Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.202. Kencan Buta


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Marinkan pada putranya lewat video call.


"Bad." Jawab Rakha sembari memperlihatkan tangannya yang melintang di leher, tanda end.


Marinka menghela nafas panjang, dia tahu putranya itu pria yang pemilih. Tapi itu tidak mengapa baginya, paling tidak Rakha menunjukkan ada kemauan di matanya. Meskipun dia harus lebih keras lagi, untuk menemukan jodoh bagi putranya itu.


"Mama kirimkan saja foto gadis yang lainnya lewat chat. Biar nanti uda pilih lagi, dan akan menemuinya besok," ucap Rakha.


"Baiklah. Tapi kalau mama boleh tahu, kenapa kamu menolak gadis itu?" tanya Marinka.


"Kata Yure macam KKM." Jawab Rakha.


"KKM? apa itu KKM?" tanya Marinka penasaran.


"Kupu-Kupu malam." Jawab Rakha.


Marinka menepuk dahinya, sungguh dia tidak mengerti bagaimana putranya bisa langsung menyimpulkan seorang gadis seperti kupu-kupu malam.


"Kamu kalau memberi penilaian jangan berkiblat sama si Yure. Kalian berdua itu sama saja. Pemilih! bagaimana kalian itu mau cepat dapat jodoh?" ujar Marinka.


"Nggak tahu ma. Uda sudah bilang sama Yure, kalau gadis itu lumayan. Tapi kata Yure macam KKM," ucap Rakha.


Tentu saja ucapan itu tidak ada berasal dari mulut Yure. Rakha sengaja menjual nama Yure, agar selamat dari introgasi Marinka.


"Lagian kamu juga aneh, kencan dengan gadis kok ngajak Yure?" ucap Marinka.


"Kata orang nggak boleh berduaan, ntar yang ketiganya setan. Betul nggak ma?"


"Eh? i-iya betul." Jawab Marinka.


"Anak ini. Ada-Ada saja jawabannya," batin Marinka.


"Ya sudah. Nanti mama kirim kandidat yang lain," ujar Marinka.


"Iya ma." Jawab Rakha.


Marinka mengakhiri panggilan itu, sementara Rakha mengelus dadanya. Dia merasa lega, karena sudah bisa lolos dari pertanyaan Marinka.


Ting

__ADS_1


Ting


Ting


Suara chat masuk ke ponsenya, sepuluh foto gadis-gadis cantik harus dia pilih salah satunya. Rakha akui semua foto gadis-gadis itu sangat cantik, namun tidak ada satupun dari mereka yang bisa memikat hatinya.


"Apa aku ini masih normal? aku jadi sedikit khawatir juga, selama 25 tahun hidup nggak pernah satupun ada wanita yang aku sukai. Kalau begini terus aku bisa dikira gay kan?"


"Tapi kalau orientasiku memang menyimpang, rekan bisnisku juga banyak yang tampan dan kaya. Tapi aku juga tidak pernah merasa menyukai salah satu dari mereka. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mencoba semaksimal mungkin," gumam Rakha.


Sementara itu di tempat berbeda, Yure kedatangan kedua orang tuanya yang tak lain Yuda dan Regia.


"Apa kabarmu nak. Hem?" tanya Regia sembari mengusap punggung putra sulungnya saat mereka sedang berpelukkan.


"Baik ma. Kalian darimana?" tanya Yure.


"Biasa, belanja bulanan. Jadi sekalian mampir kesini," ucap Regia.


Yuda langsung masuk kedapur, kemudian membuka kulkas putranya. Yuda menyusun berbagai kebutuhan putranya itu kedalam kulkas, agar putranya itu tidak pernah kehabisan stok makanan. Dan itu mereka lakukan setiap seminggu sekali.


"Kenapa kalian selalu repot. Yure kan udah dewasa ma. Yure bisa membelinya sendiri," ujar Yure sembari mengajak Regia duduk di sofa.


"Mana mama percaya kamu sudah dewasa. Bagi mama kamu tetap putra kecilku. Kalau benar-benar sudah dewasa, kamu pasti sudah membawa calon mantu buat mama. Tapi sampai sekarang belum kelihatan hilalnya," ujar Regia sembari meletakkan beberapa lembar foto diatas meja.


