Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.10. Kamu Menantangku?


__ADS_3

"Nyonya,"


Maryam menggelengkan kepala saat Marinka baru saja masuk melalui pintu utama.


"Sebaiknya Nyonya cepat pergi dari sini,"


"Ada apa?"


"Tuan...."


"Marinka!" hardik Galang.


Maryam yang ingin memberitahukan situasi dirumah itu, jadi urung mengatakannya saat suara Galang sudah terdengar menggelegar dibalik punggung wanita parubaya itu.


Marinka bisa melihat mata dan wajah Galang memerah, dan ada Karin yang setia mengekor dibelakang pria itu.


"Apa Mas Galang tahu aku pergi kerumah Mana?" batin Marinka.


"Ah...aku lupa. Tentu saja kedua orang itu memberitahukannya, mana mungkin mereka mau membelaku dan mengesampingkan anaknya,"


"Awwww...sakit Mas,"


Marinka meringis kesakitan saat Galang tanpa perasaan mempermalukan Marinka didepan para pelayan, dengan menjambak keras rambutnya hingga kepala Marinka mendongak keatas.


Karin mengulum senyumnya karena sangat senang saat melihat adegan yang dia tunggu-tunggu itu.


"Kamu menantangku Marinka? beraninya kamu menantang aku?" hardik Galang.


"Maksud Mas apa? lepaskan Mas, ini sangat sakit," rintih Marinka.


"Lepaskan? sini kamu! kamu akan tahu setelah merasakannya, berani-beraninya kamu mengadu hah?"


Galang menyeret Marinka, persis menyeret sebuah koper yang baru pulang dari liburan panjang.


"Mas aku mau dibawa kemana? ampun Mas, hikz..."


"Sekarang kamu meminta ampun? tapi sebelum mengadu kamu tidak berfikir dulu?"


Galang mendorong Marinka kedalam kamar mandi dan menyiram Marinka hingga basah kuyup.


Plakk


Plakkkk


Gyuuuuuttt


Lagi-Lagi Galang menarik keras rambut Marinka, terlihat kedua pipi Marinka sudah memerah akibat tamparan yang begitu keras.


"Mas, sakit Mas. Aku hanya ingin menuntut hakku sebagai istri. Apa aku salah Mas?"


"Hak? hak apa yang kamu bicarakan? sampai matipun aku tidak akan pernah memberikan apapun yang kamu inginkan."


"Kamu ingin disentuhkan? aku akan mendatangkan gigolo kerumah ini agar kamu puas disentuh!"

__ADS_1


"Mas! aku bukan pelacur!" hardik Marinka.


"Kamu berani membentakku?"


Plakkk


Plakkk


"Dasar wanita tidak tahu malu, lebih baik kamu pergi saja dari sini!"


"Tidak mas, jangan Mas, ampun. Jangan usir aku Mas, aku tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini. Aku hanya punya Mas seorang, Hikz ..."


"Itu tergantung apa keputusan orang tuaku. Gara-Gara kamu, mereka memanggil aku dan Karin kerumah utama. Awas saja kalau sampai kedua orang tuaku ingin memisahkanku dengan Karin, maka siap-siap kita akan bertemu dipengadilan!"


"Tidak hanya itu, mungkin aku akan melenyapkan nyawamu yang tidak berharga itu!"


Karin menyeringai saat mendengar semua caci maki yang Galang lontarkan untuk Marinka. Wanita itu segera bersembunyi dibalik tembok, saat Galang, ingin beranjak pergi dari kamar mandi itu.


Tubuh Marinka merosot kelantai, wanita itu menangis sesegukkan.


"Makanya, jangan sok deh. Kamu fikir kamu itu siapa? mana mungkin juga orang tua Galang mau membelamu dan membuang anaknya. Aku yakin mereka akan menerimaku sebagai menantu mereka, terlebih sekarang aku sedang mengandung cucunya," ujar Karin.


Marinka menatap Karin dengan sinis, sembari menyeka air matanya.


"Keluar dari kamarku wanita racun! aku tidak butuh ceramahmu itu."


Marinka mendorong Karin perlahan, hingga wanita itu keluar dari kamarnya. Tubuh Marinka kembali merosot kebawah, sembari menangis tanpa suara. Marinka merasakan pedih dan panas pada wajahnya, juga merasakan sakit dihatinya.


"Kamu tenang saja ya? aku yakin kedua orang tuaku akan menerimamu, terlebih ada calon cucu mereka didalam sini,"


Galang mengelus perlahan perut Karin yang masih rata.


"Tapi bagaimana kalau seandainya mereka tetap tidak setuju Mas?"


