Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.265. Rencana Pernikahan


__ADS_3

"Apa kamu sudah dengar? rencana pernikahan kalian akan digelar minggu depan? tanggal pernikahanpun sudah ditetapkan," tanya Moza.


"Ap-Apa? kok papa mama nggak ada yang bilang sama aku?" tanya Meiza.


"Ya karena mereka pikir hubungan kalian itu baik-baik saja. Sebenarnya kamu ngerti nggak sih kenapa waktu itu mereka belum menyetujui pernikahan kalian? itu karena hal seperti inilah yang mereka takutkan. Tapi karena kalian dianggap baik-baik saja, itulah mereka akan menggelar pernikahan kalian minggu depan." Jawab Moza.


"Jadi aku harus bagaimana ini Za?" tanya Meiza panik.


"Aku tidak bisa membantu kamu lagi. Karena aku sudah berulang kali menyarankanmu agar segera memberitahu Anser tentang hubunganmu dengan dokter Ilyas. Kamu yang sudah membuat masalah, jadi kamu tanggung sendiri akibatnya." Jawab Moza.


"Nggak bisa Za. Kamu harus bantuin aku. Minimal temani aku saat bicara dengan Anser dihari wisudah nanti," ujar Meiza.


"Jadi kamu tetap bersikukuh ingin membatalkan pernikahanmu dengan Anser dan memilih dokter Ilyas? kamu akan menerima konsekuensinya Mei. Kamu harus terima jika dibenci oleh keluarga om Ando, terutama dibenci oleh Anser."


Meiza tertunduk. Dia tahu betul dia sudah membuat kesalahan fatal dengan menerima Anser tanpa adanya rasa cinta.


"Coba kamu bayangkan kalau aku berada diposisimu. Apa kamu akan mengorbankan cintamu demi reputasi keluarga?" tanya Meiza.


"Tentu saja aku akan melakukannya. Bagiku kebahagiaan keluargaku nomor satu. Jangankan hanya korban perasaan, korban nyawapun akan aku lakukan." Jawab Moza.


"Meiza. Kamu sangat beruntung dicintai oleh Anser, dan keluarga Anser juga menyukaimu. Diluar sana masih banyak pasngan yang sedang berjuang meminta restu saat ini, sementara kamu tidak lagi dipusingkan oleh hal itu."


"Aku tahu dokter Ilyas juga orang yang baik. Tapi apa kamu tidak pernah berpikir kalau datangnya dokter Ilyas diantara kamu dan Anser, merupakan sebuah ujian cinta?"


"Maaf Za. Tapi hatiku tidak seluas kamu. Hatiku sudah dipenuhi oleh dokter Ilyas seutuhnya." Jawab Meiza.


"Baiklah kalau itu memang sudah jadi keputusanmu. Walau bagaimanapun kamu adalah saudaraku. Sudah sepatutnya aku mendukungmu,"


"Kalau begitu gantikan aku menikah dengan Anser. Dengan begitu semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Dan keluarga kita tidak akan dipermalukan bukan?"


"Maaf Mei soal itu aku tidak bisa. Aku tidak bisa menghina Anser dengan cara seperti itu. Dia menganggapku sahabatnya, aku tidak ingin dia jadi salah faham padaku." Jawab Moza.


"Jadi keluarga kita memang akan mendapat malu ya?" ucap Meiza dengan wajah murung.


"Aku rasa masih ada waktu buat merubah semuanya. Hubungi Anser sekarang juga. Mungkin dia akan kecewa, tapi setidaknya itu lebih baik daripada dia malu saat hari pernikahannya. Jangan memikirkan diri sendiri lagi Mei. Ini sudah menyangkut keluarga besar. Kalau cuma menyangkut kalian berdua saja, mana aku perduli," ujar Moza.


"Dua hari lagi wisuda kita. Setidaknya dia tidak perlu kecewa saat melihatmu bersama pria lain. Terus kamu juga lebih leluasa saat ingin mengatakan apapun. Aku yakin kamu tidak akan snaggup saat berbicara langsung dengannya," sambung Moza.


"Baiklah. Tapi bantu aku bicara ya?" tanya meiza.


