
"Papa. Bolehkah Ezka tahu kita mau kemana? kok bawa kopel? kopelnya banyak lagi," tanya Ezka.
"Kita mau bertemu nenek dan om ke kota S." Jawab Ezra.
"Nenek dan Om? siapa itu pa? bukankah nenek dan kakek kita ada di kota ini?" tanya Ezka.
"Kalau yang di kota ini, itu nenek dan kakek orang tua dari papa. Nah...kalau yang di kota S, itu orang tua dari mama." Jawab Ezra.
"Oh... gitu," ujar Ezrka.
Marinka dan Rakha hanya diam membisu sembari memainkan ponsel mereka. Setelah sampai dibandara, mereka pun segera melakukan berbagai pengecekkan disana. Karena pesawat akan lepas landas sekitar 30 menit lagi.
Sementara itu di tempat berbeda, Mario tengah menyuapi Lilian makan dan membantunya meminum obat. Mario dan Lilian sama sekali tidak tahu, kalau Ezra sekeluarga akan datang.
"Rio. Apa di tv ada acara seperti waktu itu lagi?" tanya Lilian.
Pertanyaan ini tidak hanya satu kali Lilian tanyakan, tapi mungkin sudah puluhan kali, hingga Mario sendiri bosan menjawabnya. Hanya satu tujuan Lilian menanyakan hal itu, yaitu dirinya ingin melihat wajah Marinka di layar kaca.
"Belum ada bunda. Nanti kalau ada, Rio akan memberitahu bunda. Sekarang lebih baik bunda fokus saja dengan kesehatan bunda. Kenapa bunda tidak dirawat saja di rumah sakit, kalau bunda terus sakit begini, paman Satyo bisa mengambil keuntungan nantinya."
"Bunda sudah tidak memperdulikan lagi soal hak waris itu. Kamu sudah hampir selesai kuliah juga. Bagi bunda asalkan kamu jadi orang yang berilmu itu sudah cukup. Kelak kamu bisa menghidupi dirimu sendiri dengan bekal itu."
"Kenapa bunda bicara seperti itu? ini bukan bicara soal hak waris saja. Tapi ada banyak orang yang bergantung dengan kita. Kalau paman Satyo sampai mengambil alih semuanya, mungkin tidak hanya peninggalan leluhur saja yang akan hancur, tapi rakyat yang bergantung dengan perkebunan dan sawah juga akan menderita."
Lilian terdiam. Apa yang Mario katakan semuanya benar. Itu bukan isapan jempol belaka. Karena Satyo juga memiliki beberapa hektar perkebunan, meskipun tidak sebanyak kakaknya alias mendiang suami Lilian. Upah yang dia bayarkan untuk rakyat yang dia pekerjakan sangatlah kecil, sedangkan waktu bekerja melebihi target. Meski rakyat mengeluh, itu tidak ada gunanya, terlebih mereka sangat butuh untuk biaya hidup sehari-hari.
Dan kalau sampai perkebunan dan peninggalan sampai jatuh ketangan Satyo. Sudah di pastikan akan banyak rakyat yang menderita. Tidak hanya itu, kebiasaan buruk Satyo yang suka mengganggu gadis-gadis desa juga cukup meresahkan para orang tua. Terlebih orang tua yang bekerja diperkebunan Satyo.
"Bunda berharap manusia satu itu segera musnah dari muka bumi ini. Ada orang seperti itu membuat bumi ini susah bernafas," ujar Lilian.
"Hah...mendo'akan orang seperti itu dengan do'a yang jelek-jelek percuma saja. Bunda tahu sendiri kalau orang jahat itu lama matinya," timpal Mario.
__ADS_1
Lilian kembali berbaring, efek obat yang dia minum sudah bekerja. Sehingga dirinya mulai diserang kantuk. Melihat Lilian yang mulai mengantuk, Mario mengambil nampan yang berisi piring kotor dan gelas kotor, untuk dia bawa keluar.
Saat akan membawa benda itu ke dapur, Mario berpapasan dengan pelayan.
"Maaf den. Di depan ada tamu, katanya mau ketemu nyonya,"
"Siapa?"
"Beliau datang sekeluarga dari kota J. Namanya kalau nggak salah dengar tuan Ezra,"
"Ap-apa?" Mario terkejut.
