
Kendra melirik Uwak Lana masih dengan air mata yang mengalir.
"Wak.." lirihnya dengan suara seraknya.
Uwak Lana tersadar, ia menghela nafas panjang untuk meredakan emosinya. Ia menoleh pada Kendra.
"Yang sabar ya Ken? Kamu tenang saja. Uwak akan cari cara agar pernikahan mu terjadi tetapi kamu dan Tania tidak berpisah."
Kendra menatap lekat padanya. "Tapi Wak, kasihan Ziana yang dikorbankan disini."
"Tak apa Nak. Lagi pun ini hanya kesepakatan. Walau kamu menikahinya secara agama, itu tidak jadi masalah. Uwak sangat tahu Tania seperti apa. Dia putri kami yang sangat kami sayangi. Tetapi karena hal ini, Perjanjian konyol ini. Uwak sudah terlalu banyak melukainya. Kamu pikir, uwak tega melihatnya tertekan seperti itu?"
Kendra menggeleng. "Istri kamu tertekan batin karena kejujuran mu yang terpaksa kamu lakukan sebelum semuanya dia tahu di belakangan. Semua ini karena ulah kedua orang tuamu yang sibuk ingin merebut perusahan kakek mu yang kini di pegang oleh anak tirinya.
Jika bukan karena Uwak mengenal Ummi mu. Maka Uwak tidak akan mau terjebak dalam permainan ini. Tania terluka karena hal ini. Tetapi Uwak tidak tega melihatmu hidup tertekan dan selalu dibawah kendalinya yang selalu mengancam akan membuangmu dari keluarga mu sendiri.
Sebenarnya kamu itu anaknya bukan sih? Ada ya seorang ibu mengatakan hal seperti itu demi harta!
Uwak melakukan perjanjian ini karena kamu, Nak. Kamu sudah cukup menderita hidup dalam keluarga biadab itu!
Uwak sangat tahu sepak terjang abi kamu itu! Ummi mu yang tidak tahu apapun menjadi sasarannya. Ia menjadikannya alat untuk bisa merebut perusahaan itu kembali.
Uwak melakukan ini agar kamu terbebas dari mereka. Memang kenapa jika kamu tidak menyandang nama Wiryawan lagi? Masalah gitu?
Jika saja kakek mu masih hidup, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya.. Andai.. Waktu Uwak tidak terlambat.. Pastilah kakek mu masih hidup hingga saat ini, Nak..
Uwak sangat merasa bersalah padanya.." lirihnya sendu yang membuat Kendra kembali tersedu.
__ADS_1
"Tapi kamu jangan khawatir. Uwak akan berusaha semampu Uwak untuk membuatmu terbebas dari keluarga mu itu. Karena Uwak sudah berjanji pada kakekmu. Kalau Uwak akan melepaskan mu dari keluarga jahannam itu!
Walau Tania dan Ziana yang menjadi korban, tak apa. Uwak akan menjelaskannya nanti. Yang penting sekarang, kamu dulu yang harus terlepas darisana.
Kalaupun kamu menikahi Ziana, kamu tetap keponakan Uwak Kok. Kamu suami dari keponakan ku. Sekarang dan untuk selamanya. Kamu yang lebih berhak untuk menjadi suami Tania.
Ziana bukan gadis yang pantas mendampingimu. Hanya Tania.." lirihnya dengan dada yang begitu sesak mengingat jika ia terpaksa melukai Tania demi bisa membebaskan Kendra dengan cara menikahkan Ziana dengannya.
Hanya cara itu satu-satunya yang bisa ia lakukan demi bisa membebaskan Kendra dari belitan keluarga Wiryawan.
Sebenarnya tidak masalah jika Kendra keluar dari keluarga itu. Tapi ada satu janji yang harus Kendra tepati ketika ia sudah menikahi Tania. Yaitu harus mengembalikan Perusahaan sang Kakek yang kini berada di tangan saudara tiri Abi nya yang haus akan harta itu dengan cara menikahi Ziana.
Perjanjian konyol, pikir Uwak Lana. Tetapi biarlah. Dengan cara itu, ia bisa membebaskan Kendra darinya.
Kendra menatap nanar pada jalanan yang kini ia lewati. Kenapa dirinya terpaksa menikahi Ziana kini sudah jelas terlihat.
Hanya papi Tama. Itu pun Uwak Lana yang mengatakannya. Bukan Kendra yang mengatakannya.
Karena pada saat mereka datang kemarin siang itulah tujuannya. Tetapi Tania tidak ingin mendengarnya.
Tania beranggapan jika Kendra sangat ingin menikahi sepupu dan menyingkirkan dirinya. Belum lagi berbicara. Tetapi Tania sudah bisa menebak rencana mereka bertiga yang sudah Uwak Lana ceritakan pada papi Tama malah bisa ditebak oleh tania dengan jelas.
Hingga Tania meradang. Dan memilih pergi. Uwak Lana sengaja diam, karena ia tidak ingin menambah luka hatinya lagi. Dengan perkataan sindiran saja sudah sangat melukai Tania.
Apalagi jika ia tahu keadaan suaminya seperti apa. Pastilah ia akan kalap nanti dan menghancurkan perusahaan itu menjadi abu.
Sifat dan sikap Tania sama persis seperti mami Annisa jika sedang lepas kendali.
__ADS_1
Maka dari itu ia hanya mengatakan rencananya kepada papi Tama saja. Tidak kepada dua wanita berbeda generasi itu.
Uwak Lana menghela nafasnya saat melihat tatapan sendu Kendra tadi.
"Bersabarlah kamu menghadapai sikap keras kepala Tania. Tania sama seperti mami nya. Uwak yakin, kalau Tania hingga saat ini pastilah masih menginginkan mu. Dia hanya terluka. Sebaiknya kita plikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa ke Aceh. Ke rumah nenek Uwak yang saat ini itulah tujuan mereka.
Kamu harus bisa bersatu dengan Tania dan memiliki penerus jika ingin terikat selamanya bersama Tania.
Kamu sudah memikirkan rencana apa Ken untuk bisa meluluhkan Tania? Uwak punya rencana sih jika kamu mau?" ujarnya pada Kendra yang kini meliriknya masih dengan wajah sembabnya.
Beliau terkekeh. "Jika Ziana melihatmu habis menangis sama seperti Malik, kamu akan ditertawakan olehnya. Dan dikatakan cengeng!"
Uwak Lana tergelak. Kendra pun terkekeh. Ia jadi teringat Ziana yang saat itu pernah menertawakannya karena menangis melihat Tania menolaknya.
Kendra yang merasa hatinya sakit, tidak tahan untuk tidak menangis. Ziana yang melihat itu bukan menenangkannya malah menertawakannya.
Ziana.
Puteri sulung Uwak Lana sudah Kendra anggap adik sendiri. Bukan calon istri. Pernikahan itu terjadi karena Ziana pun menginginkan jika kakaknya bahagia bersama Abang iparnya.
Kendra sangat bersyukur karena bisa memiliki adik perempuan baik dan pengertian seperti Ziana Puteri Maulana.
...****************...
Noh.. Mana yang kemarin bingung mau komen apa? Udah jelaskan apa masalahnya?
Di bab berikutnya Othor akan bahas sampai tuntas! Klean tenang aja ye?
__ADS_1