Princess Pratama

Princess Pratama
Kamu, meragukan ku?


__ADS_3

Sepenggal kata-kata itu terngiang dikepala Tania. Tania menerima dengan pasrah apa yang Kendra berikan padanya.


Sentuhan yang memabukkan membuat seluruh sendi Tania lemas bagai tak bertulang. Tania menikmati setiap sentuhan yang Kendra berikan untuknya.


Semakin lama semakin dalam. Keduanya berperang bersama untuk mencapai kenik matan yang sudah lama tidak mereka dapatkan.


Kendra yang sudah siap tempur pun, segera meletakkan posisi nya. Tania masih berusaha mengumpulkan kesadarannya setelah diobrak abrik oleh Kendra baru saja.


Benda lunak tak bertulang yang bengkok seperti pohon kelapa itu segera menusuk pusat tubuh Tania. Wanita dua orang anak itu membuka kedua matanya.


Kendra menatap Tania dengan lekat. Wajah berkabut gai rah. Tania melihat senjata tempur yang sudah mengacung itu.


"Abang yakin?" tanya Tania pada Kendra yang kini mengernyitkan dahinya bingung.


"Maksudnya?" balas Kendra.


"Em.. I-itu.. Apa kamu sanggup untuk..." ucapan Tania menggantung saat melihat wajah Kendra berubah menjadi datar seketika.


Kendra kembali duduk pada posisinya yang membuat Tania tersentak.


"Bang," panggil Tania merasa tidak enak hati.


Kendra tidak menyahutnya. Ia sibuk memakai kembali baju dan celana panjangnya. Ia merebahkan tubuhnya dan membelakangi Tania.


Tania bangkit dan duduk dibelakang Kendra dengan tubuh yang masih polos. Hanya tertutup dibagian pusat tubuhnya saja dengan selimut.


"Abang, dengar dulu-,"


"Apa yang harus aku dengar Tania?"

__ADS_1


Deg!


Tania terkejut mendengar ucapan Kendra yang memanggil namanya. Bukan sayang lagi. Tania menyentuh lengan Kendra.


Kendra menyentaknya. "Apakah karena aku kurus, aku tidak sanggup menggagahimu? Apakah karena tubuhku kurus kamu berpikir kalau aku tidak mampu menunaikan kewajibanku, begitu?"


Deg!


Deg!


Tania mematung mendengar ucapan Kendra. Tangan yang tadinya ingin memegang lengan Kendra menggantung diudara.


"Kenapa? Segitu tidak inginkah kamu untuk ku sentuh?"


Deg!


Deg!


"Apakah karena itu? Salahkah diri ini meminta hakku, padamu?"


Deg!


Tubuh Tania masih mematung mendengar ucapan Kendra. Ia masih menatap Kendra dengan terdiam. Sementara Kendra masih saja membelakanginya dan memilih memejamkan matanya karena merasa kepalanya kini berdenyut sakit lantaran ha srat nya tidak tersalurkan.


Selama tiga tahun ini, tidak sekalipun ia berha srat atau apapun. Yang diingat olehnya hanya Tania dan Ziana. Dimana keberadaan mereka berdua. Hingga membuat hatinya semakin menggunung dengan rasa bersalah.


Tapi saat ini. Tadi, pada saat melihat Aldo memaguut istrinya, membuat darah Kendra berdesir. Darahnya mendadak panas. Ia berha srat melihat tubuh Tania walau tertutup.


Dan inilah yang ia lakukan saat ini. Tapi apa yang barusan ia dapatkan? Tania malah meragukanya.Tapi kenapa?

__ADS_1


Apakah karena dirinya tidak segagah dulu lagi? Sampai Tania meragukan ketangguhannya dalam bercinta?


Apakah tubuhnya yang kurus membuat Tania tidak puas ketika nanti ia gagahi? Pikiran Kendra berkecamuk saat Tania bertanya,


"Abang yakin?"


Bukankah pertanyaan itu meragukan dirinya?


Kendra menahan amarah didadanya. Ia tidak ingin marah pada Tania. Tetapi berusaha meredam rasa marah dan ha srat yang kini meminta dirinya untuk dipuaskan.


"Bang, bukan begitu maksudku-,"


"Lantas seperti apa maksudmu?" balas Kendra sambil membalikkan tubuhnya dan menghadap pada Tania dengan wajah datarnya.


"Kamu meragukan ku, Tania? Kamu meragukan kejantananku bisa apa tidak saat menggagahimu? Apakah tubuhku yang kurus ini membuat mu tidak nyaman? Jika iya, aku tidak akan meminta hak ku padamu sampai tubuh ini kembali tegap dan gagah kembali!"


Dduuaarr!!


Tania terkesiap mendengar ucapan Kendra. "Bu-bukan begitu Bang-,"


"Sudahlah Tania. Aku capek! Mau tidur! Besok bangunkan aku saat sholat subuh. Mungkin, malam ini aku tidak akan bisa tidur dengan kepala ku yang berdenyut sakit karena ha srat ku tidak tersalurkan!"


Ddduuaarr!


Tania kembali tersentak kala tangan Kendra menepis kasar tangannya. Mata Tania berkaca-kaca.


Ia menurunkan tangannya yang bergetar dan memungut bajunya. Ia pakai baju itu dengan pelan. Kemudian berbaring dibelakang Kendra dengan tubuh menghadap punggung Kendra.


Tania terisak. Kendra menebalkan telinganya. Ia tidak peduli. Sakit sekali hatinya saat Tania, istri yang sangat ia cintai malah meragukan dirinya yang kurus. Dan mungkin tidak akan sanggup menggagahinya karena tubuhnya terlalu kurus.

__ADS_1


__ADS_2