulan Juni, maka musim di Belanda masih musim semi. Hawa sejuk dan harum bau bunga bermekaran tercium hingga ke hidung mereka semua.
Sepanjang perjalanan menuju rumah yang sudah mereka sewa untuk sepuluh hari, mereka tak hentinya melihat pemandangan diluar sana. Mata mereka semua dimanjakan dengan bunga yang masih bermekaran. Padahal musim semi tinggal sebulan lagi.
Setelah ini, Belanda akan memasuki musim panas. Inilah waktu yang tepat untuk mereka datangi. Tania tahu akan hal itu. Makanya ia memilih bulan Juni untuk ke Belanda.
Cukup satu jam perjalanan, mereka semua sudah tiba dirumah sewa itu. Tania memilih duduk diluar rumah tersebut. Ia melihat seluruh halaman rumah itu begitu bayak bunga yang masih bermekaran.
Tania tersenyum melihat bunga-bunga itu. Mereka tiba dirumah sewa itu sudah pukul 6.30 pagi. Matahari baru saja menunjukkan wujud aslinya yang hangat menerpa tubuh penduduk belahan bumi Belanda.
Kendra mendekati Tania dan memeluknya dari belakang. Tania tersenyum lagi. Ia membalas pelukan Kendra tak kalah eratnya.
__ADS_1
"Masuk dulu. Istirahat Hunny. Nanti siang kita sudah mulai bergerak mencari Ziana," Ucap Kendra yang diangguki oleh Tania.
"Tentu, ayo kita masuk!" ajak Tania yang diangguki oleh Kendra.
Sementara ketiga pemuda didalam rumah itu sudah membersihkan dirinya semenjak Tania memilih berdiri dihadapan taman rumah itu.
Tania pun masuk ke kamarnya bersama Kendra untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelahnya, mereka baru bergabung dengan ketiga orang pria dewasa yang kini sedang membahas jalur mana yang akan mereka tempuh untuk bisa menyusul Ziana.
Tania dan Kendra segera bergabung dengan ketiga lelaki dewasa itu. Mereka berlima segera menghubungi salah satu orang papi Tama yang ditugaskan kesana untuk memantau Ziana.
Orang papi Tama itu segera datang ke rumah mereka saat papi Tama menghubunginya untuk menyusul mereka. Kelima orang itu segera makan siang untuk menambah amunisi demi bisa menyeberangi lautan luas untuk tiba di tempat Ziana berada saat ini.
Tania sempat melihat wajah murung mami Maura saat Uwak Lana mengatakan jangan terlalu berharap akan kembalinya Ziana. Tetapi, cukup doakan yang terbaik demi keselamatan Ziana.
Pasrah akan takdir. Itu lebih baik.
Jika sebagian orang tiba di kota kincir angin harus berpariwisata, jalan-jalan dan makan-makan. Tapi, tidak dengan mereka berlima.
Tidak sedikitpun terpikirkan tentang hal itu. Yang mereka pikirkan saat ini ialah bagaimana caranya agar bisa cepat tiba ditempat Ziana dan membawanya pulang ke Indonesia setelah memastikan keselamatannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Tania bersama Kendra terus berdoa didalam hati tentang Ziana. Tadi malam di dalam pesawat, Ziana sempat bermimpi dan menceritakannya kepada mereka semua.
Katanya,
"Kakak bertemu dengan Ziana didalam mimpi. Ia terlihat cantik sekali dengan tubuhnya yang semakin berisi." Cerita Tania yang membuat ke empat pria dewasa itu mendengarkan dengan seksama apa yang Tania ceritakan kepada mereka.
"Terus?" tanya Uwak Lana menatap lekat pada keponakannya itu.
Tania menatap Uwak Lana dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Berat ingin menyampaikann keadaan Ziana didalam mimpi itu.
Mimpi bukanlah hanya sekedar mimpi. Terkadang mimpi bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk masa akan datang. Mimpi juga bisa menjadi sesuatu yang menakutkan jika dihayati terlalu dalam.
Akan tetapi, semua mimpi yang Tania dapatkan selama ini. Tidaklah mungkin salah. Ingatkan saja dulu saat ia bermimpi Kendra yang kembali dikurung dirumah sakit.
Benar adanya bukan?
"Lajutkan, Hunny. Biar kami tahu apa arti mimpi itu. Mimpi kamu tidak mungkin salah. Karena abang sendiri sudah pernah merasakannya dan mengalami hal yang ada didalam mimpi kamu itu," ucap Kendra yang diangguki oleh Tania dengan dada yang begitu sesak.
Tania menghela napasnya. "Kakak melihat Ziana.. Kalau.. D-dia saat ini.. Da-dalam keadaan.. Hiks.. Hiks.. Ha-hamil!"
__ADS_1
Ddduuaaarrr!