
"Bagaimana tuan?" Gadlyn tersenyum antusias, dengan kedua tangan didepan dada.
Rakha yang tengah menikmati teh buatan Gadlyn itu, cukup mengakui bahwa gadis didepannya sudah lebih pandai membuat teh dan kopi, meski belum pas dengan selera lidahnya.
"Berapa sendok gula yang kamu masukkan?" tanya Rakha.
"Satu setengah sendok tuan." Jawab Gadlyn.
"Rasanya sudah jauh lebih baik, tapi belum pas kalau mau menuruti selera lidahku. Teruslah belajar!" ucap Rakha yang membuat senyum di bibir Gadlyn hilang seketika.
"Iya." Jawab Gadlyn lesu sembari berbalik badan.
"Kalau kamu berhasil membuatnya jauh lebih baik lagi, maka pada saat itu juga kamu akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik," ujar Rakha.
"Sungguh?" tanya Gadlyn antusias.
"Tentu saja. Aku bahkan akan memberikan hadiah untukmu,"
"Hadiah?" tanya Gadlyn.
"Ya. Anggap saja hadiah itu kamu menangkan karena mengikuti lomba meracik teh atau kopi." Jawab Rakha.
"Baiklah. Saya tunggu semua janji tuan itu," ujar Gadlyn.
Gadlyn keluar ruangan itu dengan hati gembira. Sementara Rakha menyunggingkan senyumnya saat melihat kepolosan Gadlyn.
"Kadang aku sempat bertanya-tanya. Apa betul kamu itu lulusan luar negeri? sudah melihat dunia luar, seharusnya dia tidak sepolos itu , bahkan kamu selalu dimanfaatkan mantan kekasihnya itu," ucap Rakha lirih.
Tring
Tring
Tring
Suara ponsel Rakha berdering, yang ternyata berasal dari Yure.
"Ada apa?" tanya Rakha.
"Makan siang di luar nggak?" tanya Yure.
"Kenapa? apa ada yang mau di ceritakan? kalau ada yang ingin di ceritakan, sebaiknya pesan makanan kantin saja."
"Baiklah." Jawab Yure.
Rakha mengakhiri panggilan itu, dan membuat panggilan untuk Gadlyn, agar gadis itu memesankan makanan di kantin.
"Sekarang ada apa lagi?" tanya Rakha, saat melihat Yure berwajah lesu.
"Sudah seminggu ini aku bolak balik ke kantor gadis itu, hanya ingin bicara dengannya. Tapi dia sama sekali tidak ingin menemuiku dengan berbagai alasan." Jawab Yure.
"Dasar bodoh. Jadi hanya karena dia berkata tidak ingin menemuimu, jadi kamu pulang begitu saja?" tanya Rakha.
"Ya aku harus bagaimana? apa aku harus nungguin dia sambil berlutut di depan kantornya, agar dia mau menemuiku?"
"Tolol kok dipelihara Yur. Emang kalau besar si tolol mau kamu sekolahin? kamu kan bisa nungguin dia ditempat parkir. Atau bila perlu blokir jalannya, saat dijalan raya." Jawab Rakha.
"Benar juga. Kenapa aku nggak kepikiran ya?"
"Kamu bukannya nggak kepikiran, bilang aja kamu gengsi." Jawab Rakha.
__ADS_1
"Lagipula kenapa kamu begitu kekeh ingin mendekati gadis itu? yang jelas-jelas nggak perduli sama kamu. Kamu kan sudah berusaha, kalau dia masih nggak mau, ya bukan salah kamu lagi," ujar Rakha.
"Namanya juga cinta Ka." Jawab Yure.
"Cinta juga nggak boleh maksa Yur. Kalau memang dia nggak mau, ya nggak boleh memaksakan diri."
"Itulah sebabnya aku mau bertemu dia sekali saja. Aku nggak mau setelah aku berpaling ke wanita lain, dia baru mencariku dan merusak kehidupanku yang baru." Jawab Yure.
"Benar juga. Bisa jadi kayak di film-film Yur," ujar Rakha terkekeh.
"Entah apa yang akan terjadi, saat Rakha tahu, kalau gadis yang sedang kami bicarakan adalah adiknya sendiri. Apa dia akan langsung mencincangku? memikirkannya saja, aku agak ngeri-ngeri sedap," batin Yure.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
Gadlyn terlihat membawa nampan, berisi makanan yang Rakha pesan.
"Ehemm...Gadlyn," sapa Yure.
"Iya tuan." Jawab Gadlyn sembari meletakkan makanan diatas meja.
"Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Yure.
"Eh?" Gadlyn terkejut dengan pertanyaan Yure, namun Rakha tampak biasa dan mulai menikmati nasi dengan lauk pauk.
"Be-Belum tuan." Jawab Gadlyn.
Bruuuaaarrr
Makanan yang Rakha kunyah nyembur ke wajah Yure.
"Yang benar aja dong Ka? muka ini, bukan tempat sampah," Yure membersihkan nasi yang sempat menempel diwajahnya.
Gadlyn sekuat hati menahan tawa, saat melihat kelucuan yang terjadi antara dua pria tampan didepannya.
"Maksudmu apa nanyain dia begitu?" tanya Rakha.
"Loh kenapa? dia kan jomblo? kenapa kamu yang keberatan? kamu cemburu?" tanya Yure.
Rakha terdiam dan berpura-pura sibuk dengan makanannya. Dia tidak menyangkal ataupun mengiyakan. Membuat Gadlyn mengerutkan dahinya.
