Princess Pratama

Princess Pratama
Satu, tapi tak bisa bersama


__ADS_3

Ziana melamun dengan air mata terus beruraian. Di tangannya kini masih memegangi ponsel Kendra yang menunjukkan video pernikahan mereka.


Aldo mencoba mendekatinya yang saat ini duduk disamping Kendra yang terbaring dengan wajah pucatnya.


Ziana menatap lekat pada Kendra. Aldo merasa bersalah melihatnya.


"Nna.." tegurnya pada Ziana yang kini masih saja melamun.


Aldo terpaksa memegang bahu istri kedua Kendra itu hingga sang empu terjingkat kaget dan spontan menyebut nama Tania.


"Nna!"


"Hah? I-iya Kak Nia? Maafkan adek, Kak.. Adek nggak-," ucapan Ziana berhenti saat melihat Aldo kini berada di hadapannya sedang duduk dengan pancaran mata yang begitu bersalah padanya.


"Hah? Oh, Bang Aldo? Kenapa? Bang Kendra sudah bangun kah? Kalau iya, aku harus hubungi kakak ku saat ini." Lanjutnya lagi yang membuat Aldo merasakan sesak yang tiada tara di dadanya.


"Maafkan Abang, Nna.. Semua ini permintaan kakak mu. Katanya, kalau suaminya menikah dengan mu, ia meminta di kirimkan videonya melalui ponsel suaminya agar ia percaya jika kamu sudah menikah dengannya.." lirihnya tak bersuara.


Aldo menitikkan air matanya saat melihat wajah bingung Ziana padanya. Ia memegang kedua tangan Ziana yang juga di balas olehnya.


"Hoo.. Aku kira Abang sengaja mengirimnya. Aku takut Bang Al. Aku takut, kalau kakak marah padaku. Aku tidak mau dia membenciku karena aku menikahi suaminya. Hiks.. Aku nggak mau kakak marah padaku! Aku, aku terpaksa melakukan ini demi dirinya dan Bang Kendra. Aku ingin dia bahagia bang.. Aku ingin dia bahagia bersama suaminya," Ucap Ziana dengan leher tercekat.

__ADS_1


Sakit sekali dadanya saat mengatakan hal itu. Ia tersedu. Aldo pun demikian. Ziana menunduk dan memeluk tangan Aldo. Aldo pun ikut tersedu.


"Maaf Nna.. Abang janji. Abang akan melindungi kamu dan Tania seperti janji Abang sama Kendra. Dan kamu juga harus berjanji! Kamu harus kuat dan selalu bersama kami berdua. Jangan pergi kemana pun tanpa pengawasan kami, paham?"


Ziana mengangguk masih dengan sesegukan. "Iya bang, Adek janji. Adek nggak akan kemana pun! Tanpa Bang Aldo dan bang Kendra! Semoga masalah ini cepat selesai.." jawabnya terisak-isak yang diangguki oleh Aldo dengan tersenyum walau air mata membasahi pipinya.


Entah kenapa hati ini bisa terpikat dna terikat dnegan mu, Nna.. Abang nggak tahu. Sejak pertama kali melihatmu saat di Aceh kemarin, hati ini tiba-tiba saja berubah haluan.


Rasa cinta yang selama ini ku pendam untuk Tania, kini entah hilang kemana. Baru sekali saja melihatnya, hati ini sudah berubah haluan.


Bagaimana jika kau bisa memiliki Ziana untukku? Untuk hidupku? Apakah hati dan hidup ini akan sempurna??


Batin Aldo menatap sendu padanya. Ziana menatap Aldo dengan tatapan kosongnya. "Andai kita tidak telat di pertemukan Bang Aldo.. Pastilah saat ini aku tidak menjadi istri suami kakak sepupu ku.." lirih Ziana yang semakin menyayat relung hati Aldo.


Aldo mengusap air mata Ziana. "Dengarkan Abang, Nna. Kita bukan terlambat di pertemukan. Tetapi awal mula dari semua ini baru saja di mulai. Kita berdua memang sudah ditakdirkan untuk bersama seperti ini. Hanya saja.. Takdirmu dan takdirku berbeda. Kita satu, tetapi tidak bisa bersama. Sama seperti suami kamu dan juga kakak sepupu mu. Mereka satu, tetapi tidak bisa bersama karena ada masalah yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.


Bukan tidak ditakdirkan atau tidak berjodoh, tetapi memang inilah takdir keduanya. Yang sabar.. Semua ini akan indah pada waktunya. Ya?"


Ziana menoleh padanya, "Tapi sampai kapan Bang? Satu bulan? Dua bulan? Atau sampai satu tahun? Jika itu sampai terjadi, maka aku hancur saat itu juga. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati kakak saat itu!"


Aldo menatap lekat padanya. "Lalu, bagaimana dengan mu?"

__ADS_1


Deg!


Ziana terkejut. "Bagaimana dengan hati mu yang terluka dan tersakiti saat orang yang kamu sukai dan kamu cintai selama dua minggu ini malah tidak ingin memiliki mu? Ia hanya ingin memiliki istri pertama nya saja? Mampukah kamu bertahan? Mampukah kamu bertahan sampai batas waktu yang tidak di tentukan?


Setiap hari, setiap malam kamu akan selalu melihatnya?? Mampukah kamu menghadapi hatimu, Ziana Puteri Maulana??"


Deg!


Deg!


Ziana terkesiap mendengar ucapan Aldo padanya. Ia gelagapan. Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.


Aldo masih menatap lekat padanya. "Jawab Nna. Bagaimana dengan hatimu sendiri? Bisa kamu menahan rasa sakit dihati mu setiap kali melihat Kendra yang selalu merindukan kakak sepupu mu??"


Ziana menunduk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yok mampir kesini!


__ADS_1


__ADS_2