"Tentu saja itu foto." Jawab Regia.


"Ya Yure tahu kalau itu foto. Maksud Yure foto siapa? dan untuk apa foto sebanyak ini? mama mau cari model?" tanya Yure.


"Itu foto kandidat jodoh kamu." Jawab Regia.


"Ap-Apa?" Yure terkejut.


"Kenapa sok kaget begitu? kamu kalau tidak dicarikan, apa kepikiran buat cari jodoh?"


"Tapi Yure masih muda pa. Baru juga 24 tahun. Papa juga dulu nikah umur 30 an kan?"


"Justru karena itu papa nggak mau kamu mengikuti jejakku. Apa kamu lihat uban dikepalaku? ini karena papa terlalu tua menikah, takutnya papa keburu mati sebelum sempat menggendong cucu."


"Papa ngomong apaan si pa? kenapa kalian jadi sama kayak tante Marinka dan Om Ezra? mereka juga ngelakuin ini sama Rakha."

__ADS_1


"Karena kalau nggak kayak gini, putra-putra kami nggak bisa ketahuan normal apa tidak. Jaman sekarang bocah SD saja sudah tahu pacaran, nah kalian? jadi gimana papa dan mama nggak khawatir kalau kamu tidak mempunyai prilaku menyimpang?" tanya Yuda.


"Oh...astoge pa. Yang benar aja dong pa? masa iya wajah setampan ini nggak normal?"


"Kamu seperti tidak tahu saja. Sekarang pelaku homo seksual dan lesbian rata-rata semuanya cantik dan tampan. Jadi kalau kamu memang merasa normal, buktikan saja dulu ucapanmu dengan memilih salah satu dari foto ini. Lakukan kencan buta, setelah menemukan yang cocok, langsung menikah saja." ucap Yuda.


"Sial. Kenapa kesialan Rakha menular padaku? tapi kalau aku tidak menuruti mereka, mereka pasti akan langsung memilihkannya untukku tanpa di seleksi lagi. Lebih baik aku ikuti saja, aku harus berkompromi dulu dengan mereka," batin Yure.


"Sepertinya otak licik anak ini mulai bekerja. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Mau mengelabuhiku? mimpi saja! apa kamu lupa? papamu ini harimaunya mafia?" batin Yuda.


"Ya sudah Yure setuju." Jawab Yure yang ingin mencari aman dulu.


"Kalau begitu pilih salah satu," ujar Regia antusias.


Yure meletakkan jari di dagu sembari menatap foto yang berjejer diatas meja. Yure seolah memilih dengan seksama.


"Yang ini saja," ujar Yure sembari meraih selembar foto yang menurutnya lumayan cantik itu.


Regia dan Yuda tersenyum. Mereka senang rencana mereka berjalan lancar. Mereka senang meski Yure terbilang anak yang keras kepala, tapi terhadap orang tua putranya itu masih terbilang sangat penurut.


"Ya sudah. Nanti akan mama atur tempat pertemuan kalian," ucap Regia.


"Private room," ujar Yure.


"Iya." Jawab Regia sembari tersenyum.


"Ya sudah kamu pegang fotonya. Nanti akan mama kabari kalau sudah tahu tempatnya. Sekarang papa dan mama pulang dulu. Kamu sering-seringlah pulang kerumah, adikmu kadang suka merasa kesepian."


"Ya. Suruh saja Yugie datang kesini," ujar Yure.


Regia hanya menghela nafas. Sejak memutuskan tinggal mandiri, Yure memang jarang pulang kerumah. Putranya itu sangat sibuk bekerja, dan lupa dengan kehangatan keluarga.


"Rakha gawat!" Yure langsung menelpon Rakha setelah Regia dan Yuda pulang.


"Apanya yang gawat?" tanya Rakha diseberang telpon.


"Sepertinya papa dan mamaku punya kesepakatan dengan orang tuamu buat cari jodoh untuk kita."


"Kenapa memangnya?" tanya Rakha penasaran

__ADS_1


"Baru saja papa mamaku datang kesini, mereka memberikanku beberapa foto buat kupilih untuk kencan buta besok."


Mendengar itu Rakha jadi tertawa keras, hingga matanya berair. Sementara itu Yure jadi cemberut, karena Rakha punya alasan untuk mengejek dirinya.


__ADS_2