Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.285. Penembak Jitu


__ADS_3

"Maafkan aku yang sudah menyakitu hatimu. Padahal kamu sudah menahan semua rasa sakit, rasa lelah, demi anak-anak kita. Keturunan Hawiranata. Maukah kamu memukulku?" tanya Rakha yang sudah memegang tangan Gadlyn.


"Sayang. Tidak perlu begitu. Dalam hal ini aku juga bersalah. Seharusnya aku sadar, aku bukan hanya jadi seorang ibu. Tapi aku juga mempunyai kewajiban mengurus suami," ujar Gadlyn.


"Tidak. Seharusnya aku mengerti kesulitanmu. bukan hanya memikirkan nasfuku saja. Aku malah bersikap kekanakkan. Maafin aku ya sayang?"


"Ya. Kita saling memaafkan kalau begitu," ujar Gadlyn.


"Emm." Rakha mengangguk sembari membawa Gadlyn dalam pelukkannya.


Namun tiba-tiba mata Rakha melotot, saat tangan Gadlyn tiba-tiba membelai kejantanannya dari arah luar celananya.


"Sa-Sayang. Jangan menyiksaku lagi," ujar Rakha yang sudah tidak tahan dengan belaian tangan Gadlyn.


Gadlyn kemudian menuntun tangan Rakha agar pria itu berdiri didekat tempat tidur.Gadlyn dengan tangkas melepas sabuk celana suaminya, hingga celana pria itu sudah bersarang di lantai. Gadlyn dengan cepat menurunkan kain segitiga suaminya, dan mendorong pria itu hingga jatuh telentang diatas tempat tidur.


"Sa-Sayang. Kamu mau apa? bukankah kamu masih dalam masa nifas?" tanya Rakha.


Namun perkataan dengan kenyataan terkadang memang tak sejalan. Rakha masih bertanya, namun barang pusakanya sudah tegak sempurna.


Rakha memejamkan matanya dan me**mas rambut Gadlyn, saat istrinya itu tiba-tiba memainkan sesuatu dibawah sana dengan mulutnya. Ini kali pertama bagi Gadlyn melakukan hal itu, dan itu memang di luar dugaan Rakha.


Gadlyn tahu melakukan itu bukan hal mudah baginya. Pasalnya harimau Rakha sangat tidak mudah dijinakkan. Padahal mulutnya sudah sangat pegal, namun pria itu belum juga ada tanda-tanda ingin menyudahi kegiatan itu. Dan diperkirakan di menit ke 40, barulah terdengar suara erangan dari pria itu.


Cup


Rakha mencium kening Gadlyn, dan kemudian memabwa wanita itu kedalam pelukkannya.


"Sayang. Kamu wanita yang luar biasa. Seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu. Karena kamu sudah lelah mengurus anak-anak kita," ujar Rakha.


"Tidak apa. Aku senang melakukannya untukmu, agar kewajiban antara anak dan suami seimbang." Jawab Gadlyn.


"Aku sangat beruntung memilikkimu," ujar Rakha.


"Aku juga." Jawab Gadlyn yang mengeratkan pelukkannya pada pria itu.


*****


"Kami berangkat ya Pa?" ujar Meiza yang akan berpamitan dengan Ilyas untuk pergi ke luar negeri.


Dengan berbagai chanel yang Ezra milikki, akhirnya mereka menemukan sebuah negara yang berpeluang besar bisa menyembuhkan kaki Ilyas dari kelumpuhan. Sementara itu Ezra dan Marinka dihari sebelumnya sudah menghubungi Lilian, Dirham dan Mario untuk menemui Deryl supaya bisa duduk bersama dalam meluruskan kesalahfahaman yang terjadi.

__ADS_1


Ezra bisa memaklumi kemarahan Deryl, karena saat kejadian dulu Deryl masih berusia sangat belia dan tidak mengerti duduk persoalannya. Ezra masih berharap Deryl masih bisa diajak bicara baik-baik, dan melupakan dendam masalalu.


"Tetap waspada. Nanti akan ada orang-orangnya papa yang mengawasi kalian," ujar Ezra.


"Ya pa." Jawab Meiza dan Ilyas secara bersamaan.


"Papa dan Mama juga akan terbang ke kota S untuk berunding dengan Deryl masalah ini. Tinggal menunggu kabar dari kakek dan nenekmu, juga Om Mariomu," ujar Ezra.


"Kami tunggu kabar baiknya pa," ujar Meiza.