Mario segera berlari kedepan pintu, untuk memastikan kalau itu benar-benar Ezra dan kakaknya.
Hosh
Hosh
Hosh
Grepppp
Mario memeluk Ezra, yang kemudian dibalas oleh Ezra sembari menepuk-nepuk punggung adik iparnya itu.
"Masuklah kak. Bunda pasti senang melihat kalian datang," ujar Mario saat pelukkannya terlerai.
Marinka melangkah masuk. Matanya melihat kesana kemari, karena sejujurnya dirinya merasa sedikit bingung. Rumah yang dia datangi terbilang sangat besar dan luas. Perkarangan rumahnya juga sangat luas. Rumah itu hampir 90% terbuat dari kayu yang penuh ukiran. Nilai seni dari rumah itu sangatlah tinggi.
Marinka menatap deretan foto yang terpajang didinding, dan wanita tahu bahwa foto itu di pasang sesuai dengan silsilah keluarga. Dan yang membuat dia heran adalah, nama-nama orang dari deretan pertama sangat kental sekali dengan nama yang di pakai oleh kaum bangsawan atau keluarga keraton.
Marinka mengekor di belakang Ezra, karena matanya masih jelalatan kesana kemari. Dan langkah itu terpaksa berhenti, saat dirinya melihat urutan foto di bagian terakhir. Foto itu masih tampak baru dan begitu familiar. Perlahan Marinka mendekatinya, dan matanya terbelalak saat tahu itu benar adalah fotonya, dan disebelah fotonya ada foto Mario.
__ADS_1
"Raden Ajeng Marinka Diningrat," batin Marinka.
"Lelucon macam apa ini? kenapa nama depanku di buat seolah-olah aku ini keturunan orang-orang seperti itu?" batin Marinka.
"Sayang. Ayo," seru Ezra.
Marinka kemudian kembali mengekor di belakang Ezra. Sejujurnya Marinka juga mengakui rumah yang dia datangi sangat menakjubkan. Selain besar dan memiliki nilai seni, suasananya juga terasa sejuk dan nyaman, karena di sekelilingnya banyak terdapat pepohonan.
"Bunda sedang tidur di dalam, beliau baru sudah ku beri makan dan minum obat. Mungkin karena efek dari obat itu, bunda jadi mudah mengantuk," ujar Mario saat mereka berada di depan pintu.
Krieeekkkk
Mario mendorong pintu itu dan mendapati Lilian berbaring dalam keadaan membelakangi pintu. Marinka menatap wanita yang tengah terbaring diatas tempat tidur yang ranjangnya terbuat dari kayu ukiran. Di tiap sudut ranjang ada tiang kayu yang digunakan untuk menyangga kelambu yang terbuat dari bahan halus anti nyamuk. Tubuh yang terbaring itu tampak lebih kurus, dari terakhir Marinka melihatnya.
Blammmmm
Mata Lilian terbuka seketika, seolah wanita itu bisa merasakan kehadiran putri yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun terpisah. Perlahan Lilian membalikkan badan dan dia melihat ke arah Marinka yang juga sedang menatap wanita lemah itu.
"Rio. Apa kata dokter obat yang bunda minum mempunyai efek halusinasi?" tanya Lilian.
Mario mendekati Lilian dan menggenggam tangan ibu yang telah melahirkannya itu.
"Sepertinya tidak bunda. Kenapa bunda bertanya seperti itu?" tanya Mario.
"Sebab bunda melihat ada putriku tersayang, yang berada tidak jauh di depanku. Ah...bunda sangat bahagia sekarang, meski hanya halusinasi tapi bunda sangat senang dan tidak ingin memejamkan mata. Bunda takut kalau mata bunda terpejam, dia akan menghilang." Air mata Lilian meleleh dari sudut matanya.
Mendengar itu tubuh Marinka bergetar hebat, air matanya tidak bisa dia bendung lagi. Dia tidak perduli sebesar apa ibunya melakukan kesalahan padanya, dia hanya ingin memeluk ibunya itu dengan erat.
Tap
Tap
__ADS_1
Tap
Marinka berlari ke arah Lilian kemudian berlutut sembari menggenggam tangan wanita tua itu dengan air mata yang merebak.