"Sudah ku duga, pria kaku ini menyukai Gadlyn. Baru di test gitu aja udah kebakar," batin Yure.
"Keluarlah!" Rakha berkata dengan wajah datar, sementara Gadlyn langsung pergi dari situ.
"Aku hanya bercanda Ka. Aku tahu kamu menyukai dia kan?" tanya Yure.
"Jangan asal bicara. Gadis itu bisa besar kepala nanti."
"Lalu respon macam apa tadi?" tanya Yure.
"Aku hanya terkejut saja. Pasalnya kamu baru saja bercerita tentang gadismu itu, sekarang malah nembak gadis lain."
Mendengar itu Yure jadi tertawa keras, dan langsung di jejali Rakha pakai kerupuk.
__ADS_1
*****
Sesuai yang Rakha sarankan, saat ini Yure tengah berada di kantor Ezka kembali. Seperti sebelumnya, Kali ini Yure masih mendapat penolakkan dari Ezka. Namun Yure sudah bertekad, bagaimanapun caranya dia harus bertemu dengan gadis itu.
"Apa pria itu sudah pergi?" tanya Ezka pada serketarisnya.
"Sudah bu." Jawab Intan.
"Keluarlah!" ucap Ezka yang kembali ingin menyendiri.
"Kenapa kamu belum menyerah juga Yure. Apa yang ingin kamu bicarakan sebenarnya? aku benar-benar belum sanggup memperlihatkan wajahku didepanmu. Sebagai seorang kakak, aku merasa sudah memberikan contoh yang tidak baik," batin Ezka.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, saat Ezka keluar dari ruang kantornya. Ezka dengan iseng memutar-mutar kunci mobilnya dengan jari telunjuk, namun naas kunci itu terjatuh tidak jauh dari mobilnya.
Saat akan memungut kunci itu, sepasang kaki datang tepat didekat wajah gadis itu. Perlahan sebuah tangan terulur dan membantu Ezka memungut kunci itu.
"Apa sudah puas menghindariku?" tanya Yure.
Mendengar suara itu, Ezka mendongak seketika dengan tubuh yang menegang. Ezka kemudian bermaksud ingin menyambar kunci mobil yang ada di tangan Yure, namun secepat kilat pria itu menjauhkan kunci itu dari jangkauan Ezka.
"Katakan! kenapa kamu memperlakukan aku begini?" tanya Yure.
"Memperlakukan seperti apa? jangan mengingat-ingat hal yang sama sekali nggak pantas di ingat," ujar Ezka.
Mendengar ucapan Ezka, tentu saja membuat Yure jadi tersinggung.
"Tidak pantas di ingat? hah...bodohnya aku, aku pikir kamu memikirkan seperti apa yang aku pikirkan. Tapi ternyata cuma diriku saja yang naif. Aku pikir kamu tidak ingin menemuiku, karena takut aku tidak mau bertanggung jawab atas kejadian itu." ucap Yure
"Tapi ternyata aku salah. Kamu seolah menganggapku barang bekas yang tidak berguna, setelah puas kamu pakai," sambung Yure.
Sungguh Ezka tidak mengerti apa yang Yure bicarakan. Di saat Yure lengah, Ezka merampas kunci mobilnya dari tangan pria itu.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Intinya jangan lagi mengungkit hal itu, karena aku juga tidak mau mengingatnya. Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan menyalahkanmu atas kejadian malam itu," ucap Ezka.
"Apa kejadian malam itu sama sekali tidak memiliki arti tersendiri bagimu?" tanya Yure.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu dengar dariku? kamu itu sudah kuanggap seperti adikku sendiri, itulah sebabnya aku tidak membuat perhitungan denganmu," ucap Ezka.
"Tapi aku tidak. Sejak kejadian itu aku benar-benar menganggapmu seorang wanita. Ezka, mari kita coba membuat suatu hubungan yang normal. Aku tahu aku bukan tipemu, tapi aku akan berusaha mengisi semua kekosongan yang ada di hatimu," ujar Yure.
Mendengar ucapan Yure, bukannya terharu, Ezka malah tertawa dan mengacak-acak rambut Pria itu.
"Adikku sudah dewasa ternyata. Tapi bagiku hari ini kamu adalah adikku, besok adikku, dan selamanya akan tetap menjadi adikku," ucap Ezka yang membuat hati Yure berdenyut sakit.
Ezka memasuki mobilnya, namun tanpa dia duga Yure juga ikut masuk kedalamnya.
"Pulanglah. Besok-Besok kita bisa bicara lagi, kakak janji tidak akan menghindarimu lagi," ujar Ezka.
Yure tidak menjawab ucapan Ezka, tapi malah menatap gadis itu dengan intens. Ditatap seperti itu, tentu saja membuat Ezka jadi gugup.
"Kenapa kamu begitu menganggap remeh ucapanku? seolah-olah semua yang aku katakan, sama sekali tidak berbobot bagimu?" tanya Yure.
"Yur...."
"Padahal jelas-jelas kita melewati malam itu dengan sangat menggairahkan. Bahkan kita melakukannya hingga berkali-kali. Aku yakin kamu benar-benar menginginkanku malam itu,"
"Cukup!" hardik Ezka.
Ezka menghentikan ucapan Yure, yang membuatnya jadi malu sendiri saat mendengarnya.
__ADS_1
Go be continue...🤗🙏