"Ya." Jawab Ezra.


*****


Meiza dan Ilyas datang ke negara tujuan pada malam hari. Karena lelah, Merekapun langsung tertidur.


Ting


Sebuah chat masuk kedalam ponsel Ilyas. Mata Ilyas yang semula mengantuk, jadi terbuka lebar saat melihat isi chat itu.


"Lari ke Jerman? bahkan penembak Jitu ku sangat dekat dengan penginapan kalian. Waspadalah, jangan jauh-jauh dari istrimu. Karena penembak Jitu yang aku kirim akan segera melubangi perut istrimu,"


Tangan Ilyas bergetar saat membaca isi chat itu. Ditolehnya Meiza, namun wanita itu sudah tidak ada di tempat tidur. Ilyas memanggil-manggil Meiza, namun tidak juga mendapat sahutan. Ilyas sangat panik, dia kesal karena kakinya sama sekali tidak berguna.


Ilyas menoleh kearah kursi roda yang ternyata lumayan jauh dari tempat tidur. Tanpa berpikir panjang Ilyas mencoba turun dari tempat tidur, namun perkiraannya gagal dan langsung jatuh kelantai.


Bruuukkkk


Krieekkkk


"Sayang?" Meiza terkejut saat melihat Ilyas jatuh ke lantai.


Meiza bergegas meletakkan teh dan sarapan pagi ke atas meja, dan kemudian membantu Ilyas yang sedang meringis kesakitan.


"Kamu nggak apa-apakan?" tanya Ilyas sembari memeriksa tiap inci tubuh Meiza.


"Aku nggak apa-apa. Kamu kenapa sih? kok ketakutaan gini. Hem?" Meiza memeluk Ilyas yang tubuhnya tampak gemetar.


"Deryl mengirim chat padaku. Dia sudah tahu keberadaam kita disini. Dan dia sudah mengirim seorang penembak jitu, untuk melukaimu. Sayang, aku sangat takut saat ini," ujar Ilyas dengan bibir bergetar.


"Sayang tenanglah. Orang-Orang papa pasti akan melindungi kita," ujar Meiza berusaha menenangkan Ilyas.

__ADS_1


"Sayang. Masalahnya kita saat ini sedang melawan seorang penembak jitu. Aku tahu siapa yang dia maksud. Dia seorang penembak jitu dari Rusia. Aku juga mengenalnya, karena dia adalah orang andalannya Deryl selama ini."


"Tembakkannya selama ini tidak pernah meleset. Dia bisa berada dimanapun, karena dia sangat pintar dalam penyamaran," sambung Ilyas.


"Sayang. Aku mohon jangan pergi kemanapun. Aku sangat takut terjadi sesuatu padamu dan anak-anak," ujar Ilyas.


"Jadi bagaimana aku menemanimu terapy?" tanya Meiza.


"Aku akan ditemani orang-orangnya papa saja. Kamu diam saja di hotel ya?" ujar Ilyas.


"Baiklah kalau itu maumu," ujar Meiza.


Ilyas memeluk kembali tubuh Meiza.Saat ini dia bisa bernafas lega, karena tidak terjadi sesuaru dengan Meiza.


*****


Keesokan harinya Ilyas mulai menjalani terapi. Tapi satu yang Ilyas lupa, penembak Jitu yang satu ini suka melakukan hal yang tak terduga.


Tok


Tok


Tok


"Service room," ujar seseorang dari arah luar kamar.


Tanpa waspada, Meiza segera membuka pintu setelah mengintip terlebih dahulu. Tanpa Meiza duga, seorang pelayan kamar yang berjenis kelamin perempuan itu mendorong dirinya setelah dia membuka pintu.


Walau bagaimanapun, darah mafia juga mengalir ditubuhnya. Tidak ada rasa gugup dan takut dalam diri Meiza.


"Apa kamu penembak jitu dari Rusia itu?" tanya Meiza.


"Oh...kamu sudah tahu tentangku rupanya. Apa kamu sedang takut saat ini?


Bukannya takut, Meiza malah tersenyum sembari meraih


cangkir teh yang ada dimeja dan menjatuhkan bokong diatas sofa.


"Kalau aku tidak salah menebak sesuatu, ada sesuatu yang ingin kamu diskusikan denganku. Duduklah!" ujar Meiza yang kemudian menyesap teh dari cangkirnya.


Joana duduk di sofa yang lain, dan meletakkan sebuah pistol diatas meja.

__ADS_1


__ADS_2