Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.63. Kuliner


__ADS_3

Marinka menggeliatkan tubuhnya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 fajar. Sayup-Sayup Marinkan mendengar suara yang membuat dirinya sebagai mahluk ciptaan Tuhan merasa terpanggil.


Marinka melirik kearah Ezra yang masih dengan erat melingkarkan tangan ditubuhnya. Marinka akui cuaca di kota B memang begitu dingin, hingga meskipun sudah memakai selimut tebal, Ezra dan dirinya masih merasakan dingin yang menusuk.


"Suami kontrakku memang sangat tampan, tapi sayangnya dia bukan milikku." batin Marinka.


Marinka beranjak dari tempat tidur setelah puas memandangi wajah suaminya. Wanita itu bergegas membersihkan diri dan kemudian menunaikan kewajibannya sebagai mahluk Tuhan.


"Tuhan. Jika aku boleh meminta, bahagiakanlah selalu suamiku, dia orang baik dan bertanggung jawab sebagai seorang suami. Meskipun dia melakukan kesalahan karena melakukan sebuah pernikahan kontrak, tapi aku tulus ikhlas memaafkan semua kesalahannya padaku. Ini bukan utuh kesalahannya, jadi jangan hukum dia karena itu."


"Tuhan...limpahkanlah selalu rejeki yang banyak untuk suamiku, karena dia rajin bersedekah terutama terhadapku. Jangan buat dia kekurangan, karena dia selalu mencukupiku. Jika jodoh kami memang singkat, dan harus berakhir cepat, maka tetap buat dia bahagia dengan pasangan barunya. Amin."


Marinka menyudahi sesi Do'a terpanjang dalam hidupnya, Do'a yang dia sematkan untuk suaminya yang sangat dia sayangi.


"Abang," bisik Marinka.


"Emm?" Ezra menggeliat dan menyipitkan matanya.


Ezra membuka matanya perlahan dan melihat Marinka yang cantik dengan menggunakan mukenah.


"Wajahnya sangat cantik dan bercahaya, wajah yang mampu membutku merasa tenang dan nyaman," batin Ezra.


"Abang bangun gih, ntar subuhnya keburu habis." ucap Marinka.


"Emm." Ezra beranjak dari tempat tidur dan segera membersihkan diri.


Setelah itu Ezra menjalankan kewajibanya sebagai mahluk Tuhan.


"Tuhan...sebentar lagi aku akan bercerai dengan istriku, tapi kenapa hatiku terasa begitu berat. Padahal sudah sangat jelas, wanita yang aku cintai adalah Jihan. Tuhan...maafkan aku yang sudah seperti mempermainkan ikatan suci pernikahan, tapi aku tidak punya jalan lain. Kalau aku mempertahankan pernikahan ini, itu berarti aku akan menyakiti orang yang sudah lama aku cintai sejak dulu."


"Aku tahu aku akan menyakiti Marinka, karena sejatinya tidak ada wanita satupun di dunia ini ingin menjadi janda di usia yang sangat muda. Tapi aku bisa apa? jika memang Marinka jodoh sejatiku, aku percaya engkau akan menunjukkan jalan yang terang untuk masalahku ini,"


"Semoga saja tidak ada masalah dikemudian hari. Aku ingin semuanya berjalan dengan damai, amiin."


Ezra menoleh kearah Marinka yang tengah bermain ponsel diatas tempat tidur dengan masih menggunakan mukenah.


"Dek,"


Marinka menoleh kearah Ezra yang menyerukan namanya. Wanita itu kemudian mendekati Ezra dan mencium tangan suaminya itu.


Cupp

__ADS_1


Untuk beberapa detik lebih lama dari biasanya, Ezra mengecup kening Marinka. Sementara itu Marinka memejamkan matanya mencoba meresapi ciuman yang begitu membuat aliran darahnya berdesir seketika.


"Tuhan...ingin rasanya aku menghentikan waktu disaat ini juga. Ingin rasanya aku mengurung diriku dan dirinya kedalam sebuah botol kaca bersegel, agar aku bisa selalu merasakan indahnya berumah tangga, agar aku bisa selalu bersama dia untuk selamanya," batin Marinka.


"Marinka. Istri sholehaku, istri kecilku, maafkan aku jika aku akan menyakiti hatimu. Aku benar-benar tidak berdaya, aku hanya pria biasa yang tidak punya pendirian. Pria yang hanya belajar mencintai satu orang wanita saja, semoga kamu mengerti dan tidak akan menyalahkan aku saat perpisahan kita nanti,"


Ezra melepaskan ciumannya dari kening Marinka. Untuk sejenak pandangan mata mereka beradu. Pandangan mata yang mampu mereka selami,"


"Apa sebenarnya Marinka mencintaiku?"


