Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.104. Ngidam


__ADS_3

"Yud,"


"Hemm?"


"Bangun Yud!"


"Napa Zra? udah malam ini,"


"Beliin bakso dong Yud. Basok beranak yang waktu itu ya?"


"Yang benar aja dong Zra, udah jam berapa ini?"


"Jam 1 Yud."


"Itu tahu jam 1. Jam segini orang pada tidur Zra, yang jualan mungkin udah pingsan semua ditempat tidur."


"Kalau tempat yang waktu itu buka 24 jam Yud. Tolong ya please. Sekalian loe bawa baju kerja, berangkat dari rumahku aja."


"Ezra loe emang kebangetan ya jadi orang. Gue ngantuk banget ini,"


"Please Yud. Benar-Benar lagi pengen ini, nggak bisa tidur kebayang itu terus,"


"Loe kenapa sih? kayak orang lagi ngidam aja."


"Jangan asal, kalau pingin ya pingin aja. Nggak ada sangkut pautnya dengan itu. Cepetan ya? mau rumah nggak?"


"Rumah apa maksudnya?"


"Loe nikah mau gue kadoin rumah nggak?"


"Serius? awas loe bo'ong, gue masukin sumur kayak si Jihan."


"Ya makanya cepetan!"


"Iya, iya tunggu bos ku," ujar Yuda sembari beranjak dari tempat tidur dengan malas.


Sementara itu ditempat berbeda, Marinka juga sama gelisahnya dengan Ezra. Sehingga membuat Sera yang tidur disebelahnya jadi terganggu, karena tempat tidur mereka yang jadi bergelombang.


"Kamu kenapa sih? malam ini kok gelisah sekali?"


Marika jadi duduk seketika, matanya benar-benar sulit terperjam.


"Ser. Aku kok tiba-tiba pengen makan bakso beranak langgananku itu ya?"


"Ampun dah, jangan macam-macam ya? disini mana ada yang begituan? lagian kenapa pinginnya nggak dari kemaren-kemaren, si Ando kan dari kota J."


"Ya namanya juga ngidam Ser, mana bisa ditentukan hari dan jamnya."


"Jadi gimana dong?"


Marinka mengedikkan bahunya dengan wajah yang mendung.


"Ya udah kita tidur lagi aja yuk?" ajak Marinka.


"Emm." Sera mengangguk.


Marinka berbaring dengan membelakangi Sera. Wanita itu mengusap-usap perutnya, berharap anak didalam perutnya bisa mengerti keadaan mereka saat ini.


"Andai ada bang Ezra. Apa dia mau nurutin semua keinginan anaknya?" batin Marinka.


Ezra mondar mandir menunggu Yuda di teras rumahnya, pria itu seolah tidak sabar ingin segera menyantap makanan yang berbahan dasar daging itu. Setelah menunggu 20 menit kemudian, Yuda tiba dengan menenteng satu plastik berwarna putih dan satu tas ransel berwarna hitam.


"Kamu ngapain diluar?" tanya Yuda.

__ADS_1


"Nungguin elu."


"Lebay banget sih Zra. Seumur hidup kita berteman, baru kali ini gue liat loe aneh begini,"


"Namanya juga pengen Yud. Ayo buruan masuk!"


Yuda dan Ezra masuk kedalam rumah, dan langsung menuju meja makan. Ezra menyiapkan dua buah mangkok dan dua buah sendok, agar mereka menyantapnya berdua.


"Sruuuuuppppp...ahh....nikmat," ujar Ezra ketika pria itu nyeruput kuah bakso dari sendoknya.


"Tahu darimana loe makan beginian?"


"tahu dari Marinka. Ternyata selain enak, juga murah."


Yuda mulai memakan bakso yang dia beli, Yuda juga mengakui kalau makanan itu sangat nikmat, terlebih makannya disaat udara sedang dingin seperti sekarang ini. Tidak sampai berjam-jam, akhirnya makanan itu tandas juga.


"Ah...gila kenyang banget ini," ujar Ezra sembari bersandar di kursi.


"Mantap. Tambah nyenyak ini tidurnya, tanggung jawab kalau gue gendutan Zra."


"Nggak sanggup lagi naik keatas, tidur diruang tamu aja yuk?" ajak Ezra.


"Boleh deh."


Tanpa Marinka sadari, dirinya tersenyum-senyum dalam tidurnya. Ngidam yang dia rasakan, tanpa tahu sudah Ezra wakilkan ditempat yang berbeda.


