
Ziana menujukkan ponselnya kepada dua satpam penjaga itu. Foto dimana seluruh keluarga besar berkumpul dan saling hadap-hadapan saat buka puasa bersama.
Kedua orang itu saling pandang.
"Kenapa? Kalian belum percaya juga? Butuh bukti yang lain??" katanya lagi pada kedua satpam itu yang kini menatapnya dengan lekat.
Ziana mengangguk paham. "Baik.. Kalau begitu. Saya akan menghubungi papi saya. Jenderal Maulana Akbar Abang kandung mami Annisa!"
Deg!
Keduanya tersentak kaget saat mendengar nama itu.
"Ya sayang? Assalamualaikum. Kakak udah sampai nak? Gimana sama kakak kamu? Udah ketemu? Mami kamu mana? Berikan ponselmu padanya!"
Terdengar suara lembut tapi tegas di dalam ponsel itu yang membuat wajah keduanya pias seketika.
Ziana segera mengalihkan ponselnya mejadi kamera belakang.
"Loh? Pak Sofyan? Pak Mahmud? Kenapa pak?"
Kedua satpam itu tersentak saat mendengar suara Uwak Lana sedang berbicara dengan mereka berdua.
__ADS_1
"H-hah I-iya Tuan! Ti-tidak ada apa-apa. Baiklah Neng. Silahkan masuk!" "Pak Sofyan menjawab ucapan Uwak Lana dengan tergagap sekaligus mengajak tamu tuannya itu untuk masuk kerumah.
"Lah, loh? Kakak! Kenapa ini? Ada apa??" tanya nya lagi yang membuat Ziana mengubah kembali kamera ponselnya menjadi wajahnya lagi.
Ziana tidak tersenyum tetapi menjawab ucapan sang papi. "Tidak apa-apa Pi. Mereka butuh pembuktian jika kami ini memang keluarga mami dan papi. Mereka tidak percaya jika kakak keponakan mami Annisa. Makanya tadi kakak segaja menghubungi papi. Biar mereka tahu saiap kami." Jelas Ziana yang membuat Uwak Lana terkekeh.
Begitu pun dengan ketiga pemuda yang kini berada di belakangnya. Mereka pun ikut terkekeh walau sesekali menahan sakit dan pusing di kepalanya.
"Ya sudah. Jika ada perkembangan tentang kakak kamu, segera hubungi papi. Lusa, papi akan berngkat kesana bersama adik kamu, Malik. Saat ini papi masih ada kerjaan sedikit. Besok selesai."
"Hem," jawab Ziana yang kini sudah memasuki rumah kediaman mami Annisa dan papi Tama itu.
Berikut dengan foto Ziana dan juga semua sepupunya. Kendra tertegun melihat itu. Di sudut sebelah kanan ada foto pernikahan mereka berdua dulunya.
Dan di sebelahnya foto saat mereka bulan madu di pantai batu putih di Aceh tiga bulan yang lalu.. Kendra menatap figura itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia terharu. Ternyata Tania tidak melupakannya begitu saja. Bahkan setiap sudut ruang tamu itu dihiasi dengan figura mereka berdua yang saat itu tertawa lepas di pantai batu putih itu.
Kendra menitikkan air matanya melihat semua figura itu. Cintanya semakin dalam untuk Tania, istrinya.
Tetapi tidak untuk seorang gadis yang kini menatap figura itu dengan tatapan datar dan jantung yang terasa di cabik-cabik saat melihat kebersamaan keduanya.
__ADS_1
Aldo mendekati Zianadna merangkul bahunya. Ziana menoleh padanya.
Cup.
Ziana terpaku. Ia menatap lekat bola mata yang kini sama sendunya seperti dirinya. Aldo tersenyum.
"Dia cinta kakak mu. Dan kamu cintaku." Ucapnya yang membuat mata Ziana berkaca-kaca bahkan sampai menetes.
Aldo mengusap buliran bening itu. "Jangan menangis. Dan jangan sakit hati dengan figura itu. Kita tidak pernah tahu akan jatuh cinta pada siapa. Contohnya Abang saat ini. Walau kamu masih berstatus istri Kendra tapi Kendra sudah menyerahkan kamu sama Abang. Ia tinggal menunggu keputusan takdir untuk hidupnya saja.
Jika kakak kamu masih hidup, maka kamu harus merelakannya. Namun, jika kakak kamu sudah tiada. Kamu pun harus melepaskannya. Demi kebaikan bersama." Lanjut Aldo lagi yang diangguki oleh istri muda Kendra itu.
Kendra tertegun sambil memegangi figura kecl di atas lemari. Dimana dirinya saat itu pernah mencium Tania saat di taman hingga berujung ke tempat penginapan sementara.
Mengingat itu, Kendra merasakan sesak yang tiada tara di hatinya.
"Hunny.. Kamu dimana?"
...****************...
__ADS_1