"Aku akan meninggalkan mereka dan hidup betiga bersamamu dan anak kita."


"Lalu perusahaanmu?"


"Aku tidak butuh itu, aku hanya ingin selalu bersamamu dan anak kita."


"Tidak! ini tidak benar, kalau sampai Galang meninggalkan perusahaannya, itu artinya aku akan kembali jadi gembel. Aku lebih rela jadi istri kedua hidup mewah, daripada jadi istri pertama tapi gembel," batin Karin.


"Tapi alangkah lebih bagusnya kalau aku jadi istri pertama, dan tetap menjadi kaya raya,"


"Ayo kita temui orang tuaku sekarang," ujar Galang.


"Emm."


Disepanjang jalan, Karin memikirkan cara agar dirinya bisa diterima oleh mertuanya itu.


"Sayang. Apa yang kamu fikirkan? apa kamu masih memikirkan kedua orang tuaku?"


"Iya Mas. Aku pasti sangat sedih kalau aku tidak bisa diterima oleh mereka,"

__ADS_1


"Kamu tenang saja ya? aku ini adalah putra tunggal mereka. Siapa lagi yang akan meneruskan usaha mereka kalau bukan aku dan calon cucunya nanti."


"Pokoknya sesampai disana nanti kamu harus pandai mengambil hati mereka,"


"Ya Sayang."


20 menit kemudian mereka tiba dikediaman Surya Suwiryo. Tak ada rasa gugup sedikitpun dihati Karin, karena dia sudah merasa bisa mengendalikan Galang dalam genggaman tangannya.


"Ma, Pa,"


Galang mencium tangan kedua orang tuanya, begitu juga dengan Karin.


"Jadi benar kalian sudah menikah sirih, dan istrimu sedang mengandung saat ini?" tanya Surya.


"I-Iya Pa." Jawab Galang terbata.


"Hah...mau bagaimana lagi, semua juga sudah terjadi. Kalau tahu begini aku tidak akan menikahkanmu dengan Marinka. Kasihan anak itu,"


"Kenapa harus kasihan padanya? itu salahnya sendiri berani masuk dikeluarga yang salah."


"Galang. Papa tahu kamu tidak mencintainya, tapi paling tidak hargai sedikit perasaannya. Kenapa sampai saat ini kamu belum pernah menyentuhnya?"


Galang terkekeh saat mendengar ucapan itu dari mulut Surya.


"Wanita itu benar-benar tidak tahu malu. Bahkan hal seperti itu dia sama sekali tidak malu menceritakannya pada kalian yang notabene adalah papa dan mama mertuanya."


"Jadi itu benar?" ulang Surya.


"Ya."


"Kenapa? kamu sudah melakukan dosa besar Galang."


"Ya mau gimana lagi Pa. Aku sama sekali tidak berselera dengannya. Lagipula aku tidak pernah mencintainya, jadi mana bisa aku menyentuhnya."


Surya menghela nafas panjang, kemudian melirik kearah Karin.


"Kami sama sekali tidak membencimu, meskipun kamu masuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kakakmu. Yang aku ingin tahu, apa kamu siap selamanya menjadi istri sirih dari suamimu?"


"Siap Pa. Aku tidak menuntut apa-apa, karena aku sangat mencintai Mas Galang. Terlebih saat ini aku sedang mengandung buah cinta kami."


"Ya sudah kalau begitu. Kami berharap kamu dan Marinka bisa akur dalam menjalani rumah tangga. Jika suatu saat Galang ingin menyentuh istri pertamanya, jangan ada rasa cemburu dihatimu. Karena itu sudah resiko mempunyai madu dalam pernikahan."


"Iya Pa."


"Maaf Karin, semula Mama mengira kamu wanita yang matrealistis, tapi ternyata kamu wanita yang tulus. Bahkan kamu rela jadi istri kedua, asal bisa bersama Galang."


"Iya Ma nggak apa-apa. Kita memang belum saling mengenal, apapun rumor tentangku diluar sana semua tidak berdasar. Bagiku bersama Mas Galang adalah hal yang paling aku inginkan, soal harta kekayaan aku anggap sebagai bonus."


"Mama dengar sendiri kan? mana mungkin Galang salah memilih istri. Dulu Mama dan Papa terlalu terburu-buru menikahkanku dengan wanita itu."


"Ya. Tapi walau bagaimanapun, dia tetap istrimu juga. Jadi kamu harus berbuat adil dengannya,"


Galang hanya diam saja menanggapi ucapan Rini. Baginya permintaan itu terasa mustahil baginya.

__ADS_1


__ADS_2