"Baiklah. Buat pengeras suara." Jawab Moza setelah menghela nafas panjang.


Sementara itu Anser yang tengah istirahat ditempat kerjanya, tersenyum senang saat melihat Meiza yang tiba-tiba menghubunginya.

__ADS_1


"Sayang. Apa kabarmu? kenapa kamu sangat susah dihubungi? besok aku akan terbang ke London untuk menghadiri hari pentingmu," ujar Anser panjang lebar.


Meiza menoleh kearah Moza, dengan perasaan bersalah.


"A-Ans," Meiza terbata.


"Ya honey?"


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini sangat penting...."


"Tunggu sampai besok. Kamu bisa menceritakan semuanya padaku. Bahkan kamu bisa memelukku sepuasnya. Atau...."


"Ans. Aku harap kamu dengarkan ucapanku hingga akhir. Jangan dipotong dulu ya?".


"Ada apa? kedengarannya serius sekali," tanya Anser.


"Ans. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku rasa kita tidak cocok jadi suami istri. Kita hanya cocok sebagai teman. Maafkan aku Ans, mungkin aku memang terlambat mengatakan hal ini padamu, tapi ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan kenapa aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita,"


Hanya ada keheningan diseberang sana. Moza hanya mampu memejamkan matanya. Menikmati rasa sakit seperti yang Anser rasakan saat ini. Moza tahu betul bagaimana rasa sakit cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Apa ada pria lain yang sudah mengisi hatimu?" Anser tiba-tiba bertanya dengan tepat sasaran.


Moza dapat menangkap ada getaran halus dari suara orang yang dicintainya itu. Moza tahu, Anser mungkin sedang menahan laju air matanya.


"Baiklah." jawab Anser dan langsung memutus pembicaraan itu tanpa ada percakapan panjang lebar lagi.


Sementara itu Meiza dibuat bingung. Satu kata terakhir dari Anser baginya belum menjelaskan segalanya. Apa pria itu bisa menerima keputusannya atau tidak.


"Bagaimana ini Za? apa menurutmu dia bisa menerima keputusanku?" tanya Meiza.


"Dia akan menerimanya meskipun sulit." Jawab Moza.


"Kamu mau kemana?" saat melihat Moza beranjak dari tempat duduknya.


"Kedapur. Mau masak, lapar." Jawab Moza.


"Kamu mau makan apa?" tanya Moza.


"Emang kamu mau buat apa?" tanya Neiza.


"Mie instan." Jawab Moza.


"Boleh mi kuah seperti biasa ya?"

__ADS_1


"Emm." Moza mengangguk.


Moza melangkah keluar. Dan pergi kedapur. Namun sebelum dirinya benar-benar memasak, dia menghubungi Anser terlebih dahulu. Karena dia sangat khawatir dengan pria itu.


"Tidak diangkat. Dia pasti sangat sedih, dan tidak ingin diganggu. Apa sebaiknya aku kirim chat saja ya?" ucap Moza lirih.


"Ans,"


"Hem?"


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Baik."


"Aku ingin melihat wajah jelekmu,"


"Bayar,"


"Pelit,"


Anser tidak lagi membalas chat Moza. Gadis itu hanya menghela nafasnya. Sama seperti dirinya, Ans juga pandai menyembunyikan perasaannya.


Ting


Anser tiba-tiba mengirim chat lagi.


"Saudara kembarmu kejam sekali membuatku patah hati seperti ini. Apa kamu juga tahu soal hubungannya dengan pria itu?"


"Maaf,"


"Kamu tahu, tapi kamu menyembunyikannya dariku?"


"Maaf,"


"Aku kecewa sama kamu Za,"


"Maaf,"


"🙄🙄🙄,"


"Maafin aku Ans. Maafin aku. aku juga ikut bertanggung jawab atas rasa sakit yang kamu tanggung saat ini. Tapi aku benar-benar tidak berdaya," Moza menyeka air matanya.


Anser yang sedang patah hati menghubungi keluarganya agar segera membatalkan pernikahannya dengan Meiza. Meskipun dia mencintai Meiza, tapi pantang baginya untuk mengemis cinta.

__ADS_1


__ADS_2