Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Tidak ada kesempatan kedua!


__ADS_3

Zayden pun demikian. Ia mengikuti langkah kaki Zayn yang sudah lebih dulu berada di tangga sana menghadap istrinya yang kini berwajah datar padanya.


Tiba di undakan tangga, Zayn berbicara pada istrinya. "Kami tidak melakukan apa yang kalian pikirkan. Tidak seperti itu!" ucap Zayn pada Jia yang kini menatap lurus ke depan dengan wajah dinginnya.


Zayn merasa tercubit hatinya melihat wajah cantik yang hanya bisa ia lihat di layar depan dan layar kunci ponselnya saja.


Zayden mengambil tangan Riya yang di tepis olehnya. Lagi, bagai ditusuk sembilu hatinya saat melihat penolakan dari istrinya. Keduanya terpaksa mengalah. Padahal saat ini, keduanya begitu ingin mendekap tubuh kecil yang kini sudah semakin berisi sejak tiga tahun yang lalu itu.


Selama keduanya di Amerika, keduanya tidak pernah pulang walau ketika lebaran. Keduanya ingin cepat selesai dan bisa kembali ke Aceh secepat mungkin. Akan tetapi, karena kejadian itu, keduanya terpaksa harus menanggung resikonya.


Resiko yang sudah di peringatkan oleh mami Tania dan istri mereka yang keduanya langgar. Dan saat ini, inilah buah hasil dari perbuatan keduanya. Berharap damai dan kembali tenang, itu sudah tidak mungkin. Karena minggu depan, keduanya harus menikah dengan wanita yang mereka nodai itu tanpa sepengetahuan keduanya.


"Kami berdua baru tahu, bahwa rekaman cctv di ruang hotel itu rusak dan juga cctv di dalam kamar Hotel itu tidak berfungsi. Mami dan Abi sudah berusaha mengusutnya. Akan tetapi, semuanya sia-sia. Bukti rekaman cctv di lorong Hotel mendadak hilang begitu saja," ujar Zayn yang membuat keluarga kini menatap mami Tania dan Abi Kendra.


"Benar yang Zayn katakan. Sebelum kami memenuhi ucapan wanita itu, kami sudah menyelidiki ini terlebih dahulu. Tetapi, nihil. Kami tidak menemukan apapun di sana. Berharap akan ada keajaiban, malah ketakutan dan kehilangan yang kami rasakan saat melihat kehadiran Prince dan Alzana di sana," ucap mami Tania begitu lirih.


Semua yang mendengar ucapan mereka pun kini sudah paham. Seseorang yang baru datang itu tidak jadi masuk bersama istrinya. Ia kembali ke mobil dan berbicara dengan sambungan ponselnya. Entah dengan siapa itu.


Sedangkan di dalam rumah, Zayn dan Zayden masih berusaha menjelaskan dan meminta kesempatan pada kedua istrinya.

__ADS_1


Zayn dan Zayden memeluk istri masing-masing. Keduanya begitu rindu dengan tubuh Chubby tetapi ramping itu. Zayn dan Zayden mengecup dalam puncak kepala istri mereka.


Keduanya mengurai pelukan sambil menatap sendu dan sayu pada istri mereka.


"Berikan kesempatan kedua pada kami. Kami mengaku salah karena melanggar apa yang kamu katakan. Akan tetapi, percayalah. Tidak sedikit pun kami berniat ingin menduakan kalian. Hanya kamu seorang istriku, kamu seorang. Tiada yang lain," lirih keduanya bersamaan dan sangat kompak.


Oma Annisa yang tadinya terpejam kini membuka kedua matanya dan terkekeh bersama Opa Tama yang juga ikut terkekeh.


"Dalam keadaan kejepit pun cucu kamu masih bisa kompak begitu, Papi!" ucap Oma Annisa yang membuat Nenek Ira menghela napasnya.


"Sekarang, kami izinkan kalian berdua untuk berbicara dari hati ke hati. Pergilah!" titah Nenek Ira menatap lekat pada kedua cucunya itu yng kini menatap juga padanya.


Zayn dan Zayden menunduk. Tak urung langkah itu pun mengikuti istrinya untuk berbicara dari hati ke hati berdua saja.


Setibanya di dalam kamar keduanya duduk saling berjauhan. Zayn dan Zayden sadar, keduanya bersalah saat ini. Keduanya pun memilih mengalah asal pernikahan keduanya terselamatkan.


"Sayang-,"


"Cukup Bang. Kami berdua sudah memutuskan."

__ADS_1


Deg


Deg


Ucapan keduanya menghantam sisi lain di diri Zayn dan Zayden saat ini. Keduanya menatap lekat pada istri mereka.


"Apa maksudmu?" tanya keduanya, masih juga kompak. Walau keduanya berlainan kamar, kekompakan itu tidak pernah hilang.


"Kami sudah tidak bisa memberikan kesempatan untuk kalian berdua. Pernikahan ini sudah berakhir saat kami melihat kalian berdua menunjukkan bahwa sudah ada gadis lain yang sudah menggantikan posisi kami," jawab keduanya kompak juga.


"Sayang, itu hanya salah paham. Abang di jebak. Dan itu, bukan yang sebenarnya. Kami tidak pernah menyentuh dia. Jika ia abang menyentuh dia, bukankah sisa percintaan itu ada di tubuh abang? Di bibir, leher dan juga seluruh tubuh mereka? Sayangnya itu tidak ada, Sayang! Tubuh keduanya bersih dari mahakarya yang pernah abang perbuat pada tubuhmu! Kamu lupa, apa yang pernah kita lalui selama satu tahun sebelum kami berangkat ke Amerika? Jika kamu lupa, mari kita praktekkan!" ucap Zayn dan Zayden yang lagi dan lagi sangat kompak. Keduanya berkata begitu serius.


Riya dan Jia melebarkan mata mereka saat mendengar ucapan kedua lelaki itu. Earphone yang terpasang di telinga keduanya sangat jelas menangkap apa saja yang pasangan mereka katakan dan terdengar jelas di telinga keduanya.


"Tidak! Itu tidak akan terjadi! Bagiku, hubungan kita sudah berakhir! Bukankah, minggu depan kamu akan menikah dengan wanita itu? Lantas, untuk apa kamu meminta kesempatan kedua padaku saat ini?" Zayn dan Zayden menunduk sendu.


"Nggak ada gunanya Abang! Semuanya sudah selesai! Keputusan kami sudah bulat. Aku, tidak akan memberikan kesempatan kedua padamu untuk kembali padaku!" tegas kedua putri Abi Prince yang membuat kedua jantung si kembar sulung mencelos seketika.


Keduanya terhenyak dengan pernyataan penolakan dari istrinya saat ini. Pernyataan yang begitu menyakitkan yang membuat dunia mereka runtuh seketika. Jika di pikir-pikir, kesalahan itu bukanlah pada Riya dan Jia yang tidak mau memberikan kesempatan kedua.

__ADS_1


Tetapi, kesalahan itu terletak pada Zayn dan Zayden yang melanggar apa yang pernah menjadi perjanjian mereka berdua sebelum keduanya berangkat ke Amerika dulunya.


__ADS_2