*****


Tring


Tring


Tring


"Ada apa?"


"Bos nona Jihan sudah berjam-jam tidak sadarkan diri, saat kami cek ternyata dia sedang demam tinggi. Kami harus bagaimana bos?"


"Berikan dia obat biasa, stok di markas."


"Baik Bos."


"Kalau tidak ada kemajuan, bawa ke klinik terdekat saja. Tapi ingat! jaga dengan ketat, jangan sampai dia kabur."


"Siap Bos."


Yuda mengakhiri panggilan telpon itu dan beranjak dari sofa.


"Eh? Ezra kemana? apa dia sedang bersiap-siap ke kantor?"


Yuda kemudian bersiap-siap kekantor setelah numpang mandi di kamar tamu.


"Markas nelpon," ujar Yuda sembari memasukkan menu sarapan kedalam mulutnya.


"Ada apa?"


"Jihan sakit, dan tidak sadarkan diri."


"Oh..."


"Menurutmu apa perlu kita bawa kerumah sakit?"


"Terserah saja. Sebenarnya dia memang punya riwayat sakit types, tapi entah juga kali ini dia sakit karena itu atau bukan." ucap Ezra.

__ADS_1


"Aku sudah memerintahkan anak buah kita membawanya ke klinik terdekat, kalau memang tidak ada kemajuan setelah diberikan obat biasa."


"Itu juga bagus."


Yuda dan Ezra kembali makan dalam diam, setelah selesai merekapun berangkat ke kantor. Namun saat jam makan siang tiba, Yuda mendapat kabar yang begitu mengejutkan dirinya sekaligus membuat Yuda murka.


"Ada apa?" tanya Ezra saat melihat wajah Yuda yang sudah merah padam.


"Jihan berhasil kabur."


"Kok bisa?"


"Dia kabur lewat pintu belakang klinik. Dan berhasil mengelabuhi perawat disana. Mereka percaya saat Jihan mengatakan sedang disandera oleh penjahat, mengingat anak buah kita rata-rata bertato semua."


"Cari sampai dapat," ujar Ezra.


"Aku juga menginginkan itu, aku belum puas membuatnya menderita. Lagipula aku tidak ingin dia membuat onar lagi suatu saat nanti."


"Awasi direktur SS Group. Bukankah Jihan sugar baby pria itu?"


"Iya kamu benar. Aku hampir lupa dengan fakta itu, kemanapun dia pergi, aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja."


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Regia masuk dengan membawa tumpukan berkas ditangannya. Yuda yang melihat itu, membantu kekasihnya untuk menyerahkan semua berkas-berkas itu pada Ezra.


"Capek?" tanya Yuda sembari menyelipkan rambut Regia kebelakang telinga.


"Nggak Mas biasa saja." Jawab Regia.


"Ehemmm...kalian yang benar saja? masak begitu diruangan bos sendiri? sana keruangan Yuda,"


Yuda terkekeh melihat ekspresi jelouse Ezra yang melihat kemesraan dia dan Regia. Yuda pun menyeret Regia untuk ikut keruangan pribadinya.


*****


7 bulan kemudian...


"Sudah sampai mana loe?" tanya Ando.


"Baru turun pesawat gue. Mau langsung cari penginapan dulu," ujar Ezra.


"Kenapa mesti cari penginapan? rumahku kan ada Zra. Kamu tiap ke Paris selalu gitu, nggak pernah mau kalau diajak nginap kerumahku."


"Bukan gitu bro. Aku sengaja cari penginapan yang memang dekat dari kantorku. Rumahmu terlalu jauh, bisa-bisa tiap ngantor aku datangnya telat terus."


"Ya udah, kapan jadinya kita ketemu?"


"Besok ya? hari ini aku istirahat dulu, besok habis dari kantor aku datang ke butikmu."


"Oke. Kamu datang saja ke salah satu cabang butik milikku, aku akan datang menemui disana."


"Sombong! mentang udah banyak cabang," mendengar itu Ando terkekeh.


Setelah berbincang, Ezra pun bergegas pergi ke hotel tempat biasa dirinya menginap saat ke Paris. Pria itu ingin segera menyusun berkas, karena masalah yang terjadi di perusahaannya kali ini harus diselesaikan secepatnya. dia tidak ingin membuang banyak waktu dan mengulur kembali pencarian Marinka.


TO BE CONTINUE ...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2