"Apa sebenarnya bang Ezra mencintaiku?"


Suara hati keduanya seolah tahu, bahwa dua insan itu sama-sama mempunyai perasaan yang berbeda dari sekedar Adik dan kakak.


Marinka yang tahu diri, mencoba memutus pandangan mata itu lebih dulu. Dia ingin menguatkan hatinya agar tidak lagi terbuai dan terjebak oleh perasaannya sendiri.


"Abang. Hari ini kita mau kemana?" tanya Marinka yang membuat suasana tidak lagi canggung.


"Abang terserah adek saja."


"Bagaimana kalau kita pergi kulineran saja hari ini. Adek pengen mencicipi semua makanan khas kota B."


"Baiklah. Sekalian kita belanja-belanja."


"Tentu saja belanja semua keperluanmu,"


"Keperluanku? keperluan apa? semuanya masih banyak dirumah bang. Pokoknya adek mau kita kulineran saja, tanpa ada acara belanja-belanja ngabisin duit terus."


"Ya baiklah, adek abang sayang," Ezra mengusap puncak kepala Marinka.


"Oh ya, kapan kita akan kembali ke kota J bang? bukankah kak Jihan akan kembali akhir pekan ini? sementara ini sudah hari selasa."


"Kita akan pulang di hari kamis."


"Oh gitu. Ya udah kita pergi kulineran sekarang yuk bang? adek sudah lapar,"


"Yuk,"


Ezra beranjak dari atas sajadah dan merapikan kain segi empat itu.


"Waktumu tidak lebih dari 5 hari lagi Marinka, nikmatilah waktumu yang tersisa bersamanya. Buatlah moment seindah mungkin, buatlah kenangan sebanyak mungkin, agar saat kamu pergi nanti, kamu bisa membawa seluruh kenanganmu bersama dengannya, meskipun kamu tidak bisa membawa hatinya," batin Marinka.

__ADS_1


"Adek pengen sarapan apa pagi ini?"


"Pokoknya kita cari yang enak bang."


Setelah mengganti pakaian mereka, Marinka dan Ezra pergi untuk menghabiskan waktu bersama. Sesuai yang Marinka inginkan, mereka mencicipi berbagai jenis kuliner yang ada di kota B.


"Ini benar-benar surga dunia bang. Perut adek benar-benar kenyang," Marinka mengusap-ngusap perutnya saat sudah menikmati sepiring makanan yang disiram pakai kuah kacang itu.


"Abang senang kalau adek makannya lahap. Kira-Kira, apalagi yang mau adek makan?"


"Nanti akan adek pikirkan." Jawab Marinka sembari terkekeh.


Setelah menghabiskan waktu seharian, Marinka dan Ezra kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.


"Pegel?" tanya Ezra.


"Iya bang. Pegelangan kaki adek rasanya pegal banget."


"Luruskan kakimu, biar abang memijatmu."


"Eh? nggak usah bang,"


"Sudahlah, menurut saja. Pijatan abang enak loh."


Marinka meluruskan kakinya, dan Ezra mulai menyentuh kaki istri kecilnya ini.


"Enak kan?"


"Emm. Ternyata abang banyak bakatnya ya? nggak kayak adek, banyak bakat koreng daripada bakat yang lain,"


Ezra terkekeh mendengar ucapan Marinka yang terdengar lucu ditelinganya.


"Tidurlah kalau adek memang lelah," ucap Ezra sembari masih memijat kaki Marinka.


"Emm. Adek benar-benar lelah dan mengantuk."


"Pejamkan matamu,"


Marinka menuruti apa yang Ezra katakan, wanita itu memejamkan matanya meskipun tanpa Ezra tahu, Marinka masih larut dalam pemikirannya sendiri.


"Bagaimana adek nggak baper kalau perlakuan abang seperti ini? abang benar-benar sosok pria idaman bagi tiap kaum hawa. Andai abang bisa adek miliki selamanya, pasti adek merasa jadi wanita yang paling bahagia didunia,"

__ADS_1


Karena terlalu lama larut dalam pemikirannya sendiri, lama-lama Marinka jatuh tertidur juga. Mendengar Marinka yang sudah mendengkur halus, dengan sengaja Ezra mencium sekilas bibir tipis Marinka, dan kemudian mencium kening istri kecilnya itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2