
Ketiga paruh baya beda usia itu tertegun melihat ketiga anak muda yang kini kompak ingin pergi tanpa meminta izin dulu pada mereka.
Uwak Maura yang kini ingin mendekati Ziana dan akan memarahi nya lagi berhenti tatkala Uwak Lana angkat bicara.
"Boleh papi bicara Nak?"
Deg!
Ktiga pemuda yang sedng berdiskusi itu kini menoleh dengan datar pada mereka bertiga.
"Apa yang ingin Uwak katakan?" tanya Kendra seakan tahu apa tujuan mertuanya itu untuk berbicara dengan mereka bertiga yang kini sedang bersiap dan masih diperiksa oleh dokter.
Kendra dan Aldo harus bertanggung jawab sendiri jika keadaan mereka tidak baik-baik saja jika tiba di Singapura nanti.
Dokter melarang keduanya untuk pergi karena kondisi tubuh mereka yang belum lagi pulih. Baru saja luka itu dijahit, tetapi sudah harus melakukan perjalanan jauh yang akan berakibat fatal pada tubuh keduanya.
__ADS_1
Kendra dan Aldo sama-sama terluka saat ini. Tidak dengan Ziana. Ia hanya terluka sedikit di pelipisnya akibat lemparan batu yang sengaja di lempar oleh orang tidak di kenal olehnya.
Ziana menatap datar dan sendu pada sang papi yang kini akan berbicara entah tentang apa.
"Maaf.. Jika papi menyela kalian bertiga. Papi hanya ingin mengatakan, apakah sebaiknya ditunda saja dulu kalian ke Singapura nya? Jangan salah paham dulu! Papi hanya tidak ingin melihat kalian kelelahan saat tiba disana. Tubuh kalian belum fit dan masihlah sakit. Benar yang dokter bilang. Kalian harus menunda sampai kalian sembuh dulu baru nanti kalian ke Singapura. Papi pun akan ikut mencari Tania disana." Ucapnya yang ditanggapi dengan tatapan tajam oleh Kendra dan Ziana yang kini menatap pria matang itu.
Uwak Lana menghela napasnya.
"Maaf Wak. Aku tetap harus mencari istriku! Hidup ataupun mati! Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari. Lebih baik aku mencarinya sekarang daripada nanti. Iya jika ia hidup tidak masalah. Tapi jika ia sudah tiada? Bisa Uwak mengembalikan dirinya lagi?"
Deg!
"Nggak kan Wak? Aku tidak ingin hidup dalam rasa bersalahku seumur hidupku terhadap istriku yang sudah mengabaikannya. Seharusnya aku berlaku adil dan tidak mengizinkannya pergi.
Tetapi apalah dayaku? Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan khilaf. Lebih baik aku mencarinya sekarang daripada nanti. Jika nanti-nanti, ia sudah tidak terlihat lagi. Yang ada aku akan jadi gila karena terus dihantui rasa bersalah padanya.
__ADS_1
Tolong pahami perasaanku Wak! Aku sudah menuruti kemauan kalian untuk menikahi Ziana yang sebenarnya Tania sendiri tidak setuju. Seandainya aku tidak menikah dengan adik sepupunya maka kejadian ini tidak perlu terjadi.
Aku sudah cukup menderita selama ini. Biarkan aku mencari hidupku, Wak. Tania hidupku. Uwak tentu paham bukan?" tekan Kendra di akhir kalimatnya yang dijawab dengan anggukan pasrah oleh Uwak Lana yang kini mendekati Ziana dan memeluk erat putri sulungnya itu.
Ziana tidak berekasi sama sekali yang membuat Uwak Lana merasakan sakit karena dibaikan oleh putrinya sendiri.
Ia mengecup kening Ziana dan mulai membersihkan sisa kehancuran yang dibuat oleh putri sulungnya. Ziana ingin sekali membalas pelukan sang papi. Tetapi tidak bisa.
Karena dua singa di belakangnya kini menatapnya dengan wajah datar dan dingin. Aldo dan Kendra segera bersiap.
Sore itu juga Kendra, Aldo dan Ziana akan Ke Singapura untuk mencari keberadaan Tania yang entah seperti apa keadaannya saat ini.
...****************...